I'm not idealitst anymore, I'm a bitter realist - Soe Hok Gie
Dulu, aku suka mengutip kalimat Soe yang berbunyi: saya memilih untuk menjadi idealis sejauh-jauhnya. Tapi aku makin kesini makin menyadari, kalimat itu oke ketika aku masih muda, waktu masih mahasiswa, ketika mimpi-mimpi tentang dunia yang ideal begitu meletup-letup. Mimpi soal perdamaian, kasih, penerimaan, keadilan dan segala rupa mimpi-mimpi indah lainnya. Namun kini, menjejak usiaku yang ke 26, aku makin menyadari ideal adalah kondisi yang tak mungkin ada dan tak mungkin dicapai, dalam hal apa pun itu. Tidak ada yang namanya kesempurnaan. Bahkan mungkin tidak perlu mengejar kesempurnaan. Soal hubungan antar manusia, beragama, politik, sosial, ekonomi, apapun itu, tidak ada yang ideal, kawan.
Lihatlah dunia: penuh dengan kebobrokan, penuh dengan kehancuran, rusak, korup, sampah, memuakkan sekali. Maka pilihan terbaik yang tidak melelahkan untuk hidup di dunia ini adalah belajar untuk nrimo, kata orang Jawa. Menerima bahwa segala sesuatu ada dalam tataran sebuah drama yang dirancang oleh Sang Sutradara. Kita cuma aktor dari drama itu, tak bisa kita lawan, tak bisa kita apa-apakan. Ini pun, termasuk menerima kenyataan-kenyataan yang memahitkan dan melukai batin kita sebagai manusia.
Inilah langkah awalku menjadi a bitter realist. Seorang yang berusaha untuk melihat dunia dengan kacamata realistis dan rasional, dan dengan hati yang pahit. Kupikir itu menyembuhkanku dari kekecewaan-kekecewaanku pada dunia ini, pada orang-orang, pada institusi-institusi, pada mereka-mereka para penjahat dan penjajah. A Bitter Realist tentu tidak jadi orang yang diam dengan ketidakidealan yang ada, ia akan menjadi corong yang kuat laksana nabi-nabi era Perjanjian Lama. A Bitter Realist akan menjadi seorang pejuang untuk melawan kemunafikan dalam berbagai bidang. A Bitter Realist tentu saja, akan menjadi pihak yang berusaha mengasihi musuh-musuh hingga terluka. A Bitter Realist, mungkin bergerak dalam lajur yang sama dengan seorang Wounded Healer, penyembuh yang terluka, dimana ketika ia terjerembap di dalam keterlukaan serta kekecewaan yang ada, ia menjadi penyembuh dan sarana pemulihan bagi orang lain. Bukankah ini jalan yang terbaik untuk menapaki hidup dalam sesak serta luka yang tak berujung? Dunia dimana lingkaran kebencian serta dendam terus menerus berulang dalam siklus yang kekal?
Catatan perjalanan sebagai manusia yang menghidupi jalan kemuridan Kristus yang radikal
Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan
Senin, 31 Agustus 2015
Rabu, 20 Agustus 2014
Tentang Hobi
Salah satu dosenku di seminari pernah mengajar kira-kira begini [aku lupa di mata kuliah apa, kalau tak salah Kepemimpinan Kristen: "Anda itu, nanti kan bakal mengalami rutinitas pelayanan yang begitu-begitu saja. Maka anda harus punya hobby, yang membuat refreshing. Jangan hobi: baca buku thokk saja." Aku ingat waktu beliau bicara seperti itu, aku mbesungut, kecewa pada kata-katanya, hahaha tentu saja, karena kalau dulu ditanya hobi-ku apa, maka jawabku cuma satu: membaca. Potret orang bahwa diriku adalah kutu buku yang tak menarik diajak bicara atau bersosialisasi adalah potret yang terus kuhadapi bertahun-tahun usiaku (alay!).
Nah, beberapa bulan yang lalu, aku merasa mentok dengan rutinitas. Hobiku membaca buku juga mentok, mau baca buku riset teologi eneg, baca buku spiritual devotional kok nggak ada yang baru ya, baca novel roman apalagi, dipenuhi kekecewaan utopis hahaha. Lalu aku mengalihkan ke hobi yang lain (yang kutemukan waktu aku praktik setahun): nonton film! Ya, aku suka nonton film! Film jenis apa pun, apalagi yang script-nya kuat dengan alur cerita yang tidak mudah ditebak adalah kesukaanku. Bahkan aku cantumkan dalam finance planning pribadiku, ada anggaran bulanan untuk nonton bioskop minimal 2 kali sebulan. Namun entah mengapa, hobi nonton film pun gagal memberikan energy baru di dalam diriku dan rutinitas yang kujalani. Sampai akhirnya aku mendapati hobi baru. . . .. . . . . .
NAIK GUNUNG!!!!!!
Seperti teman-teman pembaca blog yang tak kunjung tenar ini ketahui, idul Fitri yang lalu aku mendaki Semeru. Belum tuntas sih, tapi oke lah ya. Nah, sejak naik Semeru itu aku jadi keranjingan segala hal yang berbau gunung dan aktivitas di luar ruangan. Selalu saja ada waktu dalam seminggu untuk Youtub-ing tentang gunung dan pendakian, browsing barang atau alat2 untuk mendaki, dan kalau sempat, main ke toko jualan adventure gear semacam Rei, Consina, Eiger yang di Surabaya, daerah Bratang tuh pusatnya. Saat ini aku sedang menabung dan mencari-cari info tentang sepatu yang bagus untuk naik gunung. Semoga bisa dapat produk Jack Wolfskin hehehe.
Lalu apa yang terjadi pada diriku setelah menemukan hobi baru ini? Seriusan, naik gunung adalah Mesias yang menyelamatkan diriku dari jurang ketidakdisiplinan hidup. Sekarang, gara-gara target sebelum usia 30tahun sudah mendaki 3 puncak di Indonesia (Semeru di Jawa, Kerinci di Sumatra, Rinjani di Lombok), hidupku jauh berusaha lebih disiplin. Mengurangi kopi sehingga tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi. Lari minimal 30 menit tiap hari disertai dengan pemanasan ringan, sit-up dan lainnya. Makan teratur, juga mengerjakan target2 yang ingin dicapai di awal tahun (menulis 1 artikel ke jurnal teologi dan menerbitkan buku renungan tentang spiritualitas). Lalu finansial yang hemat dan ketat mengingat harus menabung supaya bisa pergi ke tempat-tempat yang diingini. Lagipula, nilai-nilai hidup seorang pendaki mulai meresap ke dalam diri: soal rendah hati, soal mengatur segala sesuatu dengan baik dan bertanggung jawab, soal pantang menyerah untuk mencapai tujuan. Memang, gunung dan pendakian adalah sebuah alat untuk transformasi manusia. Hehhehehe.
