Senin, 29 Juni 2015

Aku merindu!

Karena Ranu Kumbolo adalah kamu!
Aku merindu!

Memandang secara langsung mata belok yang elok berbinar dengan sejuta pesona cahaya kemanjaan. Video call dan foto-foto itu antibiotik murahan, karena toh  mereka cuma mampu menunda aku dirudung sakit ini, tak pernah secara serius menyembuhkan virus kangen yang tak terpermaikan ini.  Obatku cuma satu: kehadiranmu!


Aku merindu!

Menggandeng tangan lemah lembut itu. Karena ketika itulah neuron-neuron otakku mengirimkan informasi tentang sebuah perasaaan bangga.  Bangga ketika merasakan bagaimana diriku diberikan kesempatan untuk melindungi dan menawarkan kekuatanku. Bukankah panggilan seorang pria untuk mengamankan keindahan? Dan, bukankah kaulah keindahan yang paling indah yang mampu kutemukan di dalam ciptaan-Nya?


Aku merindu!

Pada pelukan-pelukan mesra romantis yang menimbulkan badai serotonin, dopamin, oxytocin menyapu sekujur pembuluh darahku. Itulah dimensi waktu dimana aku tak memandang kamu sebagai objek atau benda yang bisa dijajah serta dieksploitasi seenaknya. Namun sebagai subjek yang utuh yang kuhormati dengan kasih, cinta, sayang dan kemanusiawiaan yang sesungguhnya. Bersamamu, aku menjadi Marxist dalam tataran paling personal!


Aku merindu!

Jalan berdua bersama-sama tak mempedulikan manusia-manusia di sekelilingku. Sesungguhnya, berjalan bersamamu adalah petualangan yang paling mendebarkan yang pernah ada. Mungkin, seven summit adalah ide-ide usang dan gagasan dari mereka yang kesepian karena terlalu lama asyik sendiri.  

Semua jadi hilang kalau kau ada! Sajak-sajak Shakespeare menjadi sastra murahan yang layak masuk tong sampah karena toh aku sudah memiliki puisi terbaik di dunia ini: dirimu. Lukisan-lukisan Michelangelo dan DaVinci adalah sejarah yang tak perlu digubris karena toh wajahmu adalah lukisan semesta; pembuat sejarah yang merevolusi arah duniaku. Bach, Mozart, Chopin, The Beatles, Metallica seumpama tukang nyanyi di WC yang pantas dibunuh karena suaranya mengganggu pendengaranku, bukankah hanya suara dan denting tawamu yang sanggup kudengar?  Bahkan kemegahan konstelasi galaksi Bimasakti dan Adromeda hanyalah siput kecil tak berguna, bagiku kaulah rangkuman dari segala kemegahan itu! Ah, segala yang hebat di dunia ini bahkan di semesta ini, tak cukup berarti untuk menggantikan keberadaanmu di sampingku. Mungkin (dan seharusnya, ah, meskipun sebuah pergumulan untuk mengakuinya!) hanya Sang MahaCinta yang bisa mengalahkanmu.

Kau adalah bagaskaraku, langit biru yang menggaduh meneduhkan jiwa yang sudah lama menderita kesenderian. Kau laksana hujan deras yang menyapa tanah tandus yang gersang karena bertahun-tahun dihantui ketakutan untuk membangun sebuah ikatan. Kau adalah revolusi. Penggerak dari turbulensi. Pemuas dari dehidrasi. Penawar dari ekstaksi. Jawaban dari sebuah eksistensi. Mesias penyelamat sepi.


Ah, aku begitu merindu!






#NP "Long Distance" Bruno Mars

Untukmu!

Kamis, 28 Mei 2015

Catatan Retret Pribadi: In The Valley


When You lead me to the valley of vision
I can see You in the heights
And though my humbling wouldn't be my decision
It's here Your glory shines so bright
So let me learn that the cross precedes the crown
To be low is to be high
That the valley's where You make me more like Christ
Let me find Your grace in the valley
Let me find Your life in my death
Let me find Your joy in my sorrow
Your wealth in my need
That You're near with every breath
In the valley
In the daytime there are stars in the heavens
But they only shine at night
And the deeper that I go into darkness
The more I see their radiant light
So let me learn that my losses are my gain
To be broken is to heal
That the valley's where Your power is revealed
You near to me. .. .

Akhir-akhir ini aku merasa nestapa. Bukan galau gelisah merana romantisme anak-anak remaja tentu, tetapi berkaitan dengan sesuatu yang lebih eksistensial. Pertanyaan-pertanyaan dasar tentang hidup: mengapa saya mengalami begini dan tidak begitu, Mengapa bapakku meninggal saat aku baru seminggu SMA? Mengapa kakakku yang paling dekat harus meninggal karena kanker,sehingga bahkan tak sempat melihatku wisuda S-1 teologi? Mengapa aku pelayanan di tempatku saat ini dengan kesulitan ini dan itu? Dan segala macam pertanyaan mengapa lainnya. . .
2 hari ini aku menyepi, retret pribadi di sebuah rumah retret di daerah Jedong, Wagir, Kabupaten Malang. Membaca buku Richard Foster, Streams of Living Water, berdoa syafaat untuk pelayanan (sesuatu yang begitu terlupakan), membaca ulang Wahyu-Hosea-Galatia, menulis jurnal refleksi pribadi, jalan-jalan mengelilingi lokasi yang hijau dan alami, tidur lebih banyak daripada biasanya. . . . itulah serangkaian kegiatan yang kulakukan. Semua hanya untuk mencari pemulihan fisik, mental dan spiritual. Terpujilah Tuhan, yang memberkati retret pribadi ini. Dalam sunyi dan kesederhanaan, suara-Nya menggema, kehadiran-Nya membekas, dan energi Ilahi itu kutemukan.
Puncaknya malam ini, sembari mempersiapkan khotbah untuk hari Minggu ini, aku iseng-iseng memutar lagu-lagu di laptopku. Dan tanpa sengaja memutar lagu In The Valley di atas. . lagu yang menyerap kesadaranku begitu sangat, lalu aku merasakan sapaan-Nya, jawaban lembut-Nya atas pertanyaan-pertanyaan nestapa-eksistensial dalam diriku: karena Aku ingin kamu serupa dengan Aku? Aku menangis terisak dan merasakan kehadiran-Nya begitu dekat, amat dengat sangat dekat. . . Sungguh, tidak ada yang lebih berharga di tengah dunia ini, selain kehadiran Allah dalam Kristus yang begitu dekat dan mengubahkan hidup, memenuhi jiwa yang kosong, menghangatkan hati yang sendu, memulihkan batin yang terluka oleh dunia.
Kepada kawan-kawan seperjuangan yang memperjuangkan panggilan revolusioner untuk memberitakan Kabar Baik, memuridkan orang, mewujudnyatakan kerajaan Allah, seringkali mengerjakan panggilan ini begitu melelahkan, jika engkau lelah, pulanglah ke pelukan-Nya, pulanglah ke rumah batin paling nyaman dan aman yaitu kasih-Nya. Tanpa itu, kita akan mudah berbelok arah, dikacaukan bisingnya dunia, tertipu oleh diri sendiri, dihancurkan oleh nafsu dan kekuasaan, bahkan mungkin terperangkap dalam kebohongan harta, hidup dalam kemunafikan serta kosmetik rohani . . . Sungguh kawanku, pulanglah!

