Jumat, 16 Mei 2014

Arogansi

 
Arogansi. Kata ini sejajar dengan keangkuhan-kesombongan. Belakangan ini aku merasa kesal dengan arogansi. Tetapi aku menyadari, ketika aku menuduh orang lain arogan, maka aku sendiri pun jadi arogan juga. Maka demikian, benarlah kata Nietzscche, "Ketika kita memerangi monster, maka amat berbahaya sekali, kita bisa berubah menjadi monster itu sendiri."
 
Bukankah masalah terbesar dari dunia ini adalah "aku", "egoku" yang berakar kuat, berdinding tebal, dan beratap tak tertembus dari apa pun. Arogansi datang dari masa laluku yang bersahabat dengan rasa minder (inferiority), apalagi ia berkelindan dengan kesepian (loneliness). Mereka mewujud rupa dalam kegelisahan fana atas penerimaan dan pengakuan orang lain. Mereka menghadarikan khawatir waktu kritik menyapa. Mereka resah saaat cibiran bersabda. Sebaliknya, mereka menawarkan hati yang melambung ketika pujian datang. Oh, bukankah pemimpin sejati adalah seorang yang dikritik ia tidak tumbang, dan dipuji ia tidak terbang?
 
 
Oh  Yesus Tuhanku, ajari aku hati-Mu yang lemah lembut dan rendah hati!
 

Selasa, 13 Mei 2014

Menahan Diri Untuk Bicara

Add caption
 
Diam juga adalah sebentuk disiplin rohani. Menahan diri untuk mengurangi bicara juga adalah sebuah latihan.
 
Dallas Willard menulis, "Ketika kita bersama dengan orang lain yang kita tidak merasa aman bersamanya, kita menggunakan kata-kata untuk memperbaiki penampilan kita dan memperoleh persetujuan mereka. Jika tidak demikian kita takut kalau-kalau kebajikan kita mungkin tidak mendapatkan penghargaan yang selayaknya dan kekurangan-kekurangan kita mungkin akan tidak dipahami dengan semestinya. Dengan tidak berbicara, kita meletakkan seluruh keberadaan di hadapan Allah. Dan ini tidaklah mudah!"
 
 
Aku menyadari bahwa mulutku sering menjadi senjata berperang. Memenangkan argumentasi, meraih bendera kemenangan, menghancurkan lawan-lawan.  Lidahku adalah alat untuk ku mengenggam mesias fana: pengakuan orang lain atasku, atau penerimaan mereka.
 
Oh Tuhan, ajar aku untuk belajar diam dan berkata-kata seperlunya. Lepaskan aku dari basa-basi yang munafik demi upaya menyenangkan orang lain.
 
Jujur saja, profesi sebagai rohaniwan menjadikanku mudah "berbicara" entah dengan motivasi benar atau salah. Profesiku memakai lidah. Dan lidah sering dipakai sebagai kosmetik untukku tampil rohani, baik, dan kudus. Padahal hatiku busuk, penuh intrik dan arogansi.
 
 
 
 
Tuhan, aku sudah menutup pintu
 
Di mana hiruk-pikuk dan gemuruh dunia
 
Tidak terdengar lagi;
 
Berbicaralah sekarang
 
Bisikkanlah kehendak-Mu
 
Di dalam batinku
 
 
 
Tuhan, aku sudah menutup pintu
 
Waktu aku jatuh
 
Waktu semuanya buntu
 
Waktu semuanya diam
 
Engkaulah keteguhanku
 
Kekuatanku diperbaharui.
 
 
 
Tuhan aku sudah menutup pintu
 
menanti tugas-Mu
 
Yang di dalamnya aku diundang berbagian
 
Yang melaluinya Engkau dinyatakan.
 
 
 
Tuhan aku sudah kembali membuka pintu
 
Dimana hiruk pikuk dan gemuruh dunia terdengar lagi;
 
Berdua dengan-Mu melangkah ke sana
 
Menghidupi kehendak-Mu
 
Bertekun dalam kekuatan-Mu
 
Menunaikan apa yang telah Kau tunaikan di hadapanku
 
 
 
Di balik pintu tertutup
 
Berdua dengan-Mu
 
Di balik pintu terbuka
 
Berdua dengan-Mu
 
Di dalam batinku
 
Di tubuh jasmaniku
 
Berdua dengan-Mu
 
Amin
 
(Doa ini diambil dari buku Pdt. Yohan Candawasa, Perjumpaan Dengan Salib Kristus 301-302)
 
 
 
Nothing to Hide. Nothing to Loose. Nothing to Proof.

