Sabtu, 19 Januari 2013

Im-Possible: Mengubah Ketidakmungkinan Menjadi Kemungkinan (Matius 21:22). . .part 1



Pendahuluan

Saya jadi ingat sebuah film di tahun 2011, yang baru saya tonton belakangan ini: Mission Impossible: Ghost Protocol.  Film ini menceritakan tentang agen Ethan Hunt, yang diperankan aktor ganteng Tom Cruise.  Agen Ethan yang dibebaskan dari sebuah penjara di Istanbul, dituaskan untuk menghentikan proyek perang nuklir, yang hendak dimulai oleh Cobalt, atau Kurt Hendrick. Seperti biasa, ada tembok-tembok ketidakmungkinan yang menghadang langkah penyelesaian misi Agen Ethan.  Misalnya, ketika ia sedang nyamar di Kremlin, ternyata disadap, akhirnya misinya gagal dan tersendat. Atau tiba-tiba, saat melakukan operasi memanjat dinding, alatnya rusak. Ada banyak penghalang-penghalang, yang seolah-olah membuat misi menjadi impossible, misi yang penuh dengan ketidakmungkinan. Tetapi sebuah film, kayaknya, selalu happy ending: misi selesai, roket nuklir yang sudah meluncur pun meledak di atas udara, bukan di New York. Agen Ethan tampil menjadi seorang pahlawan yang mengubah ketidakmungkinan, menjadi kemungkinan.

Sesungguhnya, hidup kita mirip kisah hidup agen Ethant. Kita punya misi, kita punya tujuan yang harus kita capai, impian, cita-cita, harapan, dan banyak hal yang hendak kita tuju di depan sana. Masalahnya, hidup anda dan saya, seringkali diperhadapkan dengan tembok-tembok ketidakmungkinan. Entah itu dari luar, atau dari dalam diri kita. Hal yang ingin saya sampaikan adalah

Sebagai anak-anak Tuhan, kita sanggup mengubah ketidakmungkinan menjadi sebuah kemungkinan, Mission I’m-possible.

Apa sih tembok-tembok ketidakmungkinan yang biasanya hadir dalam hidup kita? Ia bisa jadi masalah dalam diri kita, atau situasi di luar diri kita!

Sekarang pertanyaannya: Bagaimana mengubah ketidakmungkinan menjadi kemungkinan?

1.      Hidup dalam keintiman atau kedekatan dengan Allah

Penjelasan

Dalam perikop Matius 21 ini Yesus menghadapi tembok ketidakmungkinan yang dialami oleh murid-muridNya. Ketika Tuhan Yesus mengutuk pohon ara supaya tidak berbuah, dan itu terjadi, murid2nya bertanya “bagaimana mungkin?” Sebuah pertanyaan yang juga selalu hadir dalam hidup kita, kalau kita terpentok tembok ketidakmungkinan. “Emang bisa ya?” “mosok iso” adalah frasa-frasa yang sesinonim dengan frasa “bagaimana mungkin,” dimana dalam frasa ini tersirat ketidak percayaan, keraguan, dan kebimbangan.

Menerobos tembok ketidakmungkinan itu, Yesus pun berkata lantang “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berkata apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Hal itu akan terjadi.”  Ide tentang memindahkan gunung adalah sebuah gambaran atau metafora tentang hal yang tidak mungkin dilakukan, Tuhan Yesus memakainya sebagai ungkapan bahwa itu pun bisa dilakukan.

Lalu Tuhan Yesus melanjutkan “dan apa saja yang kamu minta dalam doa” apa yang terkandung dalam kalimat ini? Kalimat ini berisi kerinduan Yesus agar para muridnya itu berdoa, kalau mereka menghadapi tembok ketidakmungkinan, maka yang paling baik adalah hidup dalam doa, artinya hidup dalam keintiman dengan Allah. Artinya, mengubah ketidakmungkinan menjadi kemungkinan, selalu dimulai dengan memiliki hidup yang berdoa. *

Kenapa saya mengubah bahasanya “hidup dalam doa” dengan “hidup dalam keintiman dengan Allah?” Karena, seringkali konsep berpikir kita tentang doa adalah sebagai sesuatu hal yang sangat membosankan, garing dan boring. Setuju nggak? Kalau doa syafaat di hari minggu kan, pasti pikiran kita kemana-mana. Jujur saja, saya juga mengalami hal itu kok. Doa, bagi sebagian besar orang Kristen adalah suatu hal yang tidak lagi menarik. Padahal butuhnya jelas. Nah, karena itu, supaya lebih mudah merevitalisasi serta membangkitkan spiritualitas kita serta supaya lebih menarik, doa itu saya gantikan dengan hidup dalam keintiman dengan Allah. Intim. Dan bagi Tuhan Yesus, masalah doa dan masalah keintiman dengan Allah ini adalah masalah penting. Makanya Tuhan ngajarin tentang Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus juga pernah negur murid-muridnya, yang ketika di Getsemani, tidak sanggup berjaga2 utk berdoa bersamanya.