Nah, apa yang aku mau bagikan?
1. Milikilah hobi yang membawamu menjadi manusia yang utuh di tengah dunia yang sibuk berkompetisi ini. Kehidupan perkotaan bisa membuat kita lupa siapa kita, nilai-nilai yang luhur tentang manusia Indonesia pun menjadi tak relevan lagi. Hobi naik gunung membuatku ingat tentang siapa aku ini, bahwa aku adalah manusia Indonesia yang perlu memberi dampak pada kemajuan bangsa. Jokowi, presiden baru kita nanti, adalah anggota pecinta alam dan pernah naik Puncak Kerinci waktu ia muda. Barangkali, ide "revolusi mental" didapatnya ketika ia mendaki salah satu gunung di Indonesia, lalu mendapati kenyataan begitu bobroknya manusia Indonesia (ini serius, Gunung Bromo mulai tidak laku bagi wisatawan asing karena kotor, Gunung Lawu terbakar karena para pendaki yang nggak bener nyalain api unggun), dan kemudian jiwanya bergelora untuk membawa perbaikan ke negeri ini. Soe Hok Gie, pahlawanku, mati di usia muda ketika ia mendaki gunung semeru (kutipan terkenalnya tentang alasan naik gunung ada di postingan sebelumnya). Hobi apa pun yang kita miliki, menulis, baca, sepeda, main futsal, music, biarlah itu membawa kita masuk ke dalam ruang-ruang kemanusiaan kita, dan berjumpa dengan kemanusiaan kita yang terdalam yang sering samar dibekap halimun kehidupan.
2. Bagi orang Kristen, milikilah hobi yang sesuai dengan jalur spiritual pathways-mu dan mengantarkanmu untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Kamu bisa baca tentang spiritual pathways di postingan bulan lalu :) Nah, melalui hobi naik gunung, karena aku adalah seorang naturalis, aku makin mengalami betapa besar, akbar, dan megahnya Tuhan Pencipta Langit dan Bumi. Bagi kamu yang orang indrawi, hobi yang berkenaan dengan music dan kerajinan tangan mungkin membantu untukmu makin mengalami Tuhan. Bagi kamu kaum pemerhati, hobi memerhatikan dan mengajar anak jalanan akan membawamu pada pengalaman perjalanan bersama Yesus. Bagi kaum intelektual, maka nonton video debat Licona vs Erhman akan menjadi oase bagi padang gurun spiritual rutinitas harianmu. Karena hobi adalah sesuatu yang menyenangkan untuk memulihkan jiwa, maka ia, berkenaan dengan kehidupan spiritual, harus memulihkan pula hubungan kita dengan Tuhan.
Nah, ini hobiku, bagaimana dengan hobimu? Mereka yang berkata "aku tidak punya hobi karena aku sibuk" adalah orang-orang yang pantas dikasihani, karena mereka terjerumus pada kesibukan duniawi yang membuat manusia jadi robot yang adalah eksistensi tak bermakna. Salam!
Nah, beberapa bulan yang lalu, aku merasa mentok dengan rutinitas. Hobiku membaca buku juga mentok, mau baca buku riset teologi eneg, baca buku spiritual devotional kok nggak ada yang baru ya, baca novel roman apalagi, dipenuhi kekecewaan utopis hahaha. Lalu aku mengalihkan ke hobi yang lain (yang kutemukan waktu aku praktik setahun): nonton film! Ya, aku suka nonton film! Film jenis apa pun, apalagi yang script-nya kuat dengan alur cerita yang tidak mudah ditebak adalah kesukaanku. Bahkan aku cantumkan dalam finance planning pribadiku, ada anggaran bulanan untuk nonton bioskop minimal 2 kali sebulan. Namun entah mengapa, hobi nonton film pun gagal memberikan energy baru di dalam diriku dan rutinitas yang kujalani. Sampai akhirnya aku mendapati hobi baru. . . .. . . . . .
NAIK GUNUNG!!!!!!
Seperti teman-teman pembaca blog yang tak kunjung tenar ini ketahui, idul Fitri yang lalu aku mendaki Semeru. Belum tuntas sih, tapi oke lah ya. Nah, sejak naik Semeru itu aku jadi keranjingan segala hal yang berbau gunung dan aktivitas di luar ruangan. Selalu saja ada waktu dalam seminggu untuk Youtub-ing tentang gunung dan pendakian, browsing barang atau alat2 untuk mendaki, dan kalau sempat, main ke toko jualan adventure gear semacam Rei, Consina, Eiger yang di Surabaya, daerah Bratang tuh pusatnya. Saat ini aku sedang menabung dan mencari-cari info tentang sepatu yang bagus untuk naik gunung. Semoga bisa dapat produk Jack Wolfskin hehehe.
Lalu apa yang terjadi pada diriku setelah menemukan hobi baru ini? Seriusan, naik gunung adalah Mesias yang menyelamatkan diriku dari jurang ketidakdisiplinan hidup. Sekarang, gara-gara target sebelum usia 30tahun sudah mendaki 3 puncak di Indonesia (Semeru di Jawa, Kerinci di Sumatra, Rinjani di Lombok), hidupku jauh berusaha lebih disiplin. Mengurangi kopi sehingga tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi. Lari minimal 30 menit tiap hari disertai dengan pemanasan ringan, sit-up dan lainnya. Makan teratur, juga mengerjakan target2 yang ingin dicapai di awal tahun (menulis 1 artikel ke jurnal teologi dan menerbitkan buku renungan tentang spiritualitas). Lalu finansial yang hemat dan ketat mengingat harus menabung supaya bisa pergi ke tempat-tempat yang diingini. Lagipula, nilai-nilai hidup seorang pendaki mulai meresap ke dalam diri: soal rendah hati, soal mengatur segala sesuatu dengan baik dan bertanggung jawab, soal pantang menyerah untuk mencapai tujuan. Memang, gunung dan pendakian adalah sebuah alat untuk transformasi manusia. Hehhehehe.
