Tampilkan postingan dengan label refleksi alkitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi alkitab. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Desember 2013

Refleksi dari lukisan Rembrandt “Jacob Wrestling with The Angel”: Mencari Arti Lelaki Sebagai Seorang Pemenang


Kalau anda perhatikan seksama, sampul buku ini memakai lukisan dari pelukis terkenal Belanda, Rembrandt Van Ryn, yang berjudul “Jacob Wrestling with The Angel.[1]  Lukisan itu memotret puncak atau klimaks dari perjalanan hidup seorang Yakub, tokoh Alkitab, yang dalam Camp Men’s Breakthrough kali ini menjadi cerminan setiap kita.  Refleksi ini memusat pada dua aktor yang dilukis Rembrandt: Yakub dan malaikat.

Pertama, sosok Yakub.  Saya rasa kita semua akan setuju jika dikatakan: kisah Yakub adalah kisah kita semua, kisah para lelaki.  Ia lahir sebagai anak bungsu dari dua bersaudara di tengah keluarga yang mengakarkan iklim favoritisme, dan melegalkan suasana kompetisi yang saling menjegal di antara saudara sedarah. Kondisi keluarga ini membesarkan Yakub menuju sosok lelaki yang manipulatif, sifat yang bergaris lurus dengan arti namanya “penipu.”  Lihatlah Yakub, dengan tipu muslihatnya ia mengambil hak kesulungan dari Esau dengan semangkok kacang merah. Ia menipu ayahnya juga untuk mendapatkan berkat, sebuah hal yang dipelopori ibunya, tetapi saya yakin ia menyetujui dan menikmatinya, demi dirinya sendiri. 

Yakub lari ke tempat Laban karena takut atas ancaman Esau, di sini ia menjadi peternak yang berhasil. Lelaki yang juga pecinta itu pun berhasil mendapatkan gadis idamannya. Ah, bukankah ini status yang sangat umum harus dan ingin dicapai oleh para lelaki? Lelaki yang menjadi pemenang adalah seorang penakluk, penguasa, pejuang dan pemilik keindahan. Ya, Yakub mendapatkan itu semua.  Tetapi benarkah ia lelaki yang menjadi pemenang?

Aksi tipu menipu Yakub tak berhenti di situ, ia kelabuhi mertuanya sehingga hartanya semakin banyak.  Strategi manipulatifnya tak berhenti, menjelang bertemu dengan Esau, ia membujuk rayu kakaknya dengan harta benda.  Namun, semua berubah ketika si lelaki yang mencoba untuk terus-menerus menjadi pemenang itu, datang ke sungai Yabok, tempat di mana ia menjadi lelaki yang kalah.

Rembrandt melukis Yakub sebagai seseorang pria yang gagah, cambang lebat dan kekar adalah tanda seorang lelaki bagi era Rembrandt.  Pakaian yang dipakai Yakub dalam lukisan Rembrandt adalah pakaian seorang gembala. Jangan membayangkan gembala sebagai pekerjaan yang mudah, santai dan menyenangkan! Gembala adalah pekerjaan yang keras: melindungi dari hewan-hewan buas, mengatur domba-domba dungu, bertarung dengan sengat mentari dan dinginnya tusukan malam.  Tentu pekerjaan seorang gembala adalah awal menjadi seorang pemimpin yang handal.  Yakub telah teruji dalam itu semua. 

Maka pertarungan Yakub dengan sosok Ilahi, seorang malaikat (yang adalah representasi dari Allah sendiri, melek, yang artinya “utusan” identik dengan sang pengutus, sehingga pergelutan dengan malaikat ini adalah pergelutan dengan Allah sendiri), adalah ujian terhadap kekuatan Yakub sebagai seorang lelaki.

Kekuatan Yakub sebagai seorang lelaki amatlah kuat, perhatikan Rembrandt melukisnya dengat akurat: kedua tangannya tak terlihat, mungkin sibuk menyerang untuk mengalahkan lawan.  Penulis Alkitab melaporkan, “Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia [Yakub] sampai fajar menyingsing.  Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya. . .” Sangat kuat, sangat ambisius, sangat lelaki?

Kedua, sosok malaikat. Lelaki lawan dari Yakub ini juga tak kalah kuat.  Menariknya Rembrandt melukis wajah malaikat sebagai seorang lelaki yang lemah lembut.  Perhatikan matanya yang memandang kepada Yakub. Itu adalah sebuah tatapan anugerah dan kasih karunia.  Tangannya kanannya memberikan pelukan, tangannya yang lain dan lututnya menyerang bagian utama pertahanan Yakub: sendi pangkal paha.  Kejadian 32:30 menjelaskan bahwa lelaki itu adalah Allah sendiri. Pihak superior itu memandang dengan mata menyorotkan kasih karunia, yang seolah-olah berkata kepada Yakub: kapan kamu berhenti untuk mencari kemenangan dengan caramu sendiri?  Kapan kamu ingat padaku Allah penguasa hidupmu? Tidakkah kamu sadar bahwa kamu hanyalah sesosok lelaki dengan berbagai kelemahan? Kapan kamu menyerah kalah?

Kemenangan Seseorang Yang Kalah
Jika kita perhatikan dengan seksama kisah di Kejadian 32, orang itu berkata kepada Yakub, “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.”  Menurut saya, kalimat ini mengundang banyak pertanyaan.  Jelas-jelas Yakub-lah yang terpukul. Yakub-lah pihak yang kalah.  Lagipula, inferioritas Yakub di depan Sang Malaikat itu begitu ketara.  Malaikat itu memberi nama baru kepada Yakub.  Pada masa itu, pemberian nama oleh seseorang kepada pihak yang lain, menunjukkan kekuasaan dan kebesaran pihak pemberi nama di atas pihak yang namanya dibaharui.  Oleh karena itu  jelas, malaikat-lah pemenangnya dan bukan Yakub.