Lebih lanjut perlu kita pahami lagi bahwa inti hidup kekristenan itu sebenarnya adalah relasi. Klo kita berelasi dengan seseorang, pacarmu misalnya, tentu indah kan klo ketemu, gandengan tangan, ngobrol, tatap mata, dia ada masalah kamu dengerin, kamu ada masalah bahunya tersedia. Ciyeh, kalau kayak gitu kan rasanya dunia ini indah, cuma milik berdua. “Jalanan boleh banjir asalkan aku mendayung perahu bersama kekasihku.” Relasi yang intim itu indah bukan? Nah, seharusnya demikian juga hidup kita bersama dengan Tuhan: relasi yang deket, intim, dimana dari pagi sampai malam, kita hidup bergaul dengan Dia.  Itulah hidup dalam doa. Maka, kalau hidup kita demikian, tembok ketidakmungkinan apa pun yang menghadang kita, akan kita ubah menjadi kemungkinan demi kemungkinan, lha wong kekasih kita loh Allah Pencipta langit dan bumi.

Kalau lihat kesaksian Alkitab, orang-orang yang menembus tembok ketidakmungkinan dan mengubahnya menjadi kemungkinan, orang2 yang im-possible, adalah orang-orang yang memiliki kehidupan doa, memiliki keintiman dengan Allah. Sebut saja: Hana, dari yang tidakmungkin punya anak, jadi mungkin punya anak, yaitu Samuel. Daniel, yang tidak mungkin selamat dari mulut singa, mungkin selamat. Daud, si anak bungsu yang kecil, yang tidak mungkin jadi Raja Israel, mungkin jadi raja, dia punya beragam Mazmur yang indah. Tuhan Yesus? Si Miskin dari Nazaret, tidak mungkin rasanya menjadi juruselamat, tetapi Ia sendiri intim dengan Bapa di surga, dan mungkinlah Dia menjadi juruselamat kita. Mengubah ketidakmungkinan menjadi kemungkinan, selalu dimulai dengan hidup yang berdoa, intim dengan Allah.

Yakobus 4:2 berkata “Kamu tidak memperoleh apa-apa karena kamu tidak berdoa” atau dalam bahasa saya: kamu nggak bisa apa-apa, karena kamu nggak punya hidup yang dekat dengan Tuhan.

Ilustrasi
Ada sebuah kisah mengenai George Muller, seorang raksasa iman dari Inggris, dimana ia mempunyai sebuah pelayanan panti asuhan yang besar.  Di suatu pagi, waktu itu adalah waktu makan pagi, dan di sana tidak ada makanan sama sekali. Persediaan makanan mereka habis tepat pada malam sebelumnya.  Seorang anak asuh George Muller datang kedepannya, dan Muller memegang tangannya lalu berkata, “datang dan mari lihatlah apa yang Bapa kita akan lakukan.” Di ruang makan, meja yang panjang telah dipasang dengan piring yang kosong dan cangkir yang kosong. Tidak ada makanan di dapur, dan juga tidak ada uang di akun rumah itu. Muller berdoa, “Dear Father, Ya Bapa, kami bersyukur kepadaMu bagi apa yang Engkau berikan untuk kami makan.” Kemudian, usai berdoa, mereka mendengar ketukan di pintu.  Ketika mereka membukanya, mereka melihat tukang roti berdiri di hadapan mereka. Ia berkata: “Mr. Mueller, saya tidak bisa tidur semalam. Entah mengapa, saya merasa bahwa engkau tidak ada roti untuk makan pagi ini, maka dari itu saya bangun jam 2 pagi, dan membuat roti yang baru. Inilah untuk kalian.”  Muller pun berterimakasih padanya dan mengucap syukur pada Allah. Tidak lama setelah itu, ada ketukan kedua yang mereka dengar. Ternyata itu adalah tukang susu.  Kereta yang dipakainya untuk berjualan terjatuh di depan panti asuhan itu.  Lalu dia berkata bahwa ia ingin memberikan anak2 itu susu itu sehihingga ia bisa membawa kereta yang kosong dan dengan mudah memperbaikinya.  Kisah yang indah bukan mengenai hidup yang sanggup mengubah ketidakmungkinan menjadi kemungkinan.  Yang dimulai dengan doa dan keintiman dengan Allah.