Nah, apa yang aku mau bagikan?
1. Milikilah hobi yang membawamu menjadi manusia yang utuh di tengah dunia yang sibuk berkompetisi ini. Kehidupan perkotaan bisa membuat kita lupa siapa kita, nilai-nilai yang luhur tentang manusia Indonesia pun menjadi tak relevan lagi. Hobi naik gunung membuatku ingat tentang siapa aku ini, bahwa aku adalah manusia Indonesia yang perlu memberi dampak pada kemajuan bangsa. Jokowi, presiden baru kita nanti, adalah anggota pecinta alam dan pernah naik Puncak Kerinci waktu ia muda. Barangkali, ide "revolusi mental" didapatnya ketika ia mendaki salah satu gunung di Indonesia, lalu mendapati kenyataan begitu bobroknya manusia Indonesia (ini serius, Gunung Bromo mulai tidak laku bagi wisatawan asing karena kotor, Gunung Lawu terbakar karena para pendaki yang nggak bener nyalain api unggun), dan kemudian jiwanya bergelora untuk membawa perbaikan ke negeri ini. Soe Hok Gie, pahlawanku, mati di usia muda ketika ia mendaki gunung semeru (kutipan terkenalnya tentang alasan naik gunung ada di postingan sebelumnya). Hobi apa pun yang kita miliki, menulis, baca, sepeda, main futsal, music, biarlah itu membawa kita masuk ke dalam ruang-ruang kemanusiaan kita, dan berjumpa dengan kemanusiaan kita yang terdalam yang sering samar dibekap halimun kehidupan.
2. Bagi orang Kristen, milikilah hobi yang sesuai dengan jalur spiritual pathways-mu dan mengantarkanmu untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Kamu bisa baca tentang spiritual pathways di postingan bulan lalu :) Nah, melalui hobi naik gunung, karena aku adalah seorang naturalis, aku makin mengalami betapa besar, akbar, dan megahnya Tuhan Pencipta Langit dan Bumi. Bagi kamu yang orang indrawi, hobi yang berkenaan dengan music dan kerajinan tangan mungkin membantu untukmu makin mengalami Tuhan. Bagi kamu kaum pemerhati, hobi memerhatikan dan mengajar anak jalanan akan membawamu pada pengalaman perjalanan bersama Yesus. Bagi kaum intelektual, maka nonton video debat Licona vs Erhman akan menjadi oase bagi padang gurun spiritual rutinitas harianmu. Karena hobi adalah sesuatu yang menyenangkan untuk memulihkan jiwa, maka ia, berkenaan dengan kehidupan spiritual, harus memulihkan pula hubungan kita dengan Tuhan.
Nah, ini hobiku, bagaimana dengan hobimu? Mereka yang berkata "aku tidak punya hobi karena aku sibuk" adalah orang-orang yang pantas dikasihani, karena mereka terjerumus pada kesibukan duniawi yang membuat manusia jadi robot yang adalah eksistensi tak bermakna. Salam!
![]() |
| Ranu Kumbolo dari perspektif Tanjakan Cinta, aku suka spot ini! |
Kamis, 14 Agustus 2014
"Kamu"
Kata ganti orang kedua. Tapi bagiku kata ini bisa
punya makna berbeda-beda. Ia menandakan sesuatu yang lain. Dalam ilmu semiotika
(kalau kau anak Desain Komunikasi Visual atau Ilmu Komunikasi pasti belajar
ini), ada yang namanya signifier dan signified, tanda dan sesuatu yang
ditandakan. Jadi misalnya: merah
menandakan semangat, hitam menandakan kegelapan. Ada simbolisme disitu.
Kata “kamu”?
Tentu sebuah kata akan berarti ketika ia ditempatkan
dalam konteks sebuah percakapan. Kepada
siapa kau akan mengajukan kata ganti persona “kamu”?
Gurumu?
Ayahmu?
Ibumu?
Tidak.
Kata “kamu” memperlihatkan kesetaraan antara subjek
yang pertama dan subjek yang kedua. “Aku” dan “kamu” adalah dua entitas, dua
wadah yang sama, sejajar, egaliter dalam ruang dan waktu yang utuh. Kata ini
seringkali akan kita pakai untuk sosok yang setara dengan kita, atau pihak yang
kita rasa lebih rendah dari diri kita.
Maka,
Jika kalimat “aku cinta kamu” punya dua kemungkinan,
si aku setara dengan si kamu, atau, si aku lebih tinggi dari si kamu.
Pertanyaannya, yang mana yang dimaksudkan oleh sang
pengucap? Yang pertama akan membawamu pada hidup dengan demokrasi, saling
penghormatan, penghargaan, dan kebanggaan. Yang kedua, seringkali, akan
membawamu pada penjajahan, otokrasi, diktator, dan kezaliman.
Ya, bisa jadi lain sih, kalau kamu adalah seorang perempuan yang membutuhkan aku yang bisa memimpin kamu.
Maka, kamu, biasanya bersedia
mengambil sikap berada di level yang lebih rendah. Tapi maksudku, hati-hati saja, ada
kecenderungan-kecenderungan yang banal ketika seseorang memakai kata kamu untuk kata ganti nama kedua merujuk
pada dirimu.
Jumat, 08 Agustus 2014
Semeru adalah kamu
Landengan
Dowo-Watu Rejeng adalah betis jenjang panjang yang indah dan kokoh.
Ranu
Kumbolo adalah mata seorang perempuan yang jernih, bening, dan murni, yang
ketika kau pandang siap untuk membuatmu
dipeluk rindu berulangkali.
Oro-oro Ombo adalah lekukan pipi dan dagu yang
lebarnya, bentuknya, panjangnya amat presisi sempurna, pas, yang ketika kau
sentuh ia melahirkan getaran-getaran tak terdefinisikan yang menyenangkan.
Cemoro Kandang yang rimbun adalah rambut lurus hitam yang disisir dengan
kehati-hatian, memberi hiasan pada wajah cantik yang lucu menggemaskan.
Jambangan dan Kalimati adalah sepasang telinga yang siap mendengarkan segala
keluhan. Merekalah pengajar terbaik tentang apa itu arti kesetiaan.