Senin, 12 Mei 2014

Kesederhanaan

 
 
Kesederhanaan adalah salah satu dari banyak disiplin rohani murid Kristus. Kesederhanaan adalah disiplin rohani berpantang, "kita menjauhkan diri dari keikut sertaan dalam beberapa kegiatan, menahan diri dari memiliki harta benda yang tidak dibutuhkan, dan tidak bergerak lebih jauh dari tujuan yang Allah berikan kepada kita." (Jan Johnson, Simplicity and Fasting).
 
 
Barangkali, simplicity adalah salah satu dari sekian disiplin rohani yang mulai dilupakan gereja. Gereja sibuk dengan banyak kegiatan, sibuk membangun infrastruktur yang megah, sibuk bergerak kesana-kemari. Lalu akhirnya kelelahan untuk menjadi garam dan terang.
 
Sama saja dengan murid Kristus secara personal dan individual. Orang Kristen sibuk memenuhi diri dengan kekayaan, harta, popularitas, prestasi, pengakuan dan segala sesuatu yang dinilai dunia ini "baik" dan "perlu."
 
 
Rev. Edmund Chan pernah menulis,
"Be content. Be simple.  So, let your pace be steady.
   Let your purpose be true
   Let your priorities be clear
   Let your possessions be useful.  And your life be enriched, your prayers empowered and your relationship with God deepened" (Growing Deep in God)
 
Ah, aku ingin belajar menjadi sederhana.
 
Sederhana dalam apa yang kumiliki.
Sederhana dalam apa yang kukerjakan.
Sederhana dalam apa yang kuinginkan.
 
Karena orang yang sederhana adalah orang yang kaya. 
 
 
"Ketika kita hidup sederhana, kita menjadi lebih peka pada cara kerja jiwa kita yang lembut." (Mary Coelho)
 
barisan puisi dari Sapadi Joko Darmono

Selasa, 06 Mei 2014

Tak Pernah Kelar

Kenapa ada orang yang pernah jatuh cinta dan akan terus menerus jatuh cinta lagi, walau pihak yang dicintainya tak membalas?
 
 
Kenapa ada orang yang selalu jatuh pada kekaguman lagi, padahal yang dikaguminya takkan pernah mengizinkan hatinya untuk terbuka pada si pengagum?
 
 
Kenapa di dunia ini selalu saja ada cinta lama belum kelar, atau bahkan tak pernah kelar?
 
 
Hahahaha
 
 
Aku tak lagi galau kok. Cuma tertawa-tawa menyadari keadaan ini suka, sering, atau selalu menghampiri. Entah tawanya sedih atau suka. Semuanya tergantung perspektif. Dan dari pengalaman ini aku mengalami perjumpaan.
 
 
Barangkali, begitukah cinta Tuhan padaku? Pada kita manusia?
 
 
Cinta lama yang tak akan pernah kelar. Cinta yang akan terus menerus mengejar walau pihak yang dicintai tak acuh. Cinta yang akan terus jatuh lagi, walau dikhianati berulang kali. Cinta yang akan terus meletupkan kekaguman walau yang dikagumi hanya berkata: "udah lepasin aja perasaanmu, gue bukan buat elu kok."
 
Yang membedakan hanyalah aku adalah manusia, dan Tuhan adalah Tuhan. Hahahaha, Tuhan punya daya kuasa yang maha, yang sanggup mengubah hati manusia yang keras. Sedangkan aku, berusaha sekeras apa pun aku membuktikan aku mencintai sungguh-sungguh pihak yang kukagumi, bahwa dompetku, kondisi keluargaku, emosionalku, rohaniku sudah layak untuk memilikinya, tetap tak akan pernah bisa mengubah hatinya supaya bersedia untukku. Maka dari itu hanya ada lagu ubah hatiku, bukan ubah hatinya. Hahahaha
 
Barangkali karena Ia adalah Cinta, sehingga Ia mampu mengerjakan itu semua. Sedangkan aku? Bukankah aku, manusia, adalah struktur jahat bak Dursasana yang getol menghancurkan, mengeksploitasi sesama, bahkan orang yang kita akui kita cintai?
 