Aplikasi
Saya yakin setiap kita memiliki apa yang namanya tembok ketidakmungkinan, sesuatu yang membuat diri kita berkata “bagaimana mungkin.” Sesuatu yang membuat kita pesimis, bermalas-malasan, enggan menghadapi tugas dan kewajiban kita. Tembok ketidakmungkinan itu bisa saja berasal dari dalam, masalah kepribadian kita. Atau, tembok ketidakmungkinan itu berasal dari luar, situasi atau keadaan hidup kita. Misalnya saya, tembok ketidakmungkinan saya adalah saya dari dulu, selalu punya perasaan inferiority alias minderan.  Ketika minderan ini menguasai: kayake nggak mungkin deh bisa khotbah, kayake nggak mungkin deh melayani. Akhirnya, saya tidak bisa berkembang, sebelum Tuhan memulihkan rasa percaya diri.  Dan perubahan itu, dimulai dengan saya yang mulai kenal diri saya di dalam Tuhan: adanya hubungan intim dalam doa dan firman.

Karena itu milikilah hidup yang intim dengan Allah. Kalau hidupmu berelasi dekat dengan Dia, Ia akan memberi kekuatan baru, semangat untuk menjalani kegiatan sehari-hari, karena engkau menjalaninya tidak sendirian, tetapi bersama dengan Dia. Doa juga akan membuat kita melihat kemungkinan2 yang Tuhan telah sediakan dalam hidup kita. Doa akan menguatkanmu ketika studi sedang sulit. Doa akan menenangkanmu ketika hatimu begitu kuatir. Doa akan membuatmu merasa tenteram walau ditengah badai, tenang walau segala sesuatu sedang chaos. Doa akan membuatmu mampu mengubah ketidakmungkinan yang menguasai dirimu: ketidakmampuan akademis, ketidakmampuan ekonomi, diri yang merasa tidak sanggup, tetapi di dalam dan bersama dengan Tuhan, engkau akan mengubah itu semua menjadi sebuah kemungkinan.

Rabu, 16 Januari 2013

Renewing Your Promises: Yosua 24:1-28 (part two)

Kedua, Janji mengabdi dengan tulus ikhlas dan setia
Penjelasan
Setelah berfokus pada kalimat imperatif pertama, kita berpindah pada kalimat imperatif kedua  “beribadahlah kepada-Nya dengan tulus dan setia.”  Kalau kita cermati bagian setelah ayat 14, kata “ibadah” muncul sangat sering, empat belas kali, sehingga menunjukkan kata “ibadah” adalah kata yang penting. Yang menarik, Alkitab versi bahasa Inggris tidak menerjemahkan “worship” tetapi, malah “serve” melayani. Buat saya, hal ini menunjukkan ada problem penerjemahan atau barangkali lebih tepat problem pemahaman kata.  Oleh karena itu, saya menyelidiki kata dasar Ibraninya yaitu abad. Kemudian, saya menemukan bahwa kata abad dalam pemakaiannya di PL bisa mencakup dua konsep:

Pertama, konsep secara inward devotion. Dalam konsep ini, kata ini dipakai pada konteks untuk mengekspresikan posisi manusia di hadapan Allah, yaitu sebagai pelayan, servant. Abad dimaknai sebagai keseluruhan keberadaan manusia, jiwa, hati, dan raga, yang diberikan untuk tuannya. Sehingga, konsep secara inward ini lebih merujuk pada sikap hati seseorang atau status seseorang, bagaimana kita menempatkan diri kita.  

Kedua, konsep secara outward devotion. Dalam konsep ini, kata ini dipakai dalam konteks pelaksaan ritual keagamaan Israel, misalnya dalam tabernakel dan bait suci.  Di sini abad merujuk pada aksi yang kelihatan di luar, seperti korban bakaran, korban pendamaian dan lain sebagainya. Barangkali, LAI menerjemahkan kata abad sebagai “beribadah” merujuk pada konsep yang kedua ini, outward devotion. Ketika melihat dua pemakaian ini dan konteks pembaharuan janji, membuat saya lebih menyukai terjemahan Alkitab Kabar Baik dan BISS, yang menerjemahkannya mengabdi, mengabdi itu memberikan diri menjadi abdi, dan kata mengabdi ini lebih dapat menangkap dua konsep inward dan outward devotion.

Kalau anda pernah jalan-jalan ke keraton Jogja atau Surakarta, anda akan bertemu para abdi dalem, pelayan-pelayan rumah sultan. Kalau anda rekreasi ketempat ini, anda akan dilayani dengan sangat baik, memakai bahasa yang sangat halus. Mereka ini mengabdi kepada sultan, inward devotion mereka adalah memposisikan diri sebagai pelayan, sedangkan outward devotion mereka adalah melakukan apa yang diperintahkan. By the way, entah kenapa mereka sangat bangga dan tenteram menjadi abdi dalem yang mengabdi kepada Sultan, padahal hanya digaji 60ribu rupiah sebulan. Heran bukan? Betapa mengabdinya mereka kepada tuannya.