Oh Tuhan, aku mau jadi hamba yang murni,
Terbakar oleh hati yang dipenuhi kasih
Menghidupi ketaatan sebagai tanda pengudusan
Berjalan bersama Roh Kudus, yang bekerja dengan aktif-kreatif
Memperjuangkan keadilan sosial, rekonsiliasi rasial, pemberdayaan kaum miskin-tertindas
Membaca dan mengajarkan firman Tuhan serta memuridkan dengan setia
Hidup inkarnatif, menghadirkan realitas spiritual yang nyata dalam dunia material yang penuh dengan dosa
Amin.

*Rumah Khalwat Betlehem, ds. Jedong, Wagir, Kab. Malang. 28 Mei 2015. Doa ini kutulis setelah menyelesaikan Streams of Living Water, setiap kalimatnya adalah definisi dan ciri khas dari 6 tradisi spiritualitas Kristen yang ada dalam sejarah panjang Kekristenan.



Kamis, 19 Maret 2015

Pemuridan Sebagai Aksi Revolusi



Kagetkah anda mendengar judul tulisan ini? Pemuridan sebagai aksi revolusi? Apa maksudnya? Tidakkah di telinga kita, aksi revolusi menjurus dengan gerakan-gerakan anarkis mahasiswa, tindakan penggulingan terhadap pemerintahan otoriter sebagaimana yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan dunia Timur Tengah belakangan ini.  Dan, bagi orang-orang mapan yang asyik dengan kesenangannya sendiri, kata revolusi biasanya dianggap sebagai sesuatu yang lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Kata revolusi pun dipandang picik dengan negatif, kematian aktivis mahasiswa Sondang Hutagalung dengan aksi bakar dirinya yang dipandang sebagai sebuah kenaifan adalah buktinya.

Tetapi, di sini saya tetap mengajukan bahwa pemuridan, dalam konteks ini, tentu saja pemuridan Kristiani, pada dasarnya adalah sebuah aksi revolusi.  Penjelasan Kamus Besar Bahasa Indonesia menguraikan bahwa revolusi adalah berkaitan dengan perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang tertentu, sedangkan kata revolusioner adalah kecenderungan untuk menghendaki perubahan dalam tataran mendasar secara cepat. Maka, aksi revolusi adalah sebuah tindakan atau kegiatan yang menghendaki perubahan yang mendasar dalam suatu bidang. Nah, bukankah dengan definisi tersebut, memasukkan pemuridan sebagai sebuah aksi revolusi adalah absah? Ya, jelas! Tentu saja!


Pemuridan adalah panggilan dan kewajiban bagi semua orang Kristen. Yesus dari Nazaret tidak menyuruh pengikut-Nya untuk membangun agama dan menjadikan semua orang Kristen, tetapi Ia menghendaki: jadikanlah semua bangsa murid-Ku! (Mat. 28:20). Seorang murid adalah seseorang yang selalu mengikuti kemana arah langkah gurunya pergi. Kemana tutur-ucap, laku-tindak, pikir-pandang gurunya tertuju, itulah yang murid tuju. Seorang murid Kristus adalah seorang yang mencoba belajar dari Kristus, dan menjadi sama serupa dengan Kristus. Kalau begitu, pemuridan adalah usaha untuk menjadikan seseorang menjadi sama dengan Kristus.


Melihat deskripsi secuil saya tentang pemuridan di atas, maka pungkaslah bahwa pemuridan itu adalah aksi revolusioner. Menjadi serupa dengan Kristus itu adalah menghendaki perubahan mendasar terjadi! Alasannya? Setidaknya ada dua: 1. Menjadi serupa dengan Kristus itu merubah diri. 2. Menjadi serupa dengan Kristus itu merubah dunia dan sekitarnya. Segala sesuatu yang ada di dalam diri kita diubah seperti Dia, kemudian, dengan internalisasi karakter Yesus itulah kita melangkah menuju transformasi dunia di sekitar kita. Benarlah kalimat seorang teolog Jerman bernama Juergen Moltmann: “Christian life is a form of practice which consists in following the crucified Christ, and it changes both man himself and the circumstances in which he lives.”

Saya hendak pungkas wacana di sini, pemuridan jelas adalah sebuah aksi revolusi yang perlu, harus, dan wajib dikerjakan oleh orang Kristen, lebih-lebih mahasiswa Kristen, yang selalu, selalu, dan selalu dituntut untuk menjadi agen perubahan. Gereja seringkali lupa dan tak acuh pada kepentingan pemuridan, gereja mengalihkan diri pada hal-hal yang sekunder namun dianggap primer (bangun gedung, KKR, dst). Harap saya, mahasiswa Kristen sadar akan hal yang fundamental untuk mereka kerjakan: pemuridan. Oleh karena itu, mulailah melangkah dengan membentuk komunitas-komunitas KTB di mana kita bisa hidup bersama, saling membangun di dalam kesatuan tubuh Kristus. Bagi mereka yang belum terlibat dalam kehidupan KTB, ambillah kesempatan untuk hidup ber-KTB, karena ketika anda mempunyai hidup bersama, maka sesungguhnya anda sedang terlibat dalam sebuah aksi revolusioner bagi Kerajaan Allah. Diri anda diubah, keluarga anda diubah, lingkungan anda diubah, bangsa dan negara anda diubah, sampai seluruh dunia anda diubah.

Pertanyaan akhirnya: bersediakah anda?


*tulisan ini ditulis untuk sebuah persekutuan kampus, kisaran aku tingkat akhir di SAAT

Berdialog dengan Soe Hok Gie (6) : Donna, Donna, Donna [repost dari FB]

Akhirnya ada waktu juga untuk menulis kelanjutan serial "Berdialog dengan Soe Hok Gie."  Kali ini, diskusiku dengan Soe hadir di Kota Bandung, yang disebut-sebut Paris Van Java.  Dan menariknya, buku Catatan Seorang Demonstran tak kubawa, buku Soe: Sekali Lagijuga tidak.  Tetapi ternyata di tengah-tengah dinginnya udara Bandung, aku terbawa dalam perenungan dan diskusi singkat bersama Soe melalui jalan lain. Jalan lain itu adalah sebuah lagu berjudul "Donna-Donna."  Mengejutkan.  Donna-donna adalah salah satu lagu yang dikutip oleh Soe dalam catatan hariannya.  Dalam film Gie, lagu ini dinyanyikan oleh Sita RSD.  Harus kucantumkan dulu liriknya:

On a waggon bound for market
there's a calf with a mournful eye.
High above him there's a swallow,
winging swiftly through the sky.

Reff:
How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summers night.

Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.

Stop complaining!??? said the farmer,
Who told you a calf to be?
Why don't you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?

Repeat Reff

Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly.


Mengapa lagu ini muncul dalam catatan harian seorang Soe, demonstran, aktivis, pemikir, seorang ateis-moralis, seorang sejarahwan, orang melankolik yang peduli pada bangsanya, seorang pendobrak yang tidak pandang bulu, seorang yang kesepian dalam perjuangannya? Mengapa? Pertanyaan ini muncul dalam diri saya.  Maka dari itu, tulisan ini adalah sebuah tindakan hermeneutis, sebuah tafsiran mengapa lagu itu muncul dalam catatan harian Soe.  Sayang sekali, CSD tidak ada di tangan.  Mungkin jika saya tahu tanggal tepatnya, tafsiran ini akan lebih akurat. Tapi mari kita coba!