 
Seconhand Serenade, Your Call
 
 
 
Entah kenapa aku tak pernah bosan mencintai dirinya, seseorang berbaju biru. Walau balasnya tentu tiada. Hahahaha. Makanya, lagu Lumpuhkanlah Ingatanku itu tak pernah relevan. Lagu itu, menurutku, cuma lagu pelarian bagi mereka yang tak berani untuk menjadi vulnerable ketika jatuh cinta.  Khas orang Indonesia. Bukankah yang lebih penting dari dibalas atau tidak nya jatuh cinta kita, adalah jatuh cinta itu sendiri? Karena jatuh cinta adalah sesuatu yang membuat kita menjadi manusia. Karena di sanalah, Sang Misterium Tremendum, Sang Embuh Yang MahaCinta itu mewahyukan keberadaan-Nya.
 
 
 
 
*Pregolan Bunder 36. Oke. Saya melankolis tingkat akut malam ini. Hahahaha. Tapi nyadar nggak sih, Tuhan itu baik banget. Ada nggak ada cinta manusia. Dia selalu ada. Bahkan Ia rela kehilangan segala sesuatu yang Ia punya, agar tak kehilangan kita, manusia. I Love You Lord
 
 
 

Kembang Latar Kehidupan

Terjebak dalam penjara rindu yang luar biasa kepada perempuan berbaju biru.
 
Terpenjara gelisah ketika senyuman-senyuman itu menghantu dalam gaduh.
 
Terdistraksi oleh titik-titik rintik hujan kenangan yang menghujam begitu deras.
 
 
Entah kenapa. Ia selalu berhasil membuatku jatuh cinta.
 
Barangkali karena ia adalah sang kembang latar bagi panggung drama musikal kehidupan.
 
Tariannya menggelombangkan getar anggun yang maha sempurna.
 
Suara senandungnya selalu menisbahkan pewahyuan aksara-aksara asmara dari Sang Pemilik
 
Karena gerak wajahnya adalah lukisan dari bulir-bulir kedamaian rasa.
 
Semuanya berlogaritma dalam rumus-rumus yang baku dan hasilnya berbanding lurus dengan keajaiban.
 
 
Tapi toh aku cuma penonton. Hanya dirancang untuk memandangmu dari jauh, duduk dalam bangku paling nyaman, melihatmu, menatapmu. Lalu sensor-sensor syaraf berjibaku dengan elektroda-elektroda otakku mengirimkan satu pesan: ia cantik dan mengagumkan!
 
Barangkali Sang Sutradara tertawa terbahak-bahak di atas sana, karena berhasil membuatku dipeluk kekaguman yang kekal. Sejenis kekaguman yang dibangun dengan fondasi-fondasi pesona batin dan cahaya jiwa, bukan kosmetik murahan milik dunia fana.
 
 
 
#Pregolan Bunder 23. 
 
Setelah kemarin nonton Amazing Spiderman 2, agak ketularan efek romantisme film itu. Hahahaha. Gwen Stefy yang diperankan Emma Stone adalah representrasi dari seorang wanita yang akan selalu membuat superhero jatuh cinta. Barangkali karena ia adalah jalan untuk mengada.

Kamis, 03 April 2014

Catatan Mbak Krist (2) : Manusia Baru


Jadi siapa ada di dalam di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru.”

2 Korintus 5:17a

“Bu, saya suntik ya untuk pasang infus..sakit sedikit.” Kata perawat yang sudah memegang erat tanganku dengan bantuan temannya. Aku menjawab, “Silahkan..”. Tak lama kemudian si perawat dengan temannya entah bergumam apa dan berkata lagi kepadaku, “Bu, maaf saya cabut suntikannya.” Lalu ia juga berkata "sakit sedikit ya Bu." Aku menjawab “ya.” Kemudian mereka mencari cari lagi pembuluh darahku sambil berdiskusi di mana letaknya, seperti dua orang remaja yang sibuk mencari giwang kecilnya yang jatuh di kolong. Pikirku: "duh ini bikin pasien takut aja." Tak lama kemudian kembali dia memberi tahuku bahwa akan melakukan suntikan lagi. Sayangnya begitu jarum suntik menusuk dan rasa sakit itu terasa, tak lama kemudian mereka menyabutnya lagi tentu dikeluarnya jarum ini disertai kesakitan pula pada tubuhku. Dan sayangnya tusuk menusuk kemudian cabut mencabut ini terjadinya beberapa kali. Aku tak mengerti bagaimana ilmu menyuntik, apakah memang begitu rumit dan sulit? Yang pasti rasa sakit ini mereka tidak rasakan. Ingin rasanya menegor mereka supaya tidak melakukan kesalahan, ingin rasanya berteriak meneriakkan rasa sakit yang terasa, ingin pula rasanya menghentikan proses pemasangan infus dan tempat penyuntikan obat-obat ini. Namun, apakah yang akan terjadi jika hal itu kulakukan? Sekitarku tentu akan memprovokasiku untuk melakukannya lagi disertai dengan sedikit menakut-nakuti bagaimana jika penyakitnya tidak sembuh. Maka tak kuhiraukan celoteh para perawat yang masih memegang tanganku dan sibuk mencari pembuluh darah yang akan disuntik demi mengalirkan infus. Aku memilih memejamkan mata dan mengatur pikiranku.