Dalam konteks relasi Tuhan dan umatNya, maka mengabdi itu berarti memiliki sikap atau hati sebagai seorang abdi atau pelayan kepada Tuhan, inilah inward devotion. Mengabdi juga berarti melakukan sesuatu yang nampak, inilah outward devotion. Yang menarik, komitmen mengabdi ini diikuti kata keterangan “tulus ikhlas” dan “setia.” Tulus adalah karakter personal yang jujur, tanpa pamrih, bersih, dan murni, tanpa ambisi pribadi. Setia berkenaan kualitas pemberian diri yang tidak berubah, tekun memberi diri. Tuhan meminta Israel untuk berjanji mengabdi dengan tulus dan setia, jujur dan murni dan tidak berubah.

Ketika Yosua kemudian menantang Israel untuk memilih keputusan teologis mereka, dalam ayat 18 Israel menjawab: “kami pun akan mengabdi kepada Tuhan, sebab Dialah Allah kita.”  Bangsa yang selama di padang gurun sering bebal, bengal dan tidak setia, pada hari itu di Sikhem setelah mempelajari sejarah karya Tuhan, berikrar mau mengabdi kepada Tuhan dengan tulus ikhlas dan setia. Hari ini mari memperbaharui janji yang sama, mari kita mengabdi kepada Tuhan dengan tulus dan setia, sebab Dialah Allah kita.

Ilustrasi
Dalam buku Freedom of Forgiveness, David Augsburger menceritakan tentang Jenderal William Booth, pendiri gereja Bala Keselamatan atau lebih dikenal dengan nama Salvation Army yang suatu ketika kehilangan penglihatannya. Anaknya memiliki tugas yang berat karena diminta untuk mengatakan kepada ayahnya bahwa kemungkinan besar matanya tidak bisa sembuh. Dalam percakapan itu William Booth bertanya, “apakah maksudmu aku akan buta?” Anaknya menjawab, “Iya, papa saya takut itu memang akan terjadi.” Ayahnya melanjutkan, “Jadi aku tidak akan pernah melihat wajahmu lagi?” “Tidak ayah, mungkin di muka bumi ini tidak.” Kemudian ayahnya berkata: “Bramwell, Aku telah mengabdi dengan apa yang aku bisa untuk Tuhan dan untuk umatNya dengan mataku. Sekarang, aku akan tetap mengabdi dengan apa yang aku dapat lakukan bahkan tanpa mataku.” Hari ini, kalau pelayanan gereja Bala Keselamatan telah berkembang di 125 negara, dan banyak memberi pengaruh di bidang sosial, tentu salah satu titik pangkalnya adalah komitmen pengabdian seorang William Booth.

Di tengah situasi kehilangan mata, William Booth tidak kecewa kepada Tuhan, tetapi ia tetap mau mengabdi bagi Tuhan, tentu karena ia telah berjanji untuk mengabdi tulus dan setia.

Aplikasi
Mengabdi dengan tulus dan setia itu berarti tetap bertahan memberi yang terbaik, meskipun situasi pelayanan tidak mengenakkan dan bahkan tidak memberi pengharapan. Dalam konteks sebagai mahasiswa, mengabdi dengan tulus dan setia itu berarti tetap belajar sungguh-sungguh, walau lelah dengan segala tuntutan akademis yang ada. Mengabdi dengan tulus dan setia itu berarti mau melayani dengan totalitas meskipun banyak hamba Tuhan setengah-setengah melayani.

Dalam hidup pengabdian kita, kita pasti akan mengalami satu momen di mana kita di push on the limit, ditekan sampai ambang batas kemampuan, digencet oleh situasi, yang sering membuat kita menitikkan air mata, kita letih, capek oleh semua ini.  apa yang bisa membuat kita tetap bertahan? Selain anugerah Tuhan dan konsep teologis yang benar, komitmen untuk mengabdi dengan tulus setia adalah jawabannya. Hari ini, kalau engkau merasa putus asa dengan situasi pelayanan dan hidup kita, membuatmu ingin undur, mari berkomitmen kembali untuk mengabdi dengan tulus dan setia
Ketiga, Janji menyingkirkan berhala yang ada dalam kehidupan kita
Penjelasan
Usai janji yang kedua, Yosua menandaskan perintah imperatif yang ketiga: “Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada Tuhan.” Bagi keagamaan timur dekat kuno waktu itu, kepercayaan dan pengabdian kepada banyak allah adalah hal yang sangat umum. Kita tahu misalnya tentang dewa Baal, Artemis, Sakuth dan lain sebagainya. Menariknya, dalam perjalanan di padang gurun, Israel pernah menyembah anak lembu emas. Ini sudah memberi indikasi bahwa Israel mempunyai kecenderungan berhati dua yaitu menyembah allah-allah dari bangsa di sekeliling mereka.  Bagian ketiga ayat 14 ini amat lugas dan tegas menantang bangsa yang suka mendua itu untuk memilih kemana hatinya pergi, jika mereka memilih Tuhan, maka mereka harus menjauhkan sesembahan yang lain, dalam terjemahan yang lebih literal: menyingkirkan berhala mereka. Dan Israel pun menjawab tantangan itu “jauhlah daripada kami meninggalkan Tuhan untuk mengabdi pada Allah lain.” Dalam ayat 21-24 mereka mengiyakan untuk menyingkirkan allah-allah mereka yang lain.