Segera saja saya membuka Mbah Google, memohon pertolongan dari dukun informasi yang sangat keren itu.  Nah, kamus Wikipedia ternyata menguraikan dengan sangat panjang lebar tentang lagu ini.  Saya enggan menerjemahkannya, jadi beberapa bagian penting akan langsung saya kutip.

Pertama-tama, ternyata Donna-donna berasal dari bahasa Ibrani, dan memang bagian dari seni Yahudi. Tentu hal ini mengejutkan saya sebagai seorang sarjana Kitab Suci. 

"Donna Donna (דאַנאַ דאַנאַ "Dana Dana", also known as דאָס קעלבל "Dos Kelbl" — The Calf) is a Yiddish theater song about a calf being led to slaughter. The song's title is a variant on Adonai, a Jewish name for God."

Lalu, tentang sejarahnya,

"Dana Dana was written for the Aaron Zeitlin stage production Esterke (1940–41) with music composed by Sholom Secunda. The lyrics, score, parts, and associated material are available online in the Yiddish Theater Digital Archives.The lyric sheet is in typewritten Yiddish and handwritten Yiddish lyrics also appear in the piano score. The text underlay in the score and parts is otherwise romanized in a phonetic transcription oriented toward stage German."

Sayang sekali tidak jelas dalam latar belakang bagaimanakah lagu dengan komposisi musiknya ini dimainkan, saya tidak mendapatkannya lebih lanjut.  Tetapi ada satu fakta menarik bahwa lagu ini diterjemahkan ke berbagai bahasa.

"Secunda translated Dana Dana into English (changing the vocalization of dana to dona), but this version failed to gain popularity. The lyrics were translated again in the mid-1950s by Arthur Kevess and Teddi Schwartz, and the song became well known with their text. It became especially popular after being recorded by Joan Baez in 1960, Donovan in 1965 and Patty Duke in 1968.

Dana Dana has been translated into and recorded in many other languages including German, French, Japanese, Hebrew, Russian and Vietnamese. It has been sung by performers including Nechama Hendel, André Zweig, Chava Alberstein, Esther Ofarim, Theodore Bikel, Karsten Troyke, Sumi Jo, Claude François, and Hélène Rollès together with Dorothée."

Selesai informasinya? Oh tunggu, baru saja saya membuka website Yahudi (http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/judaica/ejud_0002_0006_0_06094.html) yang mengisahkan tentang kisah Esterke (kisah yang menjadi tempat di mana lagu ini dimainkan dan dinyanyikan).  Pun, Esterke adalah judul pergelaran teaternya, barangkali seperti Sendratari Ramayana di Borobudur.  Ternyata Esterke mengisahkan perjalanan kehidupan seorang wanita Yahudi yang berasal dari sebuah desa di Polandia, yang menjadi istri dari Raja Polish, Casimir the Great (1310–1370).  Esterke adalah seorang wanita yang sangat cantik, dimana kecantikannya memikat Raja Casimir.  Ending cerita cinta ini tidak jelas, ada yang bilang Esterka mati bunuh diri setelah sang Raja mati. 

Tapi yang seharusnya kita tahu adalah makna dari kisah ini. Dalam literatur yang lain (http://www.yivoencyclopedia.org/article.aspx/Esterke), menyebutkan bahwa kisah ini menunjukkan bagaimana sebuah pernikahan yang bertujuan untuk menyelamatkan sebuah bangsa besar yaitu Yahudi. Hasil pernikahan dari Esterke dan Raja Casimir adalah dua orang anak laki-laki, yang menjadi Kristen dan dua orang anak perempuan, yang menjadi Yahudi.  Makna dari kisah ini adalah sebuah an act of self-sacrifice dimana pengorbanan diri seorang Esterke, essential for the survival of the entire Jewish community.  Sehingga, sebenarnya kisah Esterke bercerita tentang pengurbanan diri seorang wanita yang bertujuan menyelamatkan komunitas Yahudi! Mirip-mirip dengan kisah Ester dalam kisah Alkitab Perjanjian Lama!  Dalam konteks kisah inilah, saya akan menafsir lagu Donna-donna, yang dipakai oleh Soe.

Ingat kembali informasi yang saya cantumkan di atas, bahwa lagu ini diterjemahkan dalam berbagai bahasa.  Barangkali, Soe mendengarkan versi Joan Baez, seorang American folk-singer, songwriter, dan activist, yang menyanyikan lagu ini kisaran tahun 1960, tahun dimana Soe masih sangat aktif.  Harus sadar pula, bahwa Soe adalah seorang pecinta folk-song.  Jadi Soe hampir pasti mendengarkan versi Joan Baez.

Oke. Selanjutnya kita lihat lirik Donna-donna ini! Saya akan menafsirnya dalam terang konteks kisah Esterke dan juga lansung mengaplikasikannya pada kehidupan Soe.


On a wagon, bound for market
There's a calf with mournful eye
High above him there's a swallow
Winging swiftly through the sky

Seekor anak sapi yang murung matanya, memandang burung layang-layang terbang di angkasa.  Bagi saya, bait pertama ini menyatakan kisah Esterke yang mungkin merasa murung dan sedih, ketika harus mengurbankan dirinya menikah dengan Raja Casimir.  Inginlah ia terbang ke angkasa, yang tak ada seorangpun yang bisa mengenggam, menguasai dan mengekploitasinya. Lalu Soe? Mungkin Soe menyanyikan bait ini, ketika ia merasa kesepian! Ia, yang merasa harus selalu berkorban demi bangsa dan negaranya, demi perjuangan yang adalah pacarnya, adalah a calf with mournful eye, seekor anak sapi yang bernama Donna-donna itu. Seekor korban, atau seorang yang berkorban!



Refrein:
How the winds are laughing
They laugh with all their might
Laugh and laugh the whole day through
And half the summer's night

Nah, angin pun tertawa-tawa, menertawai seekor anak sapi yang hendak dibunuh untuk dikurbankan. Sepanjang hari angin itu tertawa, tertawa lebar! Barangkali Soe, merasa ditertawai oleh dunia, atau oleh musuh-musuhnya. Seolah-olah perjuangannya, (yang dikerjakan melalui tulisan, dsb) adalah sia-sia belaka! Soe pun merasakan apa yang namanya kesepian!


Donna, Donna, Donna, Donna
Donna, Donna, Donna-dai
Donna, Donna, Donna, Donna
Donna, Donna, Donna-dai


Oh Soe! Apa yang dikau rasakan. Ketika engkau menantang dunia, dan terhujam dalam kesepian.  Apakah sedih? Menangis? Atau justru membuatmu semakin ingin memukul dunia? Dunia yang kejam, tidak adil, dan jelas tidak sesuai dengan mimpi-mimpimu??

Stop complaining, said the farmer
Who told you a calf to be
Why don't you have wings to fly with
Like the swallow so proud and free

Akhirnya, seekor anak sapi memang harus mati sebagai kurban. Seorang Esterke harus menikah demi keselamatan komunitasnya.  Seorang Soe, hidupnya tak merasakan kebahagiaan, karena ia telah berikrar mengurbankan diri, memberikan hidup bagi sesamanya.  Ia memang harus melakukannya. Itukah yang namanya panggilan hidup?