Puncak
Mahameru adalah rangkuman dari spektrum kata-kata yang mendefinisikan apa arti
estetika: anggun, menawan, mempesona, menantang, membuatmu tergila-gila,
mempesona, memikat! Ia laiknya tubuh
seorang gadis yang rindu dimiliki tapi meminta untuk dihargai dengan sikap
satria. Ya, Semeru adalah cinta yang akan terus terulang.
#Entah kenapa makin rindu untuk naik gunung. Aku merasa sangat sehat, baik rohani-jasmani-emosi ketika ada di alam. Hidup di perkotaan yang dikuasai oleh kapitalisme membuatku tersiksa. . . tapi hidup dan panggilan harus terus dijalani bukan? Semoga nanti bulan September atau Oktober bias berangkat naik gunung lagi.
Jumat, 07 Februari 2014
Hati Yang Rapuh
Aku mau menceritakan tentang apa yang aku temukan ketika bersama Ringga
di sebuah siang. Saat itu, aku datang ke rumah kontrakannya, untuk minta
bantuan tugas akhirku. Sebagai sarjana
psikologi, aku perlu melakukan wawancara dengan beberapa narasumber yang
beberapa diantaranya dikenalkan oleh Ringga.
Rumah kontrakan itu ia tempati bersama dengan beberapa temannya. Rumah
sederhana di tengah kota panas ini, tetapi begitu rindang dan hijau, bahkan
lebih layak disebut hutan. Kau akan temukan kandang-kandang ayam, sangkar
burung di sana, juga pot-pot berisi tanaman. Ringga pernah berkata: “hanya dekat dengan alam kau akan menjadi
seorang manusia.”
Tapi percakapan
ini yang membuatku terkejut.
***
“To love at
all is to be vulnerable. Love anything, and your heart will certainly be wrung
and possilbly be broken. If you want to make sure of keeping it intact, you
must give your heart to no one, not even to an animal. Wrap it carefully round
with hobbies and little luxuries; avoid all entanglements; lock it up safe in
the casket or coffin of your selfishness. But in that casket – safe, darl, motionless, airless – it will change. It will
not be broken; it will become unbreakable, impenetrable, irredeemable. The
alternative to tragedy, or at least to
the risk of tragedy, is damnation. The only place outside of Heaven where you can perfectly
safe from all the dangers and perturbations of love is Hell.” (C. S. Lewis, The Four Loves)
“Ringga, kenapa kamu masang quotes
ini di ruang tamu mu?”
“Hmmm. Kenapa coba?”
“Lho, aku kan nanya, kok ditanya balik?”
“Hehehehe, ya kan kamu bisa nebak,”
“Gimana mau nebak?”
“Kan kamu orangnya punya intuisi yang sangat kuat. Ayo coba berpikir.
Kenapa guru musik naruh quotes ini di ruang tamunya. Hehehehe”
“Lho, kok disuruh mikir.. Dasar orang thinking, mikir teruuus.. Kayak Reed Richards, Mr, Fantastic yang
getol diem di laboratium, sampai pernikahannya sama Susan Storm diduain.
Hehehehe“[1]
“Iya lah, dunia ini hancur karena orang kurang berpikir!”
“Yeh, dunia juga hancur karena orang terlalu banyak mikir dan kurang
berperasaan.”
“Hahahaha. Tetapi rasa, bukan logika yang selalu membuat masalah,”
jawabnya dengan gesit
“Eh, hmmm, kalau menurutku sih ya, luka itu sesuatu yang menyakiti. Jadi
ada rasa sakit, entah itu fisik, entah itu emosional, sesuatu yang membuat kita
nggak nyaman.”
“Wah, dipikirin juga jawabannya.”
“Leeeeh, kan kamu tanyaaaa.”
“Hehehehe, dunia kita ini dunia dimana orang itu saling melukai Rin.
Sejarah kita adalah sejarah saling melukai. Sejak pra sejarah, sampai
postmodern. Lihatlah sejarah, perang salib, perang dunia, perang antar agama.
Kita saling melukai bukan? Sesama manusia saling melukai. Di manapun juga: entah era sebelum kelahiran
Kristus di Makedonia, suku-suku bangsa barbar saling bertempur di Normandia,
dinasti Han di China, penaklukkan Aleksander Agung sampai India, bahkan
Nusantara di bawah Majapahit. Ingat perang Bubat? Sejarah saling melukai di
negeri ini, hanya demi Sumpah Palapa yang mustahil itu Gajahmada membuat sang
putri Pasundan terbunuh. Kisah 1965 juga memperlihatkan kepada kita sejarah
saling melukai. 1998 yang menghancurkan etnis Tionghoa dan melahirkan konflik
berkepanjangan dan kecurigaan antar etnis juga hasil dari sejarah saling
melukai. Betul nggak?”
“Hadeuh, pak guru sejarah lagi ngajar nih”
“Ya kan selain musik dan gunung, aku senang sejarah.”
“Iya deh. Trus apa hubunganya sama quotes C. S. Lewis, sastrawan
sekaligus intelektual terkemuka itu?”
Ringga ini benar-benar filosofis orangnya. Kadang-kadang aku nggak
ngerti apa yang dipikirkan oleh sahabatku satu ini. Sungguh, dia ini orang yang
rumit! Tetapi memang, persahabatan itu sesuatu yang selalu mengubahkan. Semakin
kamu mengenal seseorang, ia akan mengubahmu. Pengenalan yang mendalam selalu
memberi dampak bagi diri kita. Itulah mengapa persahabatan yang panjang dan
dalam itu diperlukan di tengah dunia yang kosong dalam hubungan-hubungan tanpa
makna. Gara-gara aku bersahabat dengan Ringga yang suka merenung, aku pun jadi
suka merenung dan memikirkan ini dan itu dalam kehidupanku. Nanti akan
kuceritakan bagaimana aku mendapati bahwa perenunganku terjadi biasanya ketika
langit menangis menerjunkan air matanya ke bumi.
“Gak ada hubungan langsung sih. Hahahaha”
“Lhoo?”
“Cuma mau bilang kalau selama hidup kita di dunia kamu pasti akan
terluka.”
“Trus?”
“Ya, mari menghadapi kemungkinan-kemungkinan bahwa kita ini akan selalu
terluka. Dan ingat ini, kita hanya bisa menghadapinya dengan hati yang rapuh.”
“Hati yang rapuh?”