Pada akhirnya, Yakub tampil sebagai lelaki yang kalah, tetapi ia disebut menang.  Inilah kemenangan seseorang yang kalah.

Tanpa Yakub menjadi kalah, ia takkan dapat menjadi seorang pemenang.  Tanpa Yakub mengosongkan dirinya, ia takkan bisa menerima pemberian Allah.  Tanpa Yakub menyerah (surrender) dan mengakui kelemahannya (vulnerable), ia tidak bisa menikmati anugerah dan kekuatan Allah. Tanpa Yakub melepaskan genggamannya, ia takkan punya tangan yang terbuka menerima berkat-Nya. Tanpa Yakub berhenti berusaha dengan caranya sendiri, ia takkan mencapai tujuan dan rencana-Nya.

Inilah inti menjadi seorang pemenang dari perspektif firman Tuhan: kalah di hadapan Allah, supaya kita menang di dalam kemenangan-Nya.

Epilog: Lelaki yang menjadi pemenang adalah lelaki yang spiritual

Coba anda searching di mesin pencari Mbah Google dengan kata kunci “lelaki” dan “menjadi seorang pemenang.”  Anda akan menemukan bahwa budaya dunia kita masa kini, memberikan arti lelaki yang menjadi pemenang dengan gambaran pria-pria kekar, kaya, penuh dengan kekuasaan, dan dikelilingi wanita cantik.  Dari refleksi kita pada lukisan Rembrandt dan kisah Yakub di Sungai Yabok di atas, benarkah ini artinya?  Sungguh, kita perlu menggugatnya dan mencari arti yang sejati.

Pada akhirnya, usaha menemukan dan mengerti arti yang tepat tentang “lelaki yang menjadi pemenang,” menuntut kita untuk kembali kepada kisah penciptaan lelaki pada Kejadian 1-2.  Di situ kita melihat, lelaki diciptakan dengan hembusan nafas Allah.  Itu berarti identitas lelaki yang sejati, hanya bisa kita temukan di dalam relasi kepada Allah.  Romo Deshi Rahmadani, SJ menulis:
kepada kita para lelaki, sebenarnya dipercayakan sebuah misi besar misi besar untuk menyadarkan para sesama lelaki tentang hal ini.  Untuk itu, kita sendiri perlu terlebih dahulu memeluk erat-erat identitas kita sebagai lelaki spiritual.  Menjadi lelaki sejati tidak bisa dilakukan dengan sekadar memilih musik keras, kopi kental atau rokok cerutu. Tidak pula dengan mengolah otot atau mengumbar kemarahan pada setiap orang yang memotong jalur kendaraan kita.  Jika kita mau menjadi lelaki sejati, kita harus menjadi sangat spiritual.[2]
Yakub meraih identitas lelaki sebagai pemenang, ketika ia menemukan damai (rest) di dalam Allah. Saat itulah ia meraih hakikatnya sebagai lelaki spiritual.  Jadi, lelaki sebagai seorang pemenang adalah berkenaan dengan kehidupan rohani kita.

Sampailah kita pada titik, di mana kita perlu memandang Yesus Kristus. 

Misteri inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah kisah tentang Allah yang turun dalam rupa seorang lelaki! Dan tahap-tahap kehidupan Yesus membuktikan bahwa Ia adalah seorang lelaki sejati. 
Ia adalah Putra yang secara istimewa dikasihi oleh Bapa-Nya (boy); Ia adalah lelaki yang siap bertualang menjelajah wilayah dan tantangan baru (cowboy); Ia adalah lelaki yang melihat jelas sebuah visi baru dan membiarkan tangan-Nya ikut terkotori, terluka, berlumuran darah, dalam pertempuran sebagai seorang pejuang yang berani (warrior); Ia adalah lelaki yang memiliki hati yang mengagumi keindahan manusia yang dari dalamnya terpancar daya ilahi (lover); Ia adalah lelaki yang memiliki kuasa begitu besar dan sungguh tahu bagaimana menggunakan kuasa-Nya agar semua orang yang ada di bawah kekuasaan-Nya dan yang terbuka pada-Nya mengalami peningkatan kualitas kemanusiaan (king); Ia adalah seorang lelaki yang kehadiran-Nya selalu dibutuhkan karna dari-Nya terpancar nasihat, peneguhan, peringatan, dan pelajaran berharga tentang hidup (sage).  Benar, lelaki itu adalah Yesus! Terpisah dari Yesus, kita sebagai lelaki sungguh akan dibingungkan, tak tahu lagi arah tujuan kita karena Sang Anak Domba Allah adalah juga Sang Singa dari Yehuda![3]

Saat ini di Camp Men’s Breakthrough, Lelaki Sejati yaitu Yesus Kristus itu memandang kita dengan wajah-Nya yang penuh kasih karunia, dan kasih setia Ilahi.  Ia menanti kita untuk tunduk, mengakui kekalahan kita, sehingga kita menemukan kemenangan di dalam-Nya.  Ajakannya begitu lemah lembut, namun juga begitu dahsyat: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Maukah anda?