Calves are easily bound and slaughtered
Never knowing the reason why
But however, treasure freedom
Like the swallow who learned to fly

Ya, Never knowing the reason why, Seekor anak sapi, seorang Esterke, seorang Soe, barangkali tidak akan mengerti mengapa mereka yang harus menderita, dan berkorban.  Tetapi nyanyikanlah, treasure freedom, Like the swallow who learned to fly.  Milikilah kebebasan itu! Bagi saya, menjadi seekor anak sapi, Esterke, dan seorang Soe, yang berkurban, menjadi korban, mengorbankan hidup demi sesuatu yang besar, justru itu menjadi bebas-sebebasnya. Manusia menjadi manusia yang sesungguhnya ketika hidupnya memakna dengan menjalaninya sebagai sebuah hidup yang dipersembahkan untuk manusia-manusia yang lain.  Dengan itulah manusia tak menjadi egois, dengan itulah manusia tak menjadi individualis dan materialis sebagaimana impian modernisme, dengan cara itulah, manusia menggapai an sich-nya!


Saya adalah seorang anak muda, yang berikrar untuk mengorbankan hidup saya demi sesama. Tak perlu lagi mencoba menggapai uang, harta, kemapanan hidup. Yang saya inginkan, adalah hidup saya berarti demi sesama. Itulah mengapa saya menapak jalan panggilan saya yang saat ini. Dan saya, sama seperti Soe, seringkali kesepian, seringkali mungkin merasa dunia sedang menertawai saya.  Keraguan menghinggapi saya untuk saya terus menapak jalan ini.  Mungkin, memang ada beban yang terlalu berat untuk ditanggung seorang anak muda berumur 21 tahun.  Karena si anak muda ini terlalu ingin dan memang harus, memikirkan persoalan dunia, gereja, masyakat, politik-sosiao-ekonomi dan banyak hal lainya. 

Tapi justru itulah, ketika saya menafsir lagu ini, berdialog dan berdiskusi dengan Soe dalam tulisan ini, saya merasakan treasure freedom, menjadi pihak, subjek yang bebas, sepenuhnya bebas! Dan malah diyakinkan untuk terus mengurbankan diri, waktu, dan energi untuk sesama. Di situlah saya merasa bagaikan burung yang terbang bebas di angkasa, menari di tengah cakrawala langit yang terhampar di atas sana. Terbang bebas. Tanpa ada kabel-kabel lisrik, gedung-gedung pencakar langit dan senapan angin yang mengganggu saya.

Soe! Terimakasih sekali lagi. Engkau yang mati muda, tetapi mati sebagai pahlawan, karena telah memberikan dirimu sepenuh-penuhnya bagi sesama. Soe mengingatkan saya melalui lagu ini, untuk terus berjuang, tidak menyerah.  Memperjuangkan mimpi-mimpi, melawan dunia yang semakin kacau, banal dan gelap ini, dengan jalan yang saya tempuh.

Di penghujung tulisan ini, entah mengapa saya jadi ingat kalimat Guru dan Junjungan saya, Yesus dari Nazaret
Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Ya, seorang manusia, menjadi manusia seutuhnya ketika ia mengurbankan hidupnya sendiri demi sesamanya.  Bagi mereka yang sedang berjuang, jangan takut! Kita berada dalam jalan yang benar.





*Tulisan ini adalah serial tulisan yang saya tulis dalam rangka berdialog dengan Soe Hok Gie, intelektual muda Indonesia, yang hidup kisaran tahun 1960-an.  Ia meninggal dunia pada umur yang masih muda, 27 tahun, di puncak Semeru.  Saya rasa, sangat baik sebagai seorang Indonesia, dan anak muda yang lagi belajar, untuk berdialog dengan pemikiran dan kegundahan hati seorang Soe.  Saya tulis pula khusus bagi sahabat saya, Zadok Elia, anak muda yang juga sedang memimpikan akan Indonesia yang lebih baik. Sumber utamanya tentu saja catatan harian Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, terbitan LP3ES.

Kamis, 12 Februari 2015

Aku Jatuh Cinta Kepada. . .

Kepada perempuan-perempuan pelayan kedai kopi yang selalu menyapa dengan ramah, menawarkan ini-itu tanpa merasa takut untuk tertolak, menghidangkan segelas kopi hitam pekat favorit yang membakar energi kerja.  Senyum mereka terlatih untuk menaklukkan pengunjung pada ketentraman tak terdefinisikan.  Penjelasan mereka tentang ini-itu tidak menggurui, angkuh dan arogan, namun persuasif-dialogis, menempatkanku sebagai subjek yang layak dihargai dan dihormati.

Kepada pramugari maskapai penerbangan yang menegur dengan bijak kepadaku, yang kerap memaksa untuk tetap memakai telepon genggam padahal pesawat tinggal sedikit lepas landas.  Dandanan dan riasan mereka sederhana, pas, koheren dengan seragam mereka. Tidak lebay seperti artis dangdut di pinggiran jalan utara Jawa atau tidak triumfalis seperti para artis dan elit sosial.  Apalagi ketika mereka menjelaskan dengan sederhana prosedur keselamatan dan peraturan penerbangan, maka mereka terlihat sangat cantik! Anggun, berwibawa, berkharisma: membuat kita menurut tanpa merasa dituntut.

Kepada perempuan penyobek tiket bioskop. Ucapan "trimakasih dan selamat menonton" mereka kerapkali menjadi ledakan bintang di bagaskara batin seorang urban yang jenuh dengan rutinitasnya.  Mereka adalah penjaga-penjaga gerbang dari sebuah ruang pembebasan.  Menurutku mereka lebih revolusioner daripada wanita Marxist mana pun. Selalu siaga menunjukkan jalan ketika gelap sudah menguasai panggung pertunjukkan. Seragam hitam mereka elegan, sederhana, tidak seronok dan memancarkan sebongkah kemewahan.

Kepada siapa lagi? Kepada pelayan minimarket yang selalu berteriak "selamat datang-selamat berbelanja!" tanpa tahu apakah aku datang untuk mencuri atau benar sekedar berbelanja.  Kepada penjaga department store yang selalu melayani meskipun aku ribet, repot dan mungkin sering tidak membeli.  Kepada ini, kepada dia, kepada mereka, kepada. .


 . . . . . . . . .



Manusia diciptakan untuk mencintai. Kecintaanmu kepada sesama adalah awal dari membaiknya bumi ini menjadi tempat untuk ditinggali.  Cintailah orang-orang yang kau temui, dimanapun kapanpun; dengan rasa tanpa pamrih, dengan genggaman penghargaan dan kasih.  Tanpa cinta kasih, maka manusia hanya akan hidup dalam kebencian, kegetiran dan eksploitasi sesama.



#Starbucks Braga, Bandung. 

Kamis, 22 Januari 2015

Imitation Game: Homoseksualitas, Kekerasan dan Teologi Relasional


Akhirnya hari ini aku nonton juga Imitation Game, film yang paling kutunggu sejak akhir Desember. Dengan aktor utama Benedict Cumberbatch (sebagai Alan Turing) dan Keira Knightley, film yang ber-genre drama, thriller, dan berdasarkan kisah nyata ini sungguh bikin penasaran bagiku yang doyan teka-teki, atau kisah tentang seorang psikopat-genius. Rating imdb-nya 8.3 dan bagi mereka penggemar film yang bikin "mikir" dan film dengan "kritik sosial" nya tinggi, tentu dengan balutan estetika, sinematografi dan alur cerita yang dibungkus dengan ahli (nggak seperti Blackhat, yang sebenarnya ide dasarnya menggairahkan tetapi karena alur yang begitu lambat, dan sinematografi yang agak mengecewakan, jadi film yang buruk), Imitation Game menjanjikan hiburan yang akan membuat kita setelah keluar dari studio akan tersenyum puas. 