“Yeps. Hati yang siap terluka tetapi juga siap untuk ditambal, diobati,
disembuhkan. Di situlah kamu akan mengalami bahwa di dalam hubungan-hubungan
kita sebagai manusia, adalah hubungan-hubungan yang layak diperjuangkan. Karena
setiap kali kita terluka, selalu ada kemungkinan kita mengalami perasaan disembuhkan.”
“Jadi, selalu ada dokter, selalu ada antibiotik, selalu ada insulin
untuk hati kita?”
“Ya, akan selalu ada kasih dan cinta untuk hati yang rapuh.” Ringga
mengatakannya dengan tersenyum. Senyum kharismatis dari seorang sahabat yang
baik. Senyum yang memberikan janji bahwa kebaikan masih ada. Senyum seseorang
yang memiliki cahaya kasih di dalam sanubarinya.
Kalimat serta senyuman itu menyembuhkanku. Di hari yang sama, hari
dimana bertahun-tahun yang lalu Papaku menghilang dari pandanganku. Hari di
mana dunia menimbulkan luka yang sangat mendalam di dalam diriku. Usiaku masih
8 tahun waktu itu. Papa tiba-tiba tak pulang usai kerja. Kecelakaan fatal merenggut nyawanya.
Beberapa bulan sebelum hari di mana aku berkunjung ku rumah Ringga, kutinggalkan
pacarku sejak SMA, karena ia ingin menikmati tubuhku. Aku begitu terluka karena
ia ternyata mencintai karena aku memiliki sesuatu. Sesuatu itu ialah tubuhku. Kejadian
yang masih sering terulang sampai saat ini.
It’s okay to have tears in
our eyes as long as we have hope in our hearts.[2]
Ringga memberikan pengharapan bahwa masih ada kasih dan cinta di dunia
ini. Kita menghadapi dunia yang saling melukai.
Bahkan orang-orang terdekat pun akan melukai kita. Air mata akan selalu
ada. Tetapi selalu ada pengharapan. Pengharapan itu ada di dalam kasih dari
orang-orang seperti Ringga. Orang-orang yang hatinya bercahaya.
***
Pertemuanku dengan Ringga di siang itu mengubah perspektifku, dan aku
menemukan seorang sahabat baru. Sahabat yang baik dalam suka dan duka. Selalu
ada ketika ku bertanya. Kisah ku dan Ringga sangat banyak. Nanti ku curahkan
satu per satu. Hellen Keller pernah
berkata: “lebih baik berjalan dalam
kegelapan bersama seorang sahabat daripada sendirian di tengah terang.”
Sahabat itu begitu penting di dalam dunia ini. Ia adalah harta yang tak
ternilai. Adakah engkau mempunyainya?
#Agak nggak jelas di sebuah sore.
30 September 2013. Please “Wake me
up when September end”
Airin
Di mata air ada air mata. Di tengah deras hujan ada deras tangis. Itu
lah mengapa ada seseorang yang berkata: “I
love walking in the rain because there is no one can see me crying.”
Belakangan ini langit sering menangis. Aku pun berdansa bersama hujan. Ia
adalah tempat menari paling asyik. Saat dimana aku menjadi diriku sendiri.
Tidak ada orang lain. Hanya aku, hujan, dan langit.
“Airin, kenapa kamu suka berhujan-hujan?” ah, Ringga memang perhatian,
sahabatku yang satu ini. Pendaki gunung yang melankolis sekaligus guru musik
yang misterius.
“Karena aku bisa merasakan diriku sendiri.”
“Aneh, kamu kan bisa sakit”
“Tidak. Saat hujan aku bisa semakin dekat dengannya.”
Dengannya. Dengan seseorang lelaki yang kukagumi sejak aku kecil. Lelaki
yang aku cintai. Lelaki yang kepadanya hatiku telah memilih dan akan berpasrah.
Lelaki yang menerbitkan aksara-aksara asmara yang indah layak untuk dibaca.
Lelaki yang suaranya begitu gagah bak gelombang samudera, tetapi matanya begitu
biru dan meneduhkan laiknya langit teduh di kala senja. Lelaki yang hilang di
telan hujan.
“Oh begitu.” Ringga terdiam. Ringga tidak pernah tahu siapa dia. Ringga
baru datang dalam hidupku 6 tahun belakangan ini. Ringga punya kekuatannya
tersendiri. Setiap lelaki punya kekuatannya masing-masing. Dan mereka
berlomba-lomba kepada kita para wanita, menawarkan kekuatan mereka
masing-masing kepada kita. Karena mereka pecinta keindahan. Sayangnya sebagian
lelaki adalah pengemis dan tidak pernah berusaha menawarkan kekuatannya.
Sebagian yang lain menaklukkan untuk kenikmatan mereka sendiri.
“Hei, jangan diam dong, Sang Mesias, hehehe”
“Heh, Mesias?”
“Iya kamuu..”
“Kok bisa?”
“Ya iyalah, 10 menit nelpon terus datang gagah dengan motormu.
Nyelametin diriku sahabatmu ini. Mesias dong. Mesias kan mereka yang berani
mati demi sahabatnya?”
“Ya elah..”
“Kok ya elah?”
“Gakpapa”
“Hihihihihi.. Ayo minum teh. Sekarang kamu minum teh ya?”
“Nggak mau, aku mau bikin kopi sendiri”
“Yeee.. Teh juga punya kadar kafein untuk memutarbalikkan senyawa
adenosin kok.”
“Ya, tapi beda doong rasanya.”
“Teh itu mendamaikan Ringga.”
“Ya ya ya.”
Kami selalu bertengkar soal minum teh dan kopi. Bagiku minum teh adalah
upaya menghirup kedamaian. Teh menawarkan ketenangan dan kedamaian. Kopi di
sisi lain menyodorkan dimensi-dimensi kegairahan, tantangan, letupan-letupan
emosional, sisi di mana Ringga ada.
“Kayaknya kamu jadi nggak cerewet kalau pas lagi nge-teh?” Ringga
tiba-tiba menyahut.
“Hahahahaha. Aku sama papa dan mama selalu minum teh sejak kecil. Bagi
keluarga kami, minum teh itu adalah ritual sakral. Tempat di mana kami diam
dari keributan dunia. Saat di mana kami ada dan saling memerhatikan satu dengan
yang lain. Makanya, jadi diem deh..”