Seperti dapat dilihat pada ayat 19, perintah ini jelas berasal karakter Allah yang adalah Tuhan yang kudus dan yang cemburu. Allah yang kudus menyebabkan umatNya harus hidup kudus pula. Hidup kudus adalah hidup yang set apart, terpisah dan dikhususkan dari hidup bangsa-bangsa lain. Allah yang pencemburu adalah karakter Allah yang tidak mentolerasikan adanya allah yang lain dalam hidup umatNya. Sesungguhnya permintaan ini adalah pengulangan dari hukum Taurat yang pertama, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” 

Adanya allah lain dalam kehidupan umat Tuhan adalah berbahaya, ayat 19b jelas berkata “Apabila kamu meninggalkan Tuhan dan beribadah kepada allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu, serta membinasakan kamu.” Cornelius Plantinga dalam  Not The Way It’s Supposed To Be menjelaskan bahwa sikap mendua hati dalam sebuah relasi adalah sikap yang menghancurkan, baik pihak yang menduakan atau pun yang diduakan. Bila umat Allah menduakan Tuhan, maka itu menghancurkan hidup umat Allah sendiri dan menghancurkan hati Allah sendiri.
Hari ini, Allah meminta kita umat-Nya untuk memperbaharui hubungan kita dengan Dia, dengan meminta kita untuk berjanji menyingkirkan allah lain, berhala yang ada dalam hidup kita.

Ilustrasi
Saya hendak membacakan dua pucuk surat. Yang pertama adalah surat dari pengguna komputer yang malang kepada bagian direktur bantuan teknis sebuah perusahaan komputer. Demikian suratnya:
“Departemen bantuan teknis yang terhormat, akhir tahun lalu saya upgrade dari program pacar 7.0 pada program istri 1.0, di mana tanpa saya setting, tiba-tiba program ini tanpa diperintahkan menjalankan proses pencetakan anak yang sangat banyak, yang menghabiskan kapasitas memori, tenaga dan sumber daya yang amat berharga. Padahal perihal ini tidak pernah diinformasikan secara jelas pada brosur sebelumnya. Ditambah lagi program istri 1.0 menginstall program-program aplikasi sendiri dan langsung menjalankan program-program tersebut selama sistem sedang diinisialisasi. Kemudian, program istri 1.0 juga memantau program-program aplikasi lainnya yang sedang berjalan, seperti olahraga 10.3, mancing 2.5, nonton bola 5.0 semua tidak bisa berjalan seperti sebelumnya karena sistem crash down, setiap kali program aktivitas ini dicoba untuk dijalankan. Sepertinya, program istri 1.0 tidak bisa dijalankan secara sambilan di background, bersamaan dengan upaya saya menjalankan program-program aplikasi favorit saya lainnya.  Saya sedang berpikir dan mencoba untuk mengembalikan kepada program pacar 7.0, tetapi ternyata perintah uninstall sama sekali tidak bisa dilakukan terhadap program ini. Dapatkan anda menolong saya? Terimakasih sebelumnya dari pengguna komputer yang malang.”

Ini surat jawaban dari departemen bantuan teknis, terhadap pengguna komputer tersebut:
“Yang kekasih pengguna komputer yang malang, ini adalah masalah umum yang dikomplain kebanyakan pria karena pengertian mereka yang salah, banyak pria yang upgrade dari pacar 7.0 ke istri 1.0 dengan berpikir bahwa program istri 1.0 adalah program utilities, pelengkap dan hiburan. Sejujurnya, program istri 1.0 adalah operating system yang didesain penciptanya untuk menjalankan semua program aplikasi, dan sepertinya mustahil untuk anda dapat menghapus program istri 1.0 untuk kembali pada pacar 7.0. Sdr tidak akan bisa uninstall, delete, mau pun remove bahkan format semua program istri 1.0 yang telah ada dalam sistem sdr. Begitu sdr menginstall program istri 1.0 anda tidak akan bisa kembali pada program pacar 7.0 karena operating system ini tidak didesain pencipta untuk menerima hal itu. Beberapa orang dengan bodohnya, mencoba menginstall program pacar 8.0 atau istri 2.0 akhirnya malah menghasilkan masalah yang lebih besar dan malah menghancurkan komputer mereka. Cobalah baca buku panduan dan saya sarankan anda menginstal program aplikasi yang mendukung OS istri 1.0 seperti misalnya program ://say:://ya sayang, untuk mengurangi augmentasi atau gangguan yang ada. Ohya, harus anda ketahui operating system istri 1.0 adalah program yang sangat luar biasa, tetapi juga perlu maintenance atau pemeliharaan yang luar biasa. Cobalah anda menambahkan program-program aplikasi, yang dapat menambah performance OS istri 1.0 misalnya liburan 3.3, pergi ke salon mahal 4.1, makan malam romantis 1.1. surat cinta 2.1, bunga mawar 2.3, atau berlian 5.0. Tetapi saya peringatkan anda, jangan sekali-sekali menginstall program sekretaris rok pendek 3.3 karena akan menghasilkan kerusakan fatal yang tidak dapat diperbaiki dan dikembalikan seperti semula. Semoga anda beruntung terimakasih, dari direktur bantuan teknis.”