Kupikirkan tentang dalam keadaan seperti ini apa peran sebagai manusia yang diciptakan baru? Manusia tanpa lahir baru ya pasti sakit dengan suntikan-suntikan seperti ini, yang sudah lahir baru sama sajalah rasa sakitnya tidak ada diskon untuk rasa sakit. Manusia tanpa kelahiran kembali pasti merasa lelah, enggan, bosan karena sudah berkali-kali seperti ini, manusia baru? Sami mawonlah. Lha mosok ndak ada bedanya sih manusia baru dan manusia lama?

Tiba-tiba terbersit dalam ingatan dan mataku yang terpejam tetang paku salib Kristus yang ditancamkan pada tangan dan kakiNya. Tentu paku itu beribu kali lebih besar dari jarum suntik yang ditusukkan pada tanganku, tentu tak ada kata permisi dari orang yang akan menancamkannya pada tubuh-Nya, dan tidak ada permintaan maaf tatkala sakit menghujam tubuh-Nya. Bukan hanya tak ada basa-basi sopan santun sebelum menancapkan paku itu, tetapi yang ada adalah makian dan cemoohan. Bisa saja yang didengar Tuhan Yesus saat itu kata-kata seperti ini, “Rasain luh...jangan teriak-teriak...teriak sono sampai mampus...dasar penjahat jahanam.”


Saat ini aku menderita sakit bisa jadi karena salahku dimasa lalu yang kurang menjaga pola makan, pola istirahat, atau pola olah raga. Namun Kristus menderita bukan karena kesalahannya tetapi karena karena aku, demi aku, untuk aku. Ternyata penderitaanku hanyalah secuil kecil bak kerikil bahkan debu dibanding derita Kristus waktu itu. Ah, tatkala memikirkan derita yang telah ditanggungnya, memikirkan deritaku tidaklah ada gunanya. Pikiran tentang Kristus membuat rasa takjub dan haru akan cinta-Nya mememenuhi hati, pikiran dan perasaanku. Dan kurasakan dengan jelas Dia bersamaku, merasakan semua yang kurasa, mengalami segala yang kualami. Oh perubahan perasaan dan pikiran ini menyatakan padaku bahwa inilah kerja Roh Kudus yang ada dalam hati seseorang yang telah mempersilahkan-Nya masuk di dalam hati dan melahirkan baru seseorang.


Sungguh beruntungnya diriku dengan anugrah hadirnya Roh Kudus di hatiku. Rasa sumpek itu segera lenyap. Perasaan mau marah, ingin menuntut, hasrat untuk mengelarkan makian reda bahkan lenyap. Jika manusia tanpa lahir baru tentunya hal ini sulit dimengerti. Aku teringat seorang teman dari Madura yang berbarengan menjalani kemo berkata kepadaku, “Saya ini rah marah terus bu, kalo kemo itu. Lha gimana gak rah marah ta iye...sakit semua badan nih. Badan rus kurus begini, kepala sing pusing, maunya tah muntah terus...mangkel hatiku Bu kenapa saya sakit begini. Saya bukan koruptor, bukan perambok, apalagi pembunuh kok dikasih sakit begini. Ibu kok tenang-tenang aja, saya kira tadi dokter, ternyata pasien sama kayak saya.” Kira-kira begitulah keadaan pribadi yang tanpa Roh Kudus dalam hatinya, karena ia tidak memiliki penghibur sejati yang tak akan meninggalkannya. Dialah, Roh Kudus, yang melahirkan kita kembali ketika kita mempercayakan jiwa kita kepada Putra Tunggal Allah Yesus Kristus, Juru Selamat dunia? Kawan-kawan sudahkan percaya pada-Nya? (jawablah dengan tulus, jujur tapi tegas dalam hatimu)

Kira-kira pada suntikan yang kelima atau enam, baru para perawat itu bersorak lirih, “berhasil..berhasil.” Kemudian mereka berpamitan, seiring rasa damai setelah menerungkan paku salib Kristus maka aku pun sanggub berkata, “Terimkasih untuk bantuan ibu-ibu.” Dalam hati aku berkata terimakasih Tuhan, tiada terkira rakmaat dan berkatMu. Rasa sakitMu karena paku salib yang tiada terkira itu tak menghalangiMu untuk dapat mengasihi dan kemudian menyertaiku. Kiranya rasa sakitku juga tak menghalangiku untuk terus memikirkan cintaMu padaku. Amin.