Aku ingat masa-masa itu. Masa-masa yang telah lama. Ah memang, rumah
baru terasa rumah setelah kita meninggalkannya. Tetapi hidup toh harus
demikian. Kita meninggalkan untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Kita
melepaskan yang lama untuk menggapai pengalaman-pengalaman dan
kemungkinan-kemungkinan yang baru. Tapi aku jadi kangen rumah. Papa dan Mama,
juga adikku, Arista. Sebenarnya aku adalah anak angkat dari Pada dan Mama. Aku
berasal dari keluarga yang mempunyai banyak anak. Aku anak yang ketujuh dari 5
kakak perempuan dan 1 kakak lelaki. Di usiaku yang baru menginjak 7 tahun papa
dan mama mengadopsiku. 9 tahun kemudian mereka mengadopsi Arista. Papa dan
Mama, entah kenapa tidak bisa memiliki anak. Tetapi ternyata anak bukan hanya
masalah biologis. Anak adalah kepemilikan dari sebuah pemilihan. Aku merasa
Papa dan Mama mencintaiku, membesarkanku dengan kasih. Mereka menerimaku apa
adanya. Mereka memberiku arti tentang kedamaian, cinta dan kasih. Dan mimpiku
selama aku hidup cuma satu: menawarkan kedamaian. Itulah mengapa aku suka minum
teh.
Selain hujan dan teh aku sangat suka pada anak-anak. Doestoevsky,
penulis yang amat disukai Ringga pernah menulis: The soul is healed by being with children. Selain bekerja mencari
uang, aku menyempatkan hari Rabu dan Sabtuku untuk mengajar di sebuah tempat
les kecil, sebuah lembaga sosial non profit memiliki pelayan anak-anak jalanan
dan aku tergabung di sana. Di sinilah aku bertemu Ringga. Kenapa anak-anak
jalanan? Karena di situlah aku memahami rasanya berbagi dengan mereka yang
berkekurangan. Mereka yang jarang mandi dan disentuh oleh kita, orang-orang
kota. Suatu ketika aku memandikan seorang anak jalanan, Tole[1]
namanya. Lusuh! Kotor! Dekil! Tetapi aku menurunkan harga diriku. Aku
memegangnya, menggosok tubuhnya, mengambil kotoran dari telinganya, menyabuni
dan menyamponinya. Penjaga WC umum geleng-geleng melihatku, mungkin heran
kenapa ada gadis cantik muda mau memandikan anak orang, anak jalanan yang
kotor. Usai memandikan Tole, aku menghanduki dan memakaikannya baju. Lalu aku
menghantarkannya pada Ibunya (yang katanya akan memukulinya kalau ia tidak menyetor
uang, eksploitasi yang kejam kepada anak!), dan ketika kami harus berpisah aku
memeluknya. Anehnya, ia tidak segera melepaskan pelukannya padaku. Ternyata
sentuhan bisa berbicara lebih banyak dari kata-kata. Kita bisa mengubah sebuah
jiwa dengan menyentuh. Mereka hanya bisa berbahasa kekasaran dan kekerasan.
Padahal di dalam setiap jiwa merindukan kasih. Pada setiap jiwa ada ruang yang
kosong yang rindu diisi oleh perhatian dan kasih sayang.
“Lho kok jadi diem?” Ringga tiba-tiba menghentakku dari lamunan.
“Eh.. hehehehe, iya nih lagi mikir.”
“Emang orang Feeling bisa Thinking?”
“Bisa laaaaaaah”
“Hahahaha.”
“Eh, ayo muter lagu.”
“Lagu apa? Gimana kalau aku main gitar?”
“Boleh dong.”
Lalu Ringga menyanyi dengan merdu. Seperti sihir ia menarikku dalam
sebuah pusaran. Ia tahu selera laguku. Dan ia menyanyikan sebuah lagu yang
akbar. “You may say I'm a dreamer. But I'm not the
only one. I hope someday you'll join us. And the world
will be as one.” Kami sama-sama pemimpi. Pemimpi akan dunia yang lebih baik. Itulah
mengapa ia menjadi sahabat terbaikku. Trims Ringga. Kamu benar-benar Mesias.
22 September 2013. Pregolan Bunder 36. Kamar Pojok Yang Hening di tengah
Masyarakat Urban
Minggu, 12 Januari 2014
Untuk Para Lelaki
| Aku tak mengerti, kenapa tanda lelaki adalah panah seperti ini? Ada yang tahu sejarahnya? |
Ada dua hal yang bisa jadi dimiliki seorang lelaki
ketika ia menatap perempuan. Pertama, eksploitasi.
Kedua, melindungi.
Yang pertama, kau hanya akan menjadikan
perempuan sebagai objek untuk dikuasai dan dipermainkan. Bisa jadi kau terobsesi pada tubuhnya. Bisa
jadi kau hanya ingin memilikinya. Kadang-kadang kau permainkan perasaannya dan
hatinya (kelemahan perempuan bukan?). Kau eksploitasi perempuan itu untuk
memuaskan naturmu sebagai seorang lelaki: berpetualang dan menaklukkan.
Bukankah kita diciptakan di luar taman Eden? Bukankah kita laki-laki,
diciptakan di padang belantara di mana petarungan, kekerasan, penaklukkan
adalah DNA diri kita. Maka, kita, seperti Daud ketika memandang Batsyeba, atau
Amnon memandang Tamar, mengeksploitasi, menjajah, dan tentu saja, mendekstrusi
natur seorang perempuan. Dan, kebanyakan
para lelaki di dunia yang sedang jatuh dalam dosa ini nampaknya demikian. Maka
tak heran, 8 dari 10 perempuan mengalami pelecehan seksual. Sebagian besar
sahabat-sahabatku perempuan pernah mengalami abuse dari pihak laki-laki.
Ada satu-dua orang yang begitu dalam terluka sampai mereka punya gambar
diri yang hancur dan butuh pemulihan yang lama, sampai sekarang pun ada yang
belum sembuh. So sad.
Yang kedua, kau akan jadikan
perempuan itu sebagai subjek keindahan.
Keindahan itu tak kau hancurkan. Tetapi kau rawat, kau jaga baik-baik
dari dunia yang jahanam dan dipenuhi angkara nafsu ini. Kau akan menghormati
keberadaannya, melibatkannya di dalam kebutuhannya untuk terlibat dalam hidupmu,
tidak berotorisasi absolut pada perasannya, kau memberinya ruang untuk menari
dengan perasaan, tangisan dan kerapuhannya.