#Tulisan ini ditulis dalam rangka Camp Men's Breakthrough, kisaran bulan Oktober 2013




[1]Lih.  www.gutenberg.org/files/19602/19602-h/19602-h.htm#l
[2]Adam Harus Bicara (Jakarta: Kanisius, 2010) 278. Saya menyarankan untuk para lelaki dapat membaca buku ini.  Meskipun ditulis oleh seorang Romo Gereja Katolik Roma, kita dapat menyetujui pendapat-pendapatnya tentang lelaki di dalam buku ini.
[3]Ibid. 281

Senin, 25 Maret 2013

Bible Study: Lukas 9:62 “Tak perlu menoleh ke belakang”




Tadi pagi, di tengah insomnia yang parah dan akut banget, tiba-tiba ada chat masuk via whatsapp dari seorang sahabat dan bertanya “Wan, maksudnya Lukas 9:62 apa?” Dan aku terdiam, heran, sembari berpikir kenapa sering sekali anak-anak muda ini galau sampai dini hari, baca Alkitab dan kemudian bertanya hal-hal yang “mengejutkan dan tidak pernah terpikirkan seorang sarjana Alkitab.”   [Hal yang sama juga sering dilakukan oleh seorang teman yang sekarang sedang studi S-3 di Singapore, juga beberapa teman yang lain di luar kota. Well, guys, jangan berhenti untuk bertanya! :p]

Tapi aku selalu bersukacita ketika ada mereka yang menanyakan sesuatu tentang firman Tuhan dan aku belum bisa menjawabnya seketika itu juga, itu berarti aku harus mencari jawaban, dimana itu berarti juga aku harus bersiap untuk mendapatkan harta berharga yang begitu banyak terpendam dalam kata-kata firman Tuhan! Hehehehe


Nah, sekarang, tulisan ini bukan sebuah risalah teologis atau tafsiran teknis seorang sarjana teologi, tapi sekadar catatan studi singkat yang bermaksud menjawab pertanyaan di atas.  Aku akan membaginya dalam bagian-bagian kecil,

Konteks Perikop

Nats 9:62 ini terletak dalam kisah Yesus yang sudah mengarahkan diri ke Yerusalem, tempat penderitaan-Nya dan penganiayaan-Nya (9:51).  Lalu, percakapan yang terjadi adalah Yesus dengan murid-muridNya (ay. 57).  Kemungkinan besar, “murid-murid” di sini merujuk pada sekumpulan orang banyak yang mengikut Yesus kemanapun Ia pergi.  Topik utama yang dengan gamblang menjadi perhatian perikop 9:57-62 jelas adalah tema “Mengikut Yesus.”  Kata “ikut” diulangi tiga kali dalam setiap percakapan antara Yesus dan seseorang yang mau mengikut Dia memperlihatkan topik ini adalah topik utama! Oke, well. Apa yang dimaksud Lukas 9:62?


Dan seorang lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku” (ay. 61)


Rasanya kita perlu tahu terlebih dahulu soal orang ketiga yang berbicara ini. Kalau diperhatikan, formulasi dari kalimat orang ketiga ini sebenarnya sama dengan formulasi kalimat dari orang kedua yaitu: (1) Pernyataan/Ajakan untuk ikut Yesus  (2) Izin untuk melakukan sesuatu terlebih dahulu.  Lalu jawaban Yesus juga sama (3) Penolakan terhadap permintaan orang tersebut dengan mencantumkan referensi tentang “Kerajaan Allah.”

Menarik bahwa sebenarnya, “pamitan terlebih dahulu dengan keluarga” adalah sebuah hal yang wajar dalam pemikiran orang Yahudi. “Menghormati orangtua” adalah soal penting yang perlu diperhatikan oleh tiap orang Yahudi.  Bahkan, kalau kita ingat kisah Elisa yang merespons panggilan Elia dalam 1 Raja-raja 19:19-21, Elisa juga mengungkapkan ingin pulang dulu ke rumah orangtuanya sebelum pergi mengikut Elia. Tetapi, rupa-rupanya, Yesus berbeda! Panggilan memberitakan kerajaan Allah dan mengikut Dia adalah panggilan yang tidak bisa ditunda-tunda, memperlihatkan kepentingan yang sangat besar dalam situasi yang ada!




“Tetapi Yesus berkata: Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah.”

Kata “tetapi” jelas adalah sebuah pengontrasan sekaligus konfrontasi terhadap permintaan orang ketiga tersebut.  Jawaban Yesus ini adalah sebuah peringatan yang keras.  Darell Bock berkomentar: “Jesus’ reply is really a warning, since he sees a danger in the request. One may follow him initially, only to long for the old life later. Such looking back does not promote spiritual health. If one is going to follow Jesus, one needs to keep following him and not look back. Jesus’ reply here is not so much a refusal as it is a warning.” 

Mungkin kita lebih paham kalau kita juga mengingat bahwa bangsa Israel pernah menoleh ke belakang setelah mereka mengalami keluaran dari Mesir (Keluaran 16:3).  Istri Lot juga melihat ke belakang setelah keluar dari Sodom (Kejadian 19:26).  Dan “melihat ke belakang” dalam kisah-kisah itu menunjukkan ketidakpercayaan terhadap Allah sebagai pribadi yang berkuasa dan memelihara hidup mereka. “Melihat ke belakang” dalam kisah-kisah itu berarti melihat hidup lama, comfort zone, pencapaian yang telah mereka miliki!


Jadi, permintaan “pamitan dahulu” untuk farewell party dengan keluarga bisa dipahami sebagai “keinginan yang masih ada di dalam diri kita untuk tetap berada dalam kehidupan yang lama  yang kita miliki sebelum kita mengikut Yesus.” 

Padahal, jelaslah bahwa “to follow Jesus means to not look back to the way life was before one came to follow him.”  