Aku nggak akan review dari sudut pandang ahli pembuat film, atau sineas, biarlah itu menjadi tugas mereka yang menekuni sinematografi dan kritikus film (silahkan liat di sini). Tapi aku lebih suka melihatnya dari perspektif hybrid theologian yang sedang hidup dalam konteks masyarakat perkotaan pascamodern.


1. Persoalan Homoseksualitas Serta Kecenderungan Kita untuk Menilai dan Menyeragamkan


Ternyata pahlawan perang sekutu vs Jerman itu adalah seorang homo! Gay! Gile bener, Inggris pada waktu itu adalah negara yang mencap homoseksualitas sebagai pelanggaran hukum. Akibat ketauan seorang homo, Alan Turing dihukum harus menjalani pengobatan yang bertujuan untuk "membetulkan" kecenderungan seksualitas-nya, supaya hormon yang ada di dalam tubuhnya membuatnya "sama" dengan pandangan sosial masyarakat waktu itu. Menyedihkan, Turing bunuh diri di usia 41 tahun: kesepian, hidup sendiri dalam sunyi tanpa penghargaan yang layak bagi pengorbanannya, dan terus bernostalgia dengan "kekasih" yang ia temukan di masa SMA: Christopher, yang kemudian mewujud dalam sebuah mesin pemecah sandi Enigma, yang membantu Sekutu mengalahkan Jerman.  Kamu tahu, katanya mesin pemecah sandi itu menginspirasi para ilmuwan untuk membuat "Mesin Turing" yang kemudian hari kita sebut sebagai komputer! 

Aku nggak mau ngomong panjang lebar tentang tinjauan teologis atau perspektif biblika atau sosiologis-psikologis tentang homoseksualitas, sudah banyak orang menulis riset tentang hal-hal itu. Namun ini pendapatku: sudah saatnya kita berhenti dari kebiasaan memberi cap buruk pada orang lain, apalagi dengan lensa kacamata kita yang begitu naif. Sudah waktunya, kita berhenti dari kebiasaan "menyeragamkan" orang lain, dan memaksa mereka keluar dari "keunikan", "keberbedaan" yang mereka miliki. Membuat orang lain sama dengan kita memang meminimalisir perasaan terancam dan kuatir yang acapkali menggejala di dalam batin setiap kita. Tapi itu sama dengan mencederai kemanusiaan (humanity). Guruku dari Nazaret, Seorang manusia sejati, selalu menerima mereka yang dianggap "berbeda" oleh konteks masyarakat. Ia menerima perempuan Samarian, pemungut cukai, orang berdosa dan kaum miskin-tertindas.  Penembakan teroris di Perancis, konflik antar agama, bullly yang sering dilakukan oleh anak-anak SMA adalah berasal dari kecenderungan kita untuk menyeragamkan orang dan menilai mereka dari perspektif kita.

Percakapan interogasi Turing dengan seorang polisi berakhir dengan kalimat jawaban dari detektif itu: "aku tak bisa menilaimu." Dan rasanya, kita juga begitu, kita tak bisa semena-mena menilai orang lain, menghakimi mereka dengan "balok di mata kita." Termasuk kepada kaum homoseksualitas. Saya sebagai seorang pembelajar teologi dengan peferensi teologi konservatif (dan seorang hetero tentu :p) sampai hari ini meyakini, homoseksualitas adalah sebuah "keanehan", untuk tidak mengatakannya sebagai sebuah "kesalahan." Tapi di sisi lain, salahlah jika kita menjadikan mereka sebagai outsider dari masyarakat, hanya gara-gara homoseksualitas. Kaum yang punya preferensi berbeda itu perlu diterima, dihargai sebagai seorang manusia yang sama dengan kita. Tentu tanpa perlu menyetujui preferensi mereka. Sayang gereja pun kadang-kadang sulit menerima orang yang berbeda dan terburu-buru menghakimi mereka sebagai orang berdosa, padahal semua kita adalah orang berdosa, bukan?


2. Kekerasan

Dalam film ini, Turing mengatakan hal yang menarik "kekerasan itu disukai oleh manusia karena menyenangkan." Maka tepatlah seorang antropolog Perancis bernama Rene Girard yang menyatakan bahwa sejarah dunia ini adalah sejarah dimana manusia mencari kambing hitam, dan itu penuh dengan kekerasan.   Turing pernah mengalami kekerasan ketika ia sekolah gara-gara ia murid yang terlalu pintar dalam hal matematika, namun punya kecerdasan berelasi dengan orang yang sangat buruk sekali. Kekurangan dalam berelasi dengan orang lain itu mengakibatkannya kesulitan memimpin timnya. Ia lebih suka bekerja sendiri, tidak sensitif pada perasaan, mengakibatkan ia pernah dibilang sebagai seorang "monster."  Saya rasa monster tidak lahir dalam ruang vakum. Monster tidak lahir dari sebuah ruang kosong, tapi dari sebuah medium narasi historis, yang manusia ciptakan. Monster itu muncul dari kekerasan.

Medan perang Bakumatsu melahirkan Sishio, yang kepengen jadi penerus Battosai si pembantai (nontonlah Rurouni Kenshin).  Kolonialisme dan Imperialisme negara Barat menampilkan sosok kejam Daendles (bacalah novel Pangeran Diponegoro, Remy Sylado) yang mengizinkan matinya banyak budak tanpa bayaran.  Orde Baru mengizinkan jutaan komunis (dan bukan komunis) mati setelah peristiwa 1965. Apa yang dilahirkan dari kekerasan? Dendam, kebencian, a monster.

Maka kita perlu makin meminimalisir kekerasan. Kebiasaan bully orang itu perlu pelan-pelan ditiadakan. Pemakaian kekuatan dalam berbagai bentuk (dalam bentuk intimidasi, apalagi kekuatan fisik) untuk memaksa orang mengikuti apa yang kita inginkan, perlu makin kita hindari. Kita perlu pendekatan yang lebih manusiawi, di sini dialog menjadi sesuatu yang musti. Keterbukaan untuk mendengarkan orang lain terlebih dahulu, menghargai perbedaan pandangan, adalah awal dimana perdamaian dimulai. Stop violence. Maka akan lahir sebuah generasi yang saling menghargai, relasi suami-istri yang lebih sehat dan hubungan antar pemeluk agama yang saling menumbuhkan.

“The Roots of Violence: Wealth without work, Pleasure without conscience, Knowledge without character, Commerce without morality, Science without humanity, Worship without sacrifice, Politics without principles."

(Mahatma Gandi, Young India, 22 October 1925)” 


3. Teologi Relasional

Alan Turing adalah seorang introvert, manusia cerdas tapi rapuh, nggak punya temen untuk berbagi, (Narasi tentangnya membuatku teringat diriku sendiri beberapa tahun yang lalu, seorang introvert yang minim teman, dan terkagum-kagum pada ide gila Marxist-Leninis hahaha).  Akhir hidupnya menyedihkan ,walau pada 2013 Ratu Elizabeth memberikan kepadanya anugerah sebagai seorang pahlawan.  Bahkan cewek cantik sekelas Joan (Keira Knightley aduuuuh cakepnyaaa, sejak Pirates of Caribbean, gue demen sama orang ini), sangat sukar menjalin hubungan dengan Turing. Padahal Joan sudah nerima Turing apa adanya, sayang, karena ketidakterbukaan Turing, relasi itu tak bertumbuh menjadi relasi yang transformasional dan menghantarkannya pada kemanusiaan yang lebih manusiawi.