Ah, seharusnya kita demikian, jika kita demikian, maka kita seperti
Yesus Sang Lelaki Sejati, melindungi hati seorang perempuan Samaria yang penuh
malu dan luka.
Lelaki jenis kedua bukanlah pengemis cinta, tetapi ia
menawarkan kekuatan di dalam dirinya. Kekuatan untuk menjaga, melindungi subjek
keindahan yang ia kasihi.
Setengah dekade ini setidaknya ada dua hati yang ingin
kulindungi, tetapi, well, mereka
memilih dilindungi yang lain. Tapi masalahnya, tentu dari perspektifku yang
sering sok rasionalis padahal subjektif, mereka malah dieksploitasi. Dan,
bukankah hati seorang penjaga akan remuk ketika apa yang ingin dijaganya
dicolong oleh maling?
Ah, kok jadi rumit. Hahahaha.
Tetapi ingatlah ini sungguh-sungguh, camkan ini
baik-baik: kepada para lelaki, hati-hati, kalau kau eksploitasi perempuan, maka
engkau sungguh jahanam, bangsat, dan bajingan!! (tiba-tiba merefleksi, apakah
aku juga lelaki yang demikian? Ah bisa jadi, Lord have mercy on me)
#Sambil ngopi Jepang di
siang hari. Tiba-tiba kepikiran kajian
gender dan hal-hal diseputar ini.
Beberapa lama kemudian aku bercakap-cakap dengan
seseorang, dan ia menyarankan ada klasifikasi ketiga: lelaki yang berada di
titik netral. Lelaki dimana ia hanya mengagumi seorang perempuan tanpa berusaha
melakukan apapun. Ia hanya berada di titik dimana ia memandang, melihat
keindahan, dan bersyukur pada Sang Pencipta karena Tuhan menciptakan perempuan.
Bukankah Ia sendiri adalah Sang Keindahan sekaligus pemilik keindahan?
Kamis, 12 Desember 2013
Refleksi dari lukisan Rembrandt “Jacob Wrestling with The Angel”: Mencari Arti Lelaki Sebagai Seorang Pemenang
Kalau anda perhatikan
seksama, sampul buku ini memakai
lukisan dari pelukis terkenal Belanda, Rembrandt Van Ryn, yang berjudul “Jacob Wrestling with The Angel.”[1] Lukisan itu memotret puncak atau klimaks dari
perjalanan hidup seorang Yakub, tokoh Alkitab, yang dalam Camp Men’s Breakthrough kali ini menjadi cerminan setiap kita. Refleksi ini memusat pada dua aktor yang
dilukis Rembrandt: Yakub dan malaikat.
Pertama, sosok Yakub. Saya rasa kita semua
akan setuju jika dikatakan: kisah Yakub adalah kisah kita semua, kisah para
lelaki. Ia lahir sebagai anak bungsu
dari dua bersaudara di tengah keluarga yang mengakarkan iklim favoritisme, dan
melegalkan suasana kompetisi yang saling menjegal di antara saudara sedarah.
Kondisi keluarga ini membesarkan Yakub menuju sosok lelaki yang manipulatif, sifat
yang bergaris lurus dengan arti namanya “penipu.”
Lihatlah Yakub, dengan tipu muslihatnya
ia mengambil hak kesulungan dari Esau dengan semangkok kacang merah. Ia menipu
ayahnya juga untuk mendapatkan berkat, sebuah hal yang dipelopori ibunya,
tetapi saya yakin ia menyetujui dan menikmatinya, demi dirinya sendiri.
Yakub lari ke tempat Laban
karena takut atas ancaman Esau, di sini ia menjadi peternak yang berhasil. Lelaki
yang juga pecinta itu pun berhasil mendapatkan gadis idamannya. Ah, bukankah
ini status yang sangat umum harus dan ingin dicapai oleh para lelaki? Lelaki
yang menjadi pemenang adalah seorang penakluk, penguasa, pejuang dan pemilik
keindahan. Ya, Yakub mendapatkan itu semua.
Tetapi benarkah ia lelaki yang menjadi pemenang?
Aksi tipu menipu Yakub tak
berhenti di situ, ia kelabuhi mertuanya sehingga hartanya semakin banyak. Strategi manipulatifnya tak berhenti,
menjelang bertemu dengan Esau, ia membujuk rayu kakaknya dengan harta benda. Namun, semua berubah ketika si lelaki yang mencoba
untuk terus-menerus menjadi pemenang itu, datang ke sungai Yabok, tempat di
mana ia menjadi lelaki yang kalah.
Rembrandt melukis Yakub
sebagai seseorang pria yang gagah, cambang lebat dan kekar adalah tanda seorang
lelaki bagi era Rembrandt. Pakaian yang
dipakai Yakub dalam lukisan Rembrandt adalah pakaian seorang gembala. Jangan membayangkan
gembala sebagai pekerjaan yang mudah, santai dan menyenangkan! Gembala adalah
pekerjaan yang keras: melindungi dari hewan-hewan buas, mengatur domba-domba
dungu, bertarung dengan sengat mentari dan dinginnya tusukan malam. Tentu pekerjaan seorang gembala adalah awal
menjadi seorang pemimpin yang handal. Yakub
telah teruji dalam itu semua.
Maka pertarungan Yakub
dengan sosok Ilahi, seorang malaikat (yang adalah representasi dari Allah
sendiri, melek, yang artinya “utusan”
identik dengan sang pengutus, sehingga pergelutan dengan malaikat ini adalah
pergelutan dengan Allah sendiri), adalah ujian terhadap kekuatan Yakub sebagai
seorang lelaki.
Kekuatan Yakub sebagai
seorang lelaki amatlah kuat, perhatikan Rembrandt melukisnya dengat akurat:
kedua tangannya tak terlihat, mungkin sibuk menyerang untuk mengalahkan lawan. Penulis Alkitab melaporkan, “Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia [Yakub]
sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak
dapat mengalahkannya. . .” Sangat kuat, sangat ambisius, sangat lelaki?
Kedua, sosok malaikat. Lelaki lawan dari Yakub ini juga tak kalah kuat. Menariknya Rembrandt melukis wajah malaikat
sebagai seorang lelaki yang lemah lembut.
Perhatikan matanya yang memandang kepada Yakub. Itu adalah sebuah
tatapan anugerah dan kasih karunia.