Metafora “membajak” adalah metafora yang sangat familiar bagi orang Yahudi di Palestina, karena negeri itu adalah negeri agraris. Uniknya, tanah Palestina bukanlah tanah yang datar dan mudah untuk dibajak, tetapi tanah di sana tidaklah rata. Maka, apabila seorang pembajak menoleh ke belakang, maka ia tidak akan bisa fokus mengikuti petani yang sedang menyebar benih tanaman sesuai dengan alur atau lajur  tanah yang disediakan. 

Dapat disimpulkan: “Discipleship demands attention to the rough road before us. To look back risks being knocked off course.”   Menoleh ke belakang hanya akan membuat kita kehilangan fokus terhadap pekerjaan yang Tuhan ingin kita lakukan.



So, apa maksud dari Lukas 9:62?

1. Jangan menoleh ke belakang: jangan memberikan fokus kepada hal-hal yang dulu menjadi perhatian utama kita. Uang, karier, prestasi akademis, popularitas, segala sesuatu yang adalah comfort zone kita, karena sungguh, hal-hal itu dapat membuat kita mencoba untuk in control bagi kehidupan kita sendiri.  Soal “menoleh ke belakang” menurutku juga termasuk pola hidup dan gaya hidup lama sebelum kita mengikrarkan diri menjadi pengikut Kristus: dosa-dosa kita dan kecanduan-kecanduan kita.


2. Fokuslah pada bajakan “untuk kerajaan Allah.”: Fokuslah pada apa yang Allah inginkan dan kehendaki untuk Ia genapi melaluimu.  Setiap kita punya panggilan masing-masing dan peran masing-masing untuk kerajaan Allah. Ada karya Allah yang begitu besar yang sedang Ia kerjakan sejak kematian dan kebangkitan Yesus yang pernah terjadi dalam sejarah ribuan tahun yang lalu, yaitu transformasi dunia ini. Setiap kita yang “mengikut Dia” berarti dipanggil dalam kasih karunia-Nya untuk terlibat dalam transformasi itu! So, mari fokus membajak dalam kerajaan Allah, apa yang kita temui untuk kita kerjakan, mari kita laksanakan dengan setia, karena kita adalah “hamba-hamba yang tidak berguna, hanya melakukan apa yang harus kita lakukan” (dialihbahasakan dari Lukas 17:10).


Dietrich Boenhoeffer pernah berkata: 

“Terlalu melekat kepada keinginan-keinginan kita dapat mencegah kita untuk menjadi apa yang seharusnya dan dapat kita capai.” 

Ditegaskan pula oleh Charles Ringma:

Kita harus belajar melepaskan, sekalipun itu berarti kita harus menderita sedikit. Melepaskan yang salah dan tidak berguna akan membuat kita bebas untuk meraih peluang-peluang baru, karena tindakan itu menciptakan kekosongan yang dapat diisi dengan hal-hal yang lebih baik.” 


Sungguh, dua kalimat yang menghentakku berulang-ulang kali itu, adalah sebuah kebenaran.  Mengikut Kristus adalah soal menggenggam apa yang Tuhan Yesus ingin kita genggam, dan melepaskan apa yang Tuhan minta untuk kita lepaskan. Ya, meskipun itu sungguh-sungguh amat menyakitkan. Tapi apa yang lebih indah, daripada mengikut Yesus dan taat pada suara-Nya? 






Prayer of Confession & Commitment

(based on Matthew 16: 21-28)



Merciful God,
You call us to follow;
to turn away from our own selfish interests,
and to take up our cross and follow after You,
even if the path is difficult to see,
or is heading in a direction we would never have chosen for ourselves.
Forgive us for being so quick to question
and so hesitant to follow.
Help us to see with the eyes of faith,
rather than from our own human point of view.
Teach us to follow without fear,
knowing that You are always with us,
leading the way.
Amen.






*Pada sebuah pagi yang begitu sepi. Pregolan Bunder 36. 
Ditulis khusus untuk (1) Melviana Aurelia, sahabat pemuda di GKI Pregbun. (2) Juga mengingat kepada KTB Pniel: Hendra Fongaja, Anthony Chandra, dan Daniel Simanjutak. Kini kami tersebar di penjuru bangsa ini: Surabaya, Jakarta, Papua, Makassar, kiranya kita fokus membajak bagi kerajaan Allah, dan tak menoleh ke belakang.


Selasa, 19 Maret 2013

Tentang dunia yang penuh kompetisi (bagian 2)



Well, tulisanku kali ini masih melanjutkan permasalahan yang kupikirkan di tulisanku terdahulu. Malam ini, ditemani dengan lagu “His Glory Appears” by Hillsong yang syahdu, dan juga kopi Nescafe (eh, nggak promosi lhooooo :p, biasanya aku minum kopi hitam-pahit, entah kenapa hari ini aku minum kopi sachet), aku mau menuliskan beberapa pokok pemikiran.




The Art of War, pemenang dan kecepatan



Kemarin aku melihat-lihat bahan-bahan tugas perkulihan seorang  mahasiswa IBM di sebuah kampus kota Pahlawan ini, yang mengajarkan filsafat “Art of War”nya Sun Tsu dan diaplikasikan bagi dunia bisnis dan usaha. Bagiku yang punya ketertarikan tersendiri dalam ilmu manajemen, marketing dan bisnis [makanya aku baca buku soal New Wave Marketing­nya Hermawan Kertajaya], melahap hal-hal seperti itu adalah kesenangan tersendiri, sejenis mengenyangkan khazanah pengetahuanku.  Lagipula, menjadi entrepreneur adalah mimpi masa SMAku.  Membaca dan mempelajari soal-soal itu seperti bernostalgia dengan diriku di masa dahulu.