*Catatan ini adalah catatan Mbak Krist yang kutemukan di laptopnya. Catatan-catatan ini ditulisnya di masa-masa survival menghadapi cancer payudara kisaran Juni 2012 sampai kemarin 13 Maret ia dipanggil pulang ke pelukan Bapa di surga. Daripada teronggok tak berarti sebagai soft file, menurutku amat berharga sekali ku posting di blogku. Kiranya pembaca terberkati. Terpujilah Tuhan!

Catatan Mbak Krist (1) : Janganlah Kamu Kuatir Tentang Apa Pun Juga

Dulu waktu awal mendengar berita terkena kanker dan harus kemo, yang paling kutakutkan adalah menjadi gundul! Bagiku itu sangat mengerikan. Aku yang biasa tampil di depan umum, bagaimana jadinya kalau sampai gundul? Pikiranku jadi kusut dan masam setiap kali memikirkannya. Ketakutan lebih daripada takut pada kanker itu sendiri menerpa hari-hariku. Aku banyak terdiam dengan suram setiap kali memikirkan hal itu.
Ketika kemo akhirnya dilakukan, dan beberapa hari kemudian mulai rontok rambutku memang ketika pertama kali melihat rambut waktu dikeramas tidak berhenti-hentinya lepas, hatiku terasa hendak lepas dari tempatnya. Semula berpikir biar saja rontok semua dengan sendirinya. Tapi melihat rambut terus saja berjatuhan di mana pun dan kapan pun membuat tidak nyaman diri sendiri dan orang-orang sekitar. Maka aku putuskan untuk mencukur habis semua rambutku. Tidak mungkin aku ke salon untuk melakukan pencukuran itu, karena tentu akan menimbulkan teror bagi tukan cukur yang akan melakukan tugasnya, juga menarik perhatian orang-orang yang berada di salon. Kuputuskan untuk mencukurnya di rumah saja dengan bantuan dari orang-orang terdekatku.
Hari pencukuran tiba. Suasana yang terjadi ternyata bukan suasana yang mistis, tragis, apalagi sadistik. Sebelum mencukur aku ajak anakku menggunting rambutku yang masih sebahu, menjadi ukuran yang lebih pendek. Asal gunting saja. Dan anakku yang berusia 8 tahun melakukannya dengan riang. Setelah pendek, baru tugas suamiku mengeksekusi kepalaku. Dengan pisau cukur seadanya dia melakukan tugasnya. Semula dibentuknya rambut pendekku seperti tomhank, kemudian menyerupai avatar dan beberapa bentuk konyol lainnya. Kami tertawa terbahak-bahak selama proses pencukuran itu. Tidak ada air mata, yang ada hanya rasa damai yang melimpah. Dengan tentram dan rela hati aku melepas semua rambutku, sampai bersih.
Setelah itu masa memakai wig tiba. Sebelumnya aku sempat juga suntuk memikirkan bagaimana dengan memakai wig itu. Pasti merepotkan, pasti menyiksa, pasti tampak aneh, bisa jadi tampangku menakutkan. Namun ternyata tidak. Pakai wig itu mudah, praktis, dan langsung terlihat rambut yang sempurna. Beberapa orang mengatakan aku tampak lebih cantik. Ya jelas saja kan dengan wig seperti baru keluar dari salon! Selama pakai wig aku malah merasa "ah mending pakai wig dari pada rambut sendiri."
Apa yang kita khawatirkan belum tentu ternjadi, bahkan bisa jadi tidak terjadi. Maka mengapa mengkhawatirkannya? Bukankan dengan khawatir hanya membuat hati resah dan gelisah?
"Janganlah kamu khawatir tentang apa pun juga..."
 
 
 
I miss her smile :(
 
*Ini adalah catatan Mbak Krist yang aku temukan di micro SD laptopnya. Rasanya sayang kalau hanya teronggok dalam file. Maka aku memutuskan untuk mempostingnya di blogku. Aku percaya beberapa catatannya membawa berkat bagi pembaca.