Tangannya kanannya memberikan pelukan, tangannya yang lain dan lututnya
menyerang bagian utama pertahanan Yakub: sendi pangkal paha. Kejadian 32:30 menjelaskan bahwa lelaki itu
adalah Allah sendiri. Pihak superior itu memandang dengan mata menyorotkan
kasih karunia, yang seolah-olah berkata kepada Yakub: kapan kamu berhenti untuk
mencari kemenangan dengan caramu sendiri?
Kapan kamu ingat padaku Allah penguasa hidupmu? Tidakkah kamu sadar
bahwa kamu hanyalah sesosok lelaki dengan berbagai kelemahan? Kapan kamu
menyerah kalah?
Kemenangan
Seseorang Yang Kalah
Jika kita perhatikan dengan
seksama kisah di Kejadian 32, orang itu berkata kepada Yakub, “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub,
tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan
engkau menang.” Menurut saya,
kalimat ini mengundang banyak pertanyaan.
Jelas-jelas Yakub-lah yang terpukul. Yakub-lah pihak yang kalah. Lagipula, inferioritas Yakub di depan Sang
Malaikat itu begitu ketara. Malaikat itu
memberi nama baru kepada Yakub. Pada
masa itu, pemberian nama oleh seseorang kepada pihak yang lain, menunjukkan
kekuasaan dan kebesaran pihak pemberi nama di atas pihak yang namanya
dibaharui. Oleh karena itu jelas, malaikat-lah pemenangnya dan bukan
Yakub.
Pada akhirnya, Yakub tampil
sebagai lelaki yang kalah, tetapi ia disebut menang. Inilah kemenangan seseorang yang kalah.
Tanpa Yakub menjadi kalah,
ia takkan dapat menjadi seorang pemenang.
Tanpa Yakub mengosongkan dirinya, ia takkan bisa menerima pemberian
Allah. Tanpa Yakub menyerah (surrender) dan mengakui kelemahannya (vulnerable),
ia tidak bisa menikmati anugerah dan kekuatan Allah. Tanpa Yakub melepaskan
genggamannya, ia takkan punya tangan yang terbuka menerima berkat-Nya. Tanpa
Yakub berhenti berusaha dengan caranya sendiri, ia takkan mencapai tujuan dan
rencana-Nya.
Inilah inti menjadi seorang
pemenang dari perspektif firman Tuhan: kalah
di hadapan Allah, supaya kita menang di dalam kemenangan-Nya.
Epilog:
Lelaki yang menjadi pemenang adalah lelaki yang spiritual
Coba anda searching di mesin pencari Mbah Google dengan kata kunci “lelaki”
dan “menjadi seorang pemenang.” Anda
akan menemukan bahwa budaya dunia kita masa kini, memberikan arti lelaki yang
menjadi pemenang dengan gambaran pria-pria kekar, kaya, penuh dengan kekuasaan,
dan dikelilingi wanita cantik. Dari
refleksi kita pada lukisan Rembrandt dan kisah Yakub di Sungai Yabok di atas,
benarkah ini artinya? Sungguh, kita
perlu menggugatnya dan mencari arti yang sejati.
Pada akhirnya, usaha
menemukan dan mengerti arti yang tepat tentang “lelaki yang menjadi pemenang,”
menuntut kita untuk kembali kepada kisah penciptaan lelaki pada Kejadian
1-2. Di situ kita melihat, lelaki
diciptakan dengan hembusan nafas Allah.
Itu berarti identitas lelaki yang sejati, hanya bisa kita temukan di
dalam relasi kepada Allah. Romo Deshi
Rahmadani, SJ menulis:
kepada kita para lelaki, sebenarnya dipercayakan sebuah misi besar misi
besar untuk menyadarkan para sesama lelaki tentang hal ini. Untuk itu, kita sendiri perlu terlebih dahulu
memeluk erat-erat identitas kita sebagai lelaki spiritual. Menjadi lelaki sejati tidak bisa dilakukan
dengan sekadar memilih musik keras, kopi kental atau rokok cerutu. Tidak pula
dengan mengolah otot atau mengumbar kemarahan pada setiap orang yang memotong
jalur kendaraan kita. Jika kita mau
menjadi lelaki sejati, kita harus menjadi sangat spiritual.[2]
Yakub meraih identitas
lelaki sebagai pemenang, ketika ia menemukan damai (rest) di dalam Allah. Saat itulah ia meraih hakikatnya sebagai
lelaki spiritual. Jadi, lelaki sebagai
seorang pemenang adalah berkenaan dengan kehidupan rohani kita.
Sampailah kita pada titik,
di mana kita perlu memandang Yesus Kristus.
Misteri inkarnasi, Allah
menjadi manusia, adalah kisah tentang Allah yang turun dalam rupa seorang
lelaki! Dan tahap-tahap kehidupan Yesus membuktikan bahwa Ia adalah seorang
lelaki sejati.
Ia adalah Putra yang secara istimewa dikasihi oleh Bapa-Nya (boy); Ia adalah lelaki yang siap
bertualang menjelajah wilayah dan tantangan baru (cowboy); Ia adalah lelaki yang melihat jelas sebuah visi baru dan
membiarkan tangan-Nya ikut terkotori, terluka, berlumuran darah, dalam pertempuran
sebagai seorang pejuang yang berani (warrior);
Ia adalah lelaki yang memiliki hati yang mengagumi keindahan manusia yang dari
dalamnya terpancar daya ilahi (lover);
Ia adalah lelaki yang memiliki kuasa begitu besar dan sungguh tahu bagaimana
menggunakan kuasa-Nya agar semua orang yang ada di bawah kekuasaan-Nya dan yang
terbuka pada-Nya mengalami peningkatan kualitas kemanusiaan (king); Ia adalah seorang lelaki yang
kehadiran-Nya selalu dibutuhkan karna dari-Nya terpancar nasihat, peneguhan,
peringatan, dan pelajaran berharga tentang hidup (sage). Benar, lelaki itu
adalah Yesus! Terpisah dari Yesus, kita sebagai lelaki sungguh akan
dibingungkan, tak tahu lagi arah tujuan kita karena Sang Anak Domba Allah
adalah juga Sang Singa dari Yehuda![3]
Saat ini di Camp Men’s Breakthrough, Lelaki Sejati
yaitu Yesus Kristus itu memandang kita dengan wajah-Nya yang penuh kasih
karunia, dan kasih setia Ilahi. Ia
menanti kita untuk tunduk, mengakui