Tapi seperti biasa, apa pun yang kupelajari, ogah aku tolak mentah-mentah, perlu melalui tahap kritis. Namun sayang, bukan pada tempatnya untuk mengkritisi semua filosofi Sun Tzu di sini.  Aku hanya ingin mengungkapkan salah satu kesimpulanku setelah menonton dan membaca-baca bahan tugas-tugas kawanku itu yakni: dunia meminta, berharap dan memaksa kita untuk menjadikan dan menujukan diri kita sebagai pemenang.

Aku sitir beberapa kutipan  Sun Tzu:
“Victorious warriors win first and then go to war, while defeated warriors go to war first and then seek to win”
Sun Tzu, The Art of War

Anda mau jadi apa? Jadi Victorius Warrior kan? Hehehe.

Lalu, kutipan yang menarik yang kedua:
“If quick, I survive. If not quick, I am lost. This is "death.”
Sun Tzu, The Art of War
 
Well, kutipan ini memperlihatkan gagasan bahwa mereka yang mau jadi pemenang, Victorius Warrior adalah mereka yang tercepat.   

Kecepatan memberikan kita kapasitas untuk menjadi pribadi yang sanggup survive.  Ingatlah kisah-kisah komik kungfu, jurus yang mematikan adalah jurus yang tercepat! Bacalah Bleach, ada Shunpo konsep melangkah cepat disana. Kalau baca Naruto, Hokage keempat yang adalah ayah Naruto terkenal dengan jurusnya yang sanggup berpindah tempat dengan kecepatan seperti petir. Sungguh! Cepat itu penting! Cepat itu adalah awal dari kesuksesan.




Persoalannya?


Menjadi pemenang dan menjadi yang tercepat kerapkali membawa jiwa kita ke dalam gurun kegersangan dan kekeringan makna



Oke-oke saja sih menjadi yang tercepat, oke-oke saja juga menjadi pemenang.  Namun ada persoalan yang menderu begitu gaduh dalam batin manusia-manusia modern yang berusaha untuk menjadi yang tercepat dan menang. Sendjaya mengungkapkan hal ini:


“Kalau ada tiga kata yang menjadi karakteristik dunia modern, tiga kata tersebut adalah noise, hurry, dan crowd. Ketiganya begitu kental mewarnai keseharian hidup kita. Efektivitas hidup seringkali diidentikan dengan keterlibatan kita dalam muchness dan manyness.  Selama kita sibuk di kampus, di kantor, di rumah dan belasan organisasi, semakin kita menjadi efektif. Sibuk, berarti efektif, namun mesti buru-buru agar semua dapat dikerjakan. Psikolog Carl Jung pernah berkata bahwa ‘hurry is not of the devil. It is the devil.”[1]


Dalam kata lain, menjadi pemenang membuat kita berusaha untuk cepat, cepat membawa kita untuk terburu-buru, padahal hurry is the devil. Kenapa?

Karena dalam ketergesahan-gesahan kita, manusia modern, kita berusaha menjadi yang tercepat dan menang, dan akhirnya terjerumus untuk melakukan segala rutinitas tanpa makna. Kita sibuk tanpa kedalaman makna.Inilah yang menyebabkan manusia sering menjadi kering. Manusia menjadi robot dan sama seperti mesin. Bekerja, bekerja dan terus bekerja. Sampai kehilangan arti sebagai manusia.  Dunia yang kompetisi pun akhirnya mendehumanisasi kita.

Menjadi pemenang sih oke, menjadi yang tercepat sih oke. Tetapi persoalannya adalah: jangan sampai kita kehilangan arti dan makna kehidupan kita.  

Yang aku maksud dengan kehilangan makna adalah “hidup yang penuh dengan banyak aktivitas tapi aktivitas-aktivitas itu bukan sesuai prioritas dan kehendak Allah untuk kita kerjakan dan malah menjauhkan kita dari Tuhan dan kasih-Nya.”

Oke. Lalu dengan demikian. Apa sikap yang tepat supaya hidup ini tetap bermakna meski kita menjadi cepat dan berusaha mengejar kemenangan?


Memiliki Momen Withdrawal

Jawabannya sederhana ternyata: memiliki momen withdrawal, yaitu “withdrawal atau berdiam diri di sini berarti mengalokasikan waktu bersama Tuhan agar kita memiliki hati yang dengar-dengaran dan taat kepada-Nya.”[2]  Dalam bahasa yang lebih biasa terdengar: punya momen teduh! Punya momen quiet time, atau lectio divina.[3]  Mempunyai waktu untuk kembali kepada Sang Pencipta hidup![4]



Menariknya, ada banyak keuntungan ketika kita memiliki momen withdrawal, yakni: [5]



1.       Mendengarkan Tuhan.
Tuhan berbicara dalam kesendirian kita, dan disitulah kita dibentuk untuk semakin serupa dengan Dia. Ingatlah satu kejadian historis pemuliaan Kristus, Allah Bapa berfirman: Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. Dengarkanlah Dia! Jadi jelaslah, mendengarkan adalah perintah yang penting!

2.       Menyerahkan diri.
Dunia membentuk kita untuk cepat dan berusaha menjadi pemenang, sering konsep itu membuat kita lupa diri bahwa kesuksesan sesungguhnya berasal dari Tuhan. Berdiam diri adalah saat yang tepat untuk kita menyerahkan segala sesuatunya: keberhasilan pekerjaan, kesuksesan studi, kekuatan dalam menghadapi kehidupan ini.