. . .ministry is about connection, one to another, about sharing in suffering and joy, about persons meeting persons with no pretense or secret motives. It is about shared life, confessing Christ not outside the relationship but within it. This, I learned, was living the gospel.
2 hari ini aku menyelesaikan Revisiting Relational Youth Ministry, buku Andrew  Root yang memikirkan ulang tentang teologi relasional berdasarkan karya Dietrich Bonhoeffer. Lalu aku menyimpulkan begini, kita semua seringkali memandang relasi berdasarkan perspektif material: menguntungkan atau tidak bagi kita. Bagi pelayanan Kristiani, apakah melalui relasi ini kita bisa memberikan pengaruh kepada orang tersebut?  Padahal relasi dalam perspektif teologi inkarnasi lebih dari itu. 

Relasi adalah sebuah konteks, tempat berbagi (place-sharing) bagi kita sebagai pribadi, dengan pribadi yang lain. Tempat berbagi itu akan menjadi sebuah tempat transformational ketika kita menjumpai Sang Transenden, dengan menyadari Yesus adalah person, pribadi yang ada di tengah-tengah relasi tersebut. Tempat dimana kita mengiyakan kerapuhan, kelemahan, keterlukaan kita sebagai manusia dan melangkah menjadi manusia yang seutuhnya, apa adanya.  Place-sharing itu menyadarkan kita akan kepalsuan yang seringkali ditawarkan oleh budaya dan konteks sosial dimana kita ada, dan menghantarkan kita kepada diri kita sendiri, manusia yang apa adanya dan oke dengan diri kita sendiri. Bukankah itu yang Yesus dari Nazaret itu lakukan?

Pengertian tentanag teologi relasional itu menurutku perlu, sebagai fondasi kita mengada di konteks masyarakat urban pascamodern ini, yang makin hari makin anonim, makin hari makin melihat orang berdasarkan seberapa tebal dompet, seberapa berkelas gaya hidup mereka, membedakan orang berdasarkan apa yang mereka miliki bukan apa yang membuat mereka menjadi (mengutip Erich Fromm di sini.)  Andai makin banyak orang menghidupi teologi relasional ini, aku rasa makin minim orang yang mengalami hidup yang menyedihkan seperti Alan Turing, Nietzsche, Marx, dan kawan-kawan lainnya. . . .


Epilog
Kalau kamu seorang mahasiswa, tinggal di perkotaan, nontonlah film ini. Akting Cumberbatch memuaskan sebagaimana ia di Sherlock TV Series, dan Star Wars. Apalagi konteks kita di perkotaan di mana homoseksualitas, transgender, kekerasan, adalah diskursus yang baru saja dimulai, mungkin film ini akan sedikit mencerahkan kita.

Akhir kata aku ingin mengutip konfesi GKI bagian kedua entah poin keberapa yang berbunyi demikian : "Kami percaya kepada Yesus Kristus. . . . yang mengasihi tanpa diskriminasi."


#Killiney Kopitiam, Grandcity Mall, Surabaya. 23 Januari 2015

Senin, 12 Januari 2015

12 Hal Bijak Orang Kristen Masa Kini

Well, saya tertarik nulis dengan judul ini untuk menanggapi tulisan seorang kawan di dunia maya, yaitu https://krisnanda.wordpress.com/2015/01/10/12-hal-bodoh-yang-gw-percaya-sebagai-orang-kristen/ (yang belum baca, baca dulu yak!).  Saya nemu tulisan ini di timeline Facebook saya, waktu saya share ke beberapa rekan pemuda saya menemui tanggapan yang beragam, sebagian besar bersikap tidak suka kepada kalimat-kalimat tulisan itu yang agak "kasar" dan mungkin, "arogan."  


Nah untuk itu, saya menulis 12 hal bijak orang Kristen masa kini dan masa depan. Say thank to Yonatan Tjakrakusuma yang memberi ide nulis dengan judul tersebut.




1. Lebih utuh dalam memandang kekayaan, kesehatan serta kebahagiaan dan sukses di Market Place.

Penulis blog itu (Yoel namanya) mengkritisi pandangan beberapa atau segelintir oknum/gereja kontemporer bahwa orang Kristen harus sukses, kaya dan sehat serta bahagia. 

Saya rasa kita perlu lebih utuh memandang soal-soal tersebut, apa saja? 

Pertama, Tuhan tidak pernah menjanjikan semua orang kaya, sehat dan bahagia dalam perspektif duniawi-materialistik.  Lha wong, Putra Tunggal Allah, mati dalam kondisi tidak punya apa-apa. 12 Murid juga rasanya sama sekali hidup tidak bahagia, bukan? Ayah saya meninggal waktu saya masih SMA, kakak saya yang menyerahkan diri jadi hamba Tuhan penuh waktu, meninggal dunia karena kanker, 2 tahun setelah menyelesaikan studi S-2nya di bidang Konseling. Apakah saya kaya? Nggak, motor aja dipinjemi gereja hehehehe. Dari perspektif dunia, saya nggak punya apa-apa. Tapi ini loh yang Tuhan janjikan: damai sejahtera di dalam Dia (Roma 15:13) dan keselamatan di dalam Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 4:12), dan penyertaan-Nya yang tiap saat (Matius 28:20). Saya rasa itu lebih dari cukup untuk menjalani kehidupan yang rapuh ini.  

Kedua, Alkitab tidak pernah melarang orang untuk kaya (Yesus punya murid orang kaya: Yusuf Arimatea), tapi Alkitab menentang kekayaan yang dipakai untuk menyenangkan diri sendiri atau egoistik.  Saya juga nggak musuhi orang yang kaya lho ya, tapi saya musuhi orang kaya tapi semena-mena dan tidak manusiawi. Pertanyaannya yang perlu kita ajukan adalah: kalau kita punya kekayaan, kesehatan serta kebahagiaan dan sukses di market place, itu untuk siapa? diri sendiri? Atau untuk "menegakkan kerajaan Allah di muka bumi"?



2. Lebih utuh mengerti tentang iman.

Yoel mengkritisi konsep iman yang hanya dipakai untuk mendorong orang untuk berpikir positif memandang segala sesuatu yang terjadi di dunia ini.  Saya rasa perspektif itu tepat, namun hati-hati, jangan terburu-buru melihat bahwa "iman" itu suatu konsep yang korup dan penuh kebohongan. Selama kita masih hidup di dunia yang rapuh dan penuh dosa, kita butuh iman. Apa itu iman? Memang definisinya sangat sulit sekali.  Ibrani 11:1 tidaklah mendefinisikan apa itu iman. Tapi disini saya melihat iman itu dari tiga hal: aspek kognisi, apa/siapa yang kita percayai, aspek hati, keputusan hati kepada siapa kita percaya, juga aspek psikomotorik, tindakan nyata untuk menunjukkan iman itu. Iman Kristen selalu ada dalam tiga aspek tersebut. 