Dua surat itu jelas surat yang imajiner, tetapi memberikan kebenaran kepada kita, ketika kita memilih untuk berelasi dengan seseorang, tidak ada yang lain yang boleh mengganggu relasi itu. Demikian juga, ketika kita memilih untuk mengabdi kepada Tuhan dengan tulus dan setia, itu berarti menyingkirkan allah-allah yang lain.

Aplikasi
 J. I Packer pernah bertanya, “Apa allah lain yang bisa kita punya selain Tuhan?” Ia menjawab banyak.  Uang, kemapanan hidup, nafsu, perasaan-perasaan seperti kebanggaan diri, keinginan untuk diakui adalah daftar kecil yang bisa dicantumkan. Bagi Packer, daftar ilah-ilah adalah tidak akan pernah berakhir, karena, apapun yang diijinkan oleh seseorang untuk menguasai hidupnya itulah ilahnya.

Hidup mengikut Tuhan itu adalah hidup yang menggengam dan melepaskan. Menggenggam apa yang Tuhan mau untuk kita genggam, melepaskan apa yang Tuhan suruh untuk kita lepaskan. Berhala adalah apa yang sering ingin kita genggam, padahal Tuhan meminta kita melepaskannya. Padahal kalau kita terus menggenggamnya erat-erat, ia hanya akan menghalangi berkat dari relasi kita dengan Tuhan. Hari ini, mari merenungkan masing-masing, apa allah lain yang menguasai hidupmu saat ini?  Kalau ada, mari kita bertobat di hadapan Tuhan, memperbaharui hubungan kita dengan Dia dan berjanji melepaskan, menyingkirkan berhala kehidupan kita.

Penutup


[Relationship with God is the most important relationship that You can have. Embrace it every day] Jadi, karena relasi dengan Tuhan adalah relasi yang terbaik yang dapat ada dalam hidup kita, itulah yang membuat kita mau tetap habis-habisan mempertahankannya, meskipun bagi kita itu melelahkan. Karena relasi dengan Tuhan adalah yang terbaik dan terpenting dalam hidup ini, maka kita mau hidup takut akan Dia, mengabdi dengan tulus dan setia, dan menyingkirkan apa pun yang mengganggu relasi itu.

Memang akan sangat sulit, karena kita adalah manusia yang rapuh dan sering lupa janji dan komitmen kita, tetapi dengan pertolongan Roh Kudus saja kita dimampukan.

.

Renewing Your Promises: Yosua 24:1-28 (part one)




Pendahuluan

Saya yakin kita semua tahu Fauzi Bowo. Dalam pilkada DKI Jakarta yang lalu ia mengajukan diri lagi sebagai gubernur, namun gagal. Yang menarik, ada sekelompok masyarakat melalui Facebook mendirikan Gerakan Anti Foke. Slogan mereka: “siapa pun gubernurnya boleh, asalkan bukan Foke.” Ternyata, mereka adalah kalangan yang kecewa pada Foke yang dianggap gagal sebagai pemimpin yang menepati janji. Pada tahun 2007 ketika ia menggantikan Sutiyoso, ia punya slogan “serahkan Jakarta pada ahlinya.” Tapi, kenyataan di lapangan mempertanyakan keahlian si Pak Kumis itu, buktinya kemacetan dan kemiskinan toh masih menjadi masalah. Foke Pak Kumis, dinilai gagal menepati janji.

Dapat kita lihat bahwa salah satu penilaian terhadap seorang pemimpin adalah kesanggupan menepati janji.  Padahal, bukankah pada hakikatnya hidup kita adalah rangkaian janji dan komitmen? Coba pikirkan, ketika menikah, ada tanda janji setia yang melingkar di jari manis. Pun demikian, dalam relasi kita dengan Tuhan, kita turut penuh dengan janji-janji dan komitmen-komitmen.
           
Problemnya, sebagai manusia yang rapuh, seringkali kita lupa tentang janji yang pernah kita ucapkan di hadapan Tuhan. Kita sering melantunkan nyanyian yang isinya adalah janji-janji kita bukan? Misalnya, janji hidup kudus, melayani setia dan lain sebagainya. Namun, sesering kita bernyanyi, sesering pula nyanyian itu berakhir menjadi karaoke rohani yang kosong, nyanyian tanpa arti karena janji yang lupa ditepati. Ketika, janji diingkari efeknya selalu negatif, hubungan dengan Tuhan memburuk dan seringkali berjalan di tempat. Oleh karena itu, sejatinya dalam kehidupan berelasi dengan Tuhan, adanya pembaharuan janji adalah perlu, supaya kita bisa melangkah dalam level yang baru hubungan kita dengan Tuhan.

Firman Tuhan dalam Yosua 24 ini mengajak kita untuk memperbaharui janji-janji kita sehingga hubungan kita dengan Tuhan pun diperbaharui. Pertanyaannya, janji apa saja yang perlu kita perbaharui?
Pertama, Janji hidup takut akan Tuhan
Penjelasan

Pasal 24, adalah puncak atau klimaks kitab Yosua, bahasa kerennya, final sequence menunjukkan pentingnya kisah ini. Latar belakang pasal 24 yaitu Sikhem adalah satu tempat istimewa bagi bangsa Israel. Setiap bangsa setidaknya selalu punya satu tempat istimewa yang bersejarah. Misalnya, Prancis dengan Arc de Triomphe yang adalah monumen kemenangan pada era Napoleon Bonaparte, atau Amerika Serikat dengan Patung Liberty-nya yang adalah monumen peringatan 100 tahun kemerdekaan Amerika. Israel punya Sikhem. Di situ Yosua meminta seluruh bangsa Israel berkumpul di hadapan Allah. Sikhem adalah tempat yang istimewa karena di sana banyak terjadi peristiwa penting. Ia adalah tempat di mana Tuhan pertama kali menampakkan diri pada Abraham, juga tempat Yakub mendirikan mezbah bagi Tuhan.  Jadi, dikumpulkannya Israel di Sikhem bertujuan mengingatkan bangsa ini akan sejarah perjumpaan dan karya Allah dengan para leluhur Israel.

Sebagaimana ayat 2-13 paparkan, dimulai frasa “beginilah firman Tuhan” Allah pun berfirman secara direct-speech, dengan percakapan langsung kepada Israel melalui Yosua. Yang menarik  isi percakapan ini adalah daftar perbuatan-perbuatan Tuhan dalam sejarah Israel: panggilan Abraham, janji keturunan yang digenapi dalam Ishak, pemeliharaan Allah pada keluarga Yakub, keluaran Israel dari Mesir, aksi spektakuler Tuhan dengan membelah laut Teberau, sampai perang dan kemenangan melawan bangsa-bangsa Kanaan.  Kalau di kampus saya, ada mata kuliah SGD, Sejarah Gereja Dunia, hari itu di Sikhem Israel mendapat mata kuliah SKT, Sejarah Karya Tuhan. Oleh karena itu, bukankah belajar sejarah itu sangat penting dan biblically?

Pertanyannya,  untuk apa Tuhan mengajarkan ulang tentang sejarah karyaNya?  Kalau kita perhatikan, usai percakapan langsung Allah-Israel, dalam ayat 14 fokus bergeser pada Yosua yang  berkata “oleh sebab itu.”  Ini adalah sebuah frasa yang merupakan frasa penghubung sebab-akibat antara bagian sebelumnya dan sesudahnya.  Artinya, sejarah karya Tuhan itu menjadi dasar kelanjutan relasi umat Israel dan Tuhan sebagai umat perjanjian. Allister McGrath, seorang sejarahwan teologi menguraikan bahwa studi sejarah itu berguna untuk memikirkan keputusan teologis di masa kini.  Di hari itu, Israel belajar sejarah karya Tuhan sebagai landasan keputusan pembaharuan janji dalam pembaharuan relasi mereka dengan Tuhan.

Hari ini coba kita mengingat-ingat sejarah karya Tuhan dalam hidup kita masing-masing sebagai dasar pembaharuan relasi kita dengan Tuhan. Yang paling mudah, ingatlah momen pertama kali kita bertemu dengan Tuhan dan kemudian berkomitmen menjadi hamba Tuhan. Atau ada sejuta sejarah karya Tuhan yang engkau ingat? Silahkan. Saya yakin ada banyak hal yang bisa kita ingat, saya membayangkan, kalau mahasiswa dibebastugaskan dari penulisan skripsi tetapi malah menulis tiap detail Sejarah Karya Tuhan dalam hidup mereka dalam buku, barangkali perpus Prothumia tidak akan cukup menampungnya bahkan tidak akan selesai-selesai. Hari ini kita mengingat sejarah karya Tuhan itu sebagai fondasi bagi pembaharuan relasi kita dengan Tuhan.

Mari kembali ke perikop kita. Dalam ayat 14, yang adalah ayat kunci perikop ini, Yosua berkata:  “Oleh sebab itu, takutlah akan Tuhan dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah.”  Ayat ini adalah gagasan utama perikop ini.  Ayat ini menyodorkan pada kita, janji-janji apa yang perlu dibaharui agar kita menggapai level yang baru dalam relasi kita dengan Tuhan. Dan gagasan itu tertuang dalam tiga kalimat imperatif yang ada.  Kita fokus pada kalimat imperatif yang pertama “takutlah akan Tuhan.”

Kalau kita lihat sepanjang PL dari Pentateukh, Kitab Sejarah, Mazmur, Amsal dan Nabi-nabi, takut akan Tuhan adalah karakter utama yang harus ada dalam kerohanian umat percaya.  Kitab Pengkhotbah merangkum pengajaran PL dengan penutup kitabnya, “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintahNya. Karena ini adalah kewajiban setiap orang.”  Menimbang hal itu, maka sangat jelas bahwa takut akan Tuhan adalah IPK—indeks prestasi kerohanian—seorang anak Tuhan.

Takut akan Tuhan itu jenis ketakutan seperti apa? saya kemarin browsing dan menemukan setidaknya ada 130 jenis ketakutan yang bisa dianggap berlebihan atau fobia.  Misalnya Altophobia: takut akan ketinggian, Nycotophobia: takut akan kegelapan, Enetophobia - takut jarum atau suntikan. Itu yang umum kita dengar, tetapi ada yang buat saya aneh, misalnya Ablutophobia - takut mandi, mencuci, atau membersihkan, Gynophobia - takut perempuan, Philophobia - takut cinta.

Apakah konsep takut akan Tuhan ini sama dengan perasaan-perasaan takut jenis demikian? Tidak! Dalam teologi PL-PB, takut akan Tuhan itu adalah sebuah sikap takjub, sikap hormat anak-anak Allah kepada pencipta dan penebus-Nya. Ia adalah rasa takut yang muncul dari kesadaran bahwa manusia adalah sosok yang kerdil, yang telah diampuni oleh sosok yang Agung, Raja yang Mahakuasa. Di mana seharusnya, rasa takut akan Tuhan akan membuat manusia mendaraskan ketaatan kepada hukum Tuhan dan kerinduan untuk hidup kudus.

Sebagai umat yang sering tampak tidak takut akan Tuhan, melanggar kekudusanNya, tidak taat pada perintahNya, di Sikhem, Israel mengadakan perjanjian ulang, re-kovenan, pembaharuan hubungan antara mereka dan Allah. Dan janji yang pertama yang perlu dibaharui Israel adalah menjadi umat yang takut akan Tuhan. Oleh karena itu,  pagi hari ini, dengan mengingat sejarah karya Allah dalam hidup kita, mari kita juga memperbaharui hubungan dengan Tuhan, dengan berkomitmen menjadi orang yang takut akan Tuhan.

Ilustrasi
Sebuah lembaga survei di Amerika Serikat, yaitu Francis Schaeffer Institute of Church Leadership Development pernah melakukan penelitian terhadap kondisi pendeta-pendeta di ladang pelayanan. Mereka menemukan 72% dari para pendeta hanya membaca Alkitab ketika mereka mempersiapkan khotbah. Itu berarti hanya tersisa 38% yang membaca Alkitab untuk saat teduh pribadi.  Kemudian, 30% menyatakan bahwa mereka sedang memiliki perselingkuhan, dan hubungan seksualitas dengan jemaat mereka. Jumlah yang tidak sedikit dan tentu mengusik hati nurani kita. Mereka mengatakan bahwa statistik itu bisa saja lebih besar.  Bahkan, kesimpulan mereka, para pendeta itu sangat terdidik untuk memiliki kemampuan melakukan dosa di hari Sabtu dan berkhotbah di hari Minggu tanpa berpikir ada yang salah dan ada masalah dalam diri mereka.

Penelitian ini mengagetkan dan mengerikan. Penelitian itu menunjukkan kepada kita, betapa banyaknya mereka yang mengaku hamba Tuhan, tetapi tidak hidup takut akan Tuhan. 
 
Aplikasi
Seharusnya, makin kita dewasa secara teologis dan rohani, maka kita akan semakin takut akan Tuhan. Sikap takut akan Tuhan itu direfleksikan dengan kesadaran yang makin kuat akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita. Hamba yang takut akan Tuhan adalah ia yang memegang teguh integritas diri. Ia memperkatakan fakta bukan kebohongan. Ia memakai uang dengan bertanggung jawab bukan untuk kesenangan semata. Ia mengerjakan pelayanan dengan rasa hormat kepada Tuhan sehingga memberi yang terbaik, bukan yang asal-asalan. Ia hidup otentik bukan munafik. Ia melatih diri untuk terus berlari dalam lintasan hidup kudus, bukan tenggelam dalam kolam keberdosaan.  kalau sejauh ini kita melangkah dan mendapati diri kita tidak takut akan Tuhan, mari hari ini kita bertobat dan memperbaharui relasi dengan Tuhan dengan berkomitmen kembali menjadi seorang yang takut akan Tuhan.