3.       Mengalami perubahan yang real
Momen ini adalah momen dimana kita diubah, yaitu ketika hanya ada Tuhan dan diri kita, dan Tuhan mengubahkan kita menjadi orang yang sesuai dengan kehendakNya melalui pembacaan firman Tuhan.


Jadi jelaslah momen withdrawal ini membawa kita menuju kedalaman batiniah dan kekayaan makna sebagai seorang manusia, apalagi mereka yang di dalam Kristus!  Momen ini adalah momen di mana kita menggenggam kekuatan ekstra, dan rahmat Tuhan yang selalu baru setiap pagi (Ratapan 3:23).



Epilog

Nah, sampai aku di penghujung tulisan ini.  Aku ingin mengutip lagi Charles Ringma mempertegas kepentingan momen withdrawal:

Kita terus mencoba berbuat lebih banyak sementara energi kita terus terkuras dan kita jadi seperti pohon yang tercabut denan akar menggapai-nggapai percuma ke angkasa. Jadi kita mengangkat tangan ke atas, berdoa memohon kasih karunia dan kemampuan khusus, padahal seharusnnya kita ditanam kembali di tanah yang subur. Tanah itu tidak dimaksudkan agar kita mengurangi kegiatan kita, tapi untuk mengubah prioritas sehingga kita meluangkan waktu untuk diam. Dan dalam ketenangan, kita menemukan kekuatan dan harapan baru.[6]

Jadi, di tengah dunia yang penuh dengan kompetisi yang membentuk kita bermental yang tercepat dan pemenang. Mari kita memiliki hidup yang bermakna dan tidak kehilangan tujuan Allah juga kehadiran Allah, dengan memiliki momen withdrawal.  Momen kita berdiam dan ditanam kembali di tanah yang subur.  Momen kita dipeluk hangat oleh Sang Gembala Agung, momen kita pulang ke Bapa yang berlari menyambut kita, momen kita minum aliran air yang hidup dan menyegarkan sunsum tulang kita.  Sebab “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, Ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”


Ditulis secara khusus mengingat beberapa orang: 
1. Giovanni Edison, yang beberapa waktu lalu nginep kamarku dan berkata: "Aku punya kerinduan Him, supaya bisa membawa anak2 melewati salah satu pergumulan paling berat masa kini: SIBUK!."
2. Maria Setiani, yg mengizinkan ku untuk mengecap bahan-bahan kuliahnya. Juga, Melviana Aurelia yang lagi sibuk skripsi.
3. Esther Stepfanie Hermawan, Kharis Adirahsetio, David Dwi Chrisna Damping, Dessy Surya Chandra, para sahabat rohaniku yang sangat ngangenin. Mereka adalah pribadi-pribadi yang Tuhan anugerahkan dan membuatku menghayati koinonia en ta pneuma (companion in spirit).


Follow account twitter-ku: @HimawanPambudi dan add Facebook di Himawan Teguh Pambudi


[1] Sendjaya, Jadilah Pemimpin demi Kristus (Jakarta: Literatur Perkantas, 2012) 194.
[2] Ibid. 198
[3] Soal Lectio Divina, bacalah buku Richard Foster, Sanctuary of the Soul (Surabaya: Perkantas Jatim, 2011) 64-70.
[4] Aku pernah menulis soal ini, perhatikan di https://www.facebook.com/notes/himawan-teguh-pambudi/refleksi-hidup-dengan-kopi-1-butek-isme-dan-teks-yesaya/10150333962982196
[5] Disarikan: Sendjaya, Jadilah Pemimpin 200.
[6]Charles Ringma, Dare To Journey with Henri Nouwen 11.

Kamis, 07 Maret 2013

Tentang Dunia yang Penuh dengan Kompetisi




Sudah lama tidak posting di blog, kesibukan di ladang praktik pelayanan, dan usahaku untuk berkonsentrasi penuh pada job pelayananku membuatku sangat susah untuk memiliki waktu sakralku dimana itu adalah momenku untuk menjalani sebuah aktivitas, yang bagiku, adalah sebuah momen penting: menulis! Dan pada kesempatan kali ini, aku ingin sedikit berbicara tentang dunia yang penuh dengan kompetisi.


Beberapa hari lalu aku berkumpul dan bercakap-cakap bersama dengan kawan-kawan remaja-pemuda di tempat ini. Bercengkerama penuh tawa dan canda, curhat dari hal-hal kecil, sampai soal-soal besar. Tak diduga, tak tertebak, ada sebuah momen eksistensial datang menghampiriku, momen yang dalam buku Contemplative Youth Ministry-nya Mark Yaconelli, disebut momen “noticing” (verba: memperhatikan, secara sederhana ku pahami sebagai momen di mana Allah meminta seorang pelayan-Nya untuk melihat apa yang Dia inginkan untuk diperhatikan).[1]  Momen ini terjadi ketika seorang kawan remajaku kurang lebih berkata demikian:

Aku tuh capek dengan kuliahku. Tugasku buanyak. Dan kuliah di jurusan ini mengajarkanku untuk hidup dalam kompetisi. Kalau nggak berkompetisi maka nggak akan berhasil.”

Lalu kemudian seorang kawan lain menanggapi, kurang lebih demikian:

 “ya gitulah, kalau kuliah, bayangin ya, aku punya temen. Dueket banget. Eh, pas ngerjain sebuah tugas kelompok masa dia bilang begini: sorry ya, aku nggak bisa sama kamu sementara ini, soalnya aku mau berkelompok sama dia, supaya dapat nilai bagus. Menjengkelkan nggak sih!” 