Iman memang bukan sekedar kekuatan positif atau positif thinking yang diajarkan motivator semacam Mario Teguh atau Tung Desem Waringin gitu, tapi iman adalah sebuah relasi berjalan bersama-sama dengan Tuhan. Iman Kristen bukanlah sesuatu yang transaksional, gue doing something and gue dapet sesuatu yang gue pengen, maka Tuhan jadi tukang jual sayur di pasar. Iman, dalam perspektif Alkitab, adalah sesuatu yang relasional dengan Tuhan.  Iman adalah kita tahu bahwa Tuhan itu baik melalui firman-Nya, memutuskan hati kita percaya kepada Tuhan, dan membuktikan bahwa kita percaya kalau Tuhan itu baik dengan perbuatan kita.  Iman yang seperti ini yang akan membuat kita bertahan dalam situasi kehidupan yang paling tidak mengenakkan.



3. Segala sesuatu terjadi di bawah kedaulatan-Nya. Persoalannya kita perlu secara utuh dan sehat membedakan mana yang akibat dari dunia yang penuh dosa dan mana yang tidak.

Yoel mengkritisi kalimat "Everything happens for a reason"yang memang harus kita akui, sering salah pakai tempat dan waktu. Tapi saya percaya everything happens for a reason! Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini berada di bawah kedaulatan-Nya. Selalu ada sebab dari akibat bukan?  Tuhan menciptakan kita ada alasannya! Tuhan menempatkan saya di Indonesia, juga ada alasannya. Kalau tidak ada alasan di balik segala sesuatu yang terjadi, kita berkencenderungan jatuh dalam nihilisme ala Nietzsche, apatis seapatis-apatisnya. Persoalannya adalah kita perlu membedakan secara utuh dan sehat, mana akibat dari dunia yang sudah jatuh dalam dosa dan mana yang tidak. Tuhan, tentu saja karena Dia baik, tidak pernah menciptakan dosa (Yakobus 1:13). Dosa dan segala sesuatu yang buruk karenanya bersumber dari diri kita sendiri.  Nah saya mau kutip disini kalimat Yoel:

Banyak hal buruk terjadi ya karena emank kita tinggal di fallen world. Bencana pesawat jatuh, Tsunami, sakit penyakit, dsb pasti bukan dirancang secara khusus oleh Tuhan untuk tujuan tertentu. Perkataan ini mungkin motivasinya bagus, tapi menurut gw super ngaco. Ketika gw sedang dapat bencana, I must deal with it. Mungkin emang gw harus berduka dan bersedih untuk beberapa saat, bukannya menyangkali atau mencari ketenangan palsu dengan berharap kalau ini terjadi karena Tuhan punya maksud tertentu buat hidup gw.

Yang membedakan dukacita orang percaya adalah dukacita orang percaya itu memiliki pengharapan, bahwa ada Kristus yang menguasai masa depan, dan dibalik dukacita itu, kita bisa makin mengenal Kristus dan Allah, yang adalah baik! 

Salahnya adalah ketika dalam konteks pastoral orang berduka kita terburu-buru memberikan penghiburan kepada orang yang berduka dengan mengatakan everything happens for a reason. Mungkin cara terbaik adalah memberikan pelukan atau hadir dengan orang-orang yang berduka itu, sama seperti yang dilakukan oleh Bu Risma ketika musibah Air Asia terjadi.



4. Kita butuh Kekristenan yang arif, menerima keberagaman, tapi tentu saja sangat perlu mengkritisi mereka yang "agak menyimpang"


Memang, di dalam Kekristenan ada theology yang mayor dan minor. Yang mayor: Trinitas, Alkitab sebagai otoritas, Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Yang lain-lain seperti baptisan, karunia roh kudus, gaya ibadah, doktrin akhir zaman adalah sesuatu yang minor, penafsirannya bisa saja beragam.  Kriteria untuk mengkritisi mereka yang "menyimpang" adalah ini: Alkitab, Bapa Greja, dan Pengakuan Iman Rasuli.  Saya rasa ini yang paling dibutuhkan generasi ini, kita butuh sikap yang lebih arif, tidak arogan, menerima satu dengan yang lain dan belajar satu dengan yang lain.  Yudas mengatakan "bencilah pakaiannya jangan benci orangnya", ajaran bisa kita tidak setujui tetapi orang harus terus kita kasihi. Tentu masih butuh proses yang panjang menuju kesana., Saya sebagai seseorang yang besar dalam gereja Pentakosta, dididik dalam seminari Reformed-Injili dengan latar belakang gereja mandarin, dan sekarang melayani di sebuah gereja mainline prostetanism dengan perspektif Injili-Konservatif, sering melihat banyak orang Kristen masih saling tuduh, menjelekkan satu dengan yang lain, dan berusaha menjatuhkan. Tubuh Kristus sudah banyak terpecah belah, apakah perlu kita membelah-belahnya lagi? :(

Diana Butler Bass, dalam Christianity After Religion menulis:
What the world needs is better religion, new forms of old faiths, religion reborn on the basis of deep spiritual connection—these things need to be explored instead of ditching religion completely. We need religion imbued with the spirit of shared humanity and hope, not religion that divide and further fracture the future.

5. Sesuatu yang supranatural harus diterangi dalam perspektif firman Allah

Yoel menceritakan aksi-aksi supranatural seperi Benny Hinn etc, dan saya mendapat kesan dia agak "kecewa" terhadap hal-hal tersebut. 

Buat saya, sesuatu yang supranatural masih bisa terjadi di era ini, tapi tentu kita harus terus mengawasinya apakah itu sesuai dengan firman Tuhan? Kalau sesuatu yang supranatural itu ternyata berlawanan dengan Injil (keselamatan dan transformasi di dalam Yesus) dan menawarkan sesuatu yang palsu dan fana: kesembuhan, kekayaan, kemakmuran etc, atau dipakai untuk kepentingan diri sendiri (kekayaan pendetanya misalnya), maka kita perlu memberikan tanda awas dan hati-hati terhadap hal-hal tersebut.



6. Hati nurani perlu ditaruh di bawah otoritas Roh Kudus

Yoel mengkritisi hati nurani yang biasanya jadi sumber dari seorang Kristen sebagai justifikasi  bahwa apa yang dilakukannya adalah kehendak Tuhan. Saya rasa Galatia 5-6 dengan jelas mengajar tentang bagaimana hidup di bawah pimpinan Roh Kudus.  Damai sejahtera yang sejati datangnya dari kehadiran Allah dalam hidup kita, nah ukurannya apa? Ketika kita taat pada perintah-Nya yang ditulis dalam Alkitab! Maka tugas orang Kristen adalah terus menerus baca kitab suci doa tiap hari, kata sebuah lagu Sekolah Minggu



7. Perlu kritis terhadap otoritas, tetapi perlu tetap hormat

Saya pernah punya banyak ketidaksetujuan kepada dosen-dosen saya di seminari, saya juga kadang-kadang berseberangan pendapat dengan pendeta saya. Saya rasa itu sikap yang wajar (dan  perlu ada) karena mereka juga manusia yang bisa jatuh dalam dosa dan kebutaan berpikir/bersikap. Tapi kita juga perlu hormat dong, mereka yang duluan menjalani hidup ini dan mengalami hal-hal yang sulit sebelum kita, harus dihormati, dengan segala keterbatasan atau kelemahan yang bisa saja mereka tampilkan. Paulus ngomong hal ini di 1 Timotius 5:17.