Kemudian obrolan makin seru dengan segala ungkapan kesusahan hati tentang kampus, tentang perkuliahan, tentang dunia yang penuh dengan kompetisi.[2]  Akh! Kasihan nian mereka!

***

Tadi sore, aku mengambil jeda bagi hidupku, berhenti untuk memikirkan pelayanan, berhenti memikirkan tugas-tugasku, tetapi berhenti dan mencoba merasakan kehadiran Tuhan.  Setelah itu aku berpikir dan sadar bahwa hidupku belakangan sangat jarang untuk mempunyai waktu jeda berkualitas (dalam bahasa lain, waktu jeda ini disebut Saat Teduh, Quiet Time).  Ternyata, bukan hanya kawan-kawan yang hidup dalam dunia kampus dan kenyataan sehari-hari yang diburu serta terpengaruh dunia yang penuh dengan kompetisi! Aku juga mengalaminya, sebuah dunia yang penuh dengan kompetisi, sebuah dunia yang tak mengizinkan adanya jeda. Sebuah dunia yang meminta kita bekerja keras terus-menerus tanpa henti!


Dan inilah karakteristik dunia yang penuh dengan kompetisi.  Hidup ini seolah-olah adalah sebuah usaha untuk menggapai pencapaian demi pencapaian. Hidup ini adalah persaingan. Hidup ini adalah pertarungan. Hidup ini adalah oposisi biner [pertentangan satu kutub dengan kutub yang lain]: Kalah-menang, kaya-miskin, sukses-gagal, lulus-tidak lulus, ganteng-jelek, dan jutaan oposisi binerian lain sebagainya.  Kalau kawan punya waktu luang [ah, ini kan bahasa dunia yang kompetisi juga! Di dunia yang penuh dengan kompetisi ini, kata “sibuk” adalah kosakata yang wajar, bahkan harus selalu ada!], silahkan berjalan-jalan ke toko buku [yang tren bukunya kuanggap sebagai lambang dari perkembangan pola pikir manusia], dan engkau akan melihat berbagai jenis buku yang ditulis untuk menjadikan seorang manusia  berhasil tampil sebagai pemenang dalam dunia yang penuh dengan kompetisi ini.


Nah, dalam konteks inilah, penjelasan Henri Nouwen tentang krisis dunia pendidikan dalam bukunya, Creative Ministry sangat relevan! Aku kutip paragrafnya disini:

Competition has become one of the most pervasive and also destructive aspect of modern education. The way students look at their fellow students and their teachers, the way they expect their grades and degrees, the way they prepare their exams and take them, the way they apply to college and graduate school, and even in which they spend their free time; all this and much more is impregnated by an all embracing sense of rivalry. You only have to walk during the last week of a semester on a college campus to pick up the mysterious A-B-C-D-and F languange that seems to be on everyone’s lips. The sadness of all this becomes clear when you see that a student is only happy with a high grade when he sure that his fellow students have lower grades. It is obvious that in a system that encourages this ongoing competition, knowledge no longer is a gift that should e share, but a property that should be defended.”[3]


Jadi, jikalau kita merujuk argumen Henri Nouwen itu, maka awal dari dunia yang penuh dengan kompetisi ini berakar pada dunia pendidikan.  Sistem pendidikan di sekolah yang menuntut murid untuk bersaing dengan murid yang lain untuk mendapatkan peringkat yang terbaik, amat punya dampak besar bagi relasi dan kehidupan kita di dunia ini.  

Charles Ringma turut mempertegas, “zaman di mana kita hidup telah menjadikan persaingan dan kerja keras sebagai kebajikan. Hanya yang seperti inilah yang akan berhasil dan produktif.[4]


Permasalahannya ada di sini: aspek destruktif (aspek negatif yang berkecenderungan menghancurkan) dari dunia yang penuh dengan kompetisi ini amatlah jelas: relasi menjadi relasi yang penuh dengan persaingan. Mereka yang menjadi kawan dan sahabat adalah mereka yang menguntungkan karier dan hasil diri kita. Pada akhirnya, relasi dalam dunia yang penuh dengan kompetisi ini jelas menimbulkan kesakitan hati, kepahitan, kekecewaan, luka, dendam dan berbagai hal negatif lainnyaPun amat jelas, eperti yang kuungkapkan pada awal tulisan ini dunia yang kompetitif ini menghasilkan generasi atau anak-anak muda yang berkecenderungan kuat untuk depresi serta stress berlebihan.  Tidakkah ada banyak anak muda yang putus harap karena tidak mampu menggapai dan menggenggam apa yang ingin dicapainya? Bunuh diri karena putus cinta? Bunuh diri karena tidak bisa lulus dari sekolah atau kuliah? Minder karena tidak bisa tampil sejajar dengan anak-anak sebayannya?

Tepatlah kalimat Nouwen: "Dalam dunia yang penuh dengan persaingan ini, bahkan mereka yang sangat dekat, seperti teman sekelas, satu tim. . .rekan kerja di kantor, bisa dikuasai ketakutan dan menjadi tidak ramah satu dengan yang lainnya."


Problem lebih lanjut yang kuperhatikan, aspek dekstruktif ini turut mempengaruhi paradigma orang Kristen dalam masalah kerohanian.  Kerohanian juga menjadi sesuatu yang perlu dikompetisikan. Makanya, susunan kurikulum pemuridan biasanya berdasarkan grade yang harus dicapai, diselesaikan. Apabila seseorang telah melewati grade tertentu, maka ia kan menjadi the holy man dengan lingkaran putih di atas kepalanya. Padahal benarkah demikian? Nyata-nyatanya toh tidak. 