8. Perlu dewasa membedakan antara problem "dosa" atau "etika"

Yoel menulis:
Merokok apalagi minum alcohol secara bertanggung jawab juga biasa-biasa aja. Pertanyaan yang lebih esensial menurut gw adalah “Penting ga dilakuin? Bodoh ga dilakuin?  Berguna ga buat gw?” bukan “Dosa atau ga yah merokok?”
Persoalan dosa adalah sesuatu yang sangat jelas diatur dalam Alkitab: pembunuhan, perzinahan dan semua yang diatur di dalam Taurat. Dosa adalah tentang menyeleweng dari sasaran Allah. Nah, merokok dan minum alkohol, tatto adalah problem "etika." Pertanyaan yang perlu diajukan adalah kenapa itu kita lakukan? Paulus menulis Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun(1Korintus 6:12). Pornografi, masturbasi, rokok, alkohol, bisa membuat kita diperhamba oleh mereka, dan itulah bahayanya, ketika mereka jadi idol.



 9. Kita sering tidak mengerti apa yang terjadi di balik bencana dan masalah

Saya sampai sekarang tidak mengerti mengapa kakak saya harus meninggal di usia yang muda, kenapa ada bencana Air Asia yang begitu mengerikan.  Dan harus kita akui kita sering tidak mengerti maksud Tuhan, tidak mengerti rencana Tuhan di balik itu semua. Yang perlu kita lakukan saya rasa adalah belajar melihat dan menggali perspektif yang lebih teosentris: menghadapi penderitaan dengan kacamata kekekalan. 

Ohya, tentu adalah kurang tepat jika bencana/masalah itu terjadi kepada orang non percaya dan kemudian dengan angkuh kita bilang itu hukuman dari Tuhan (dan ini yang dikritisi oleh Yoel). Kita tidak berhak, sama sekali tidak, untuk berkata seperti itu. Bukankah kita sendiri adalah orang yang pantas dihukum?



10. Bukan jumlah, tapi soal jenis jemaat

Waktu saya remaja, saya percaya salah satu ukuran berkat Tuhan adalah jumlah jemaat yang besar. Tapi saya rasa itu tidak tepat (saya agaknya setuju dengan Yoel disini). Yang perlu kita tanyakan adalah apa jenis jemaat kita. Kalau jumlahnya ribuan ternyata sebagian besar adalah fan (penggemar) dan bukan follower (pengikut/murid), ya buat apa? Makanya ada banyak gereja besar di Indonesia dari sisi jemaat, tapi tidak berdampak bagi negeri ini, karena mereka cuma penggemar dari Yesus, mereka mencari sesuatu yang mereka butuhkan dari Yesus (materi, etc).  Tugas orang seperti saya, adalah mengajak orang untuk semakin mengikut Kristus, pikul Salib dan sangkal diri. Saya kira jika makin banyak pengikut Kristus maka Kekristenan bisa menjadi sebuah gerakan yang mengubah negeri ini, menjadi tempat yang lebih baik untuk ditinggali.




11. Perspektif yang lebih tepat dalam melihat "rencana Tuhan"

God's plan atau rencana Tuhan, kalau melihat Alkitab, kita perlu bedakan menjadi dua: Ketetapan Allah dan Kehendak Allah. Ketetapan Allah adalah berkaitan dengan keputusan-Nya dalam penciptaan, penebusan, keselamatan dan penghakiman. Sedangkan kehendak Allah adalah apa yang Allah inginkan untuk kita lakukan dan bisa saja kita tidak lakukan. Bacalah tulisan John Piper, seorang teolog Reformed handal di dalam link ini untuk melihat perspektif lebih lengkap.

Nah, persoalan pasangan hidup, karier, menikah atau nggak, ada di bagian yang kedua.  Masalahnya adalah kita sering malas dan enggan untuk terus mencari kehendak Allah di dalam hidup kita secara detail. Sampai detik ini saya masih bergumul: apakah kehendak Allah adalah saya menjadi pelayan penuh waktu, hidup di Surabaya? Ketegangan itu akan terus terjadi, tugas kita adalah belajar Alkitab dan berdoa, dan ngobrol dengan sesama orang percaya untuk menemukan apa yang paling Tuhan inginkan dalam hidup kita. 

Ohya, saya rasa kita juga tidak perlu fatalistik seperti Hyper-Calvinism (ini yang dimusuhi sama si Yoel), yang mengatakan bahwa kita makan apa, pakai baju apa, itu diatur Tuhan. Nggak. Dalam hal-hal seperti itu Tuhan hanya mengatur prinsip-prinsip umum melalui Alkitab. 



12. Perspektif yang kritis/utuh terhadap keuangan gereja.

Ya, gereja harus transparan, dan pemegang keuangan gereja bukanlah rohaniwan tapi seseorang yang bertanggung jawab penuh dan tentu saja ada audit secara berkala. Dalam hal ini, tempat saya bergereja, sinode GKI sangat saya hormati karena mencegah kami, para pekerja penuh waktu, memanipulasi agama sebagai sarana mencari uang, karena itu bisa saja terjadi.




Nah, demikian 12 pandangan saya, saya rasa yang menentukan masa depan Kekristenan adalah bagaimana kita memiliki Kekristenan yang lebih arif, tidak arogan, tidak angkuh juga menghidari sikap penjajah yang triumfalistik.  Saya rindu sebuah Kekristenan yang lebih nrimo keberagaman. Kekristenan yang memerhatikan kaum miskin dan tertindas. Kekristenan yang lebih transformatif. Kekristenan yang bukan fokus pada kemasan tapi pada hal yang substance: jiwa manusia. Kekristenan yang lebih Yesus!  



Btw, Tulisan Yoel saya sangat apresiasi karena otentik dan bagi orang yang open minded, membuat berpikir dan merenung ulang. Tapi kita perlu utuh, kalau sebuah tulisan malah membuat kebencian, kata-kata yang tidak ramah malah marah, saya pikir itu adalah hal yang fatal dan tidak perlu diulangi lagi oleh teman-teman Kristen yang lainnya. Tolong, dunia ini sudah sangat menyedihkan untuk ditinggali dengan hal-hal seperti musibah Air Asia, terorisme di Prancis, dan fundamentalisme agama yang hanya melahirkan darah, darah dan darah, masihkah kita menambahi kesedihan lagi dengan tulisan atau perkataan kita yang bisa menjadi sesuatu yang destruktif?




@himawanpambudi
himawan2804@gmail.com
Himawan Teguh Pambudi




#Pregbund 23, Surabaya. Saya sendiri menyadari saya juga rapuh dalam menggunakan kata-kata :( pagi tadi seorang teman kecewa kepada saya karena tanggapan saya yang bodoh pada chat yang dikirimkannya.. Kita adalah manusia yang rapuh ya, sangat rapuh, have mercy on us, oh Lord.

___________________________  oo ________________________________




Pas gue ngomen dengan masukin dengan link blog gue, ternyata sudah ada tambahan di bagian bawah tulisannya :) Menarik juga sih yang komen banyak anak muda, itu berarti wajah Kekristenan di Indonesia ditentukan oleh sikap dan pola pikir anak muda. Saya berdoa dan berharap anak-anak muda di Indonesia, yang Kristen, setidaknya punya perspektif yang luas dan utuh, maka tolong, biasakan baca buku, tidak perlu takut berdialog dengan mereka yang berbeda, dan rendah hati untuk belajar. Kekristenan akan menjadi lebih baik kalau kita seperti itu.