Pada akhirnya, dapat kusimpulkan, dunia yang penuh dengan kompetisi ini jelaslah dunia yang membahayakan. 

Meskipun demikian, emang, kita perlu berpikir secara seimbang, ada aspek-aspek konstruktif yang hadir dalam dunia kompetisi ini.  Bayangkan jika kita tidak menginginkan keberhasilan dan kesuksesan, maka tidak akan ada kemajuan dalam diri kita.  Bayangkan jika kita tidak berkompetisi, maka tidak akan ada perkembangan bagi kehidupan manusia. Lagipula di dalam beberapa bagian Alkitab juga ada rujukan-rujukan bahwa kompetisi itu memang absah adanya (misalnya Paulus dalam metafora pelari dalam perlombaan, dan juga beberapa kali ia menulis tentang bagaimana ia bekerja keras).

Tetapi memperhatikan aspek-aspek dekstrutif itu, anak-anak muda Kristen perlu melihat Alkitab, dan menghayati sebuah meta-narasi kehidupan yang 180 derajat berbeda dengan dunia, sehingga mereka tahu bagaimana untuk hidup dalam dunia yang penuh dengan kompetisi ini.  Sehingga, relasi yang timbul dalam dunia yang penuh kompetisi ini tidaklah relasi yang melahirkan luka dan kekecewaan serta depresi, tetapi relasi atau hubungan antar manusia menjadi relasi yang menyembuhkan dan memulihkan.

***
 
Jadi bagaimana anak muda Kristen hidup dalam dunia yang penuh dengan kompetisi ini?[5]
Dalam Kolose 3:23 Paulus berkata:

Apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Jelas. Lugas. Ringkas.

Dalam dunia yang penuh dengan kompetisi ini, mari kita melakukan segala apa yang kita perbuat untuk Tuhan. Itu berarti, motivasi  ketika menjalani kehidupan kompetitif ini adalah untuk kemuliaan nama Tuhan, bukan meraih kemuliaan diri kita sendiri. Tujuan akhir dari kompetisi yang kita jalani adalah Tuhan yang berkenan bagi kita, bukan kesukaan kita sendiri. Cara menjalani kehidupan pun, adalah cara Tuhan, bukan cara-cara dunia ini.  

Kurangkumkan di sini, motivasi, tujuan akhir, dan cara menjalani kehidupan kita adalah di mulai, diperuntukkan, dan dilakukan bersama Tuhan. Pemikiran Kristus, tindakan Kristus, dan nilai-nilai Kristus, itulah yang kita genggam!
 
Oleh karena itu, kalau dunia yang penuh dengan kompetisi ini bersifat menghancurkan, maka orang Kristen harus tampil berbeda.  Orang Kristen harus hidup mengasihi sesamanya manusia seperti diri mereka sendiri (Mat. 22:39). Itu berarti, mereka yang tidak sanggup untuk bertarung, mereka yang lemah, mereka yang kalah, harus di tolong oleh kita (Mat. 25:40). Jadi "sesama," tidaklah dipandang sebagai pesaing atau objek yang harus dihancurkan, melainkan dipandang sebagai kawan sekerja untuk menuju sesuatu yang lebih baik di depan sana.   


Oleh karena itu, bagi anak muda Kristen yang hidup di dunia yang penuh kompetisi ini, persaingan diubah menjadi kerja sama, individualisme diubah menjadi kebersama-samaan. Kompetisi bukan alat untuk mendehumanisasi manusia, lalu mendegradasikan moralitas dan nilai hidup, tetapi, kompetisi menjadi alat untuk manusia kembali kepada keutuhan dan nilai-nilai kebajikan. Anak-anak muda Kristen harus punya nilai-nilai kasih, membantu, dan mentransformasikan hidup orang lain.


Jikalau anak-anak muda Kristen memiliki dan menghayati paradigma hidup demikian, maka aku percaya, hidup secara pribadi akan jauh dari depresi. Dan dunia ini akan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali bersama.


Nah, bagaimana pendapatmu?  Apa tindakanmu?





*Ditulis khusus untuk: Giovanni Edison, Melviana Aurelia, Maria Setiani, kawan-kawan baru yang Tuhan izinkan untuk hinggap dalam kehidupanku di kota Pahlawan ini.

Follow me at: @HimawanPambudi dan Facebook: Himawan Teguh Pambudi

[1]Lih. Contemplative Youth Ministry: Practicing the Presence of Jesus (Youth Specialties: Grand Rapids, 2006) 177
[2] Kamus Mirriam-Webster memberikan arti competition demikian : the act or process of competing : rivalry: as
a : the effort of two or more parties acting independently to secure the business of a third party by offering the most favorable terms. b : active demand by two or more organisms or kinds of organisms for some environmental resource in short supply 2. : a contest between rivals; [diambil dari http://www.merriam-webster.com/dictionary/competition; diakses 7 Maret 2013].

[3]Creative Ministry (Double Day: Image Books, 1971) 6.
[4]“Daya Saing” Dare to Journey with Henri Nouwen (Bandung: Pionir Jaya, 2010) 264.
[5]Aku kurang cukup waktu untuk menggali seluruh Alkitab, karena ada hal lain yang harus aku capai [ah! Hidupku juga berkompetisi! J], untuk lebih lengkap bisa melihat: Bob Luginbill, “Should Christian have competitive attitude?” dalam http://ichthys.com/mail-competition.htm; diakses 7 Maret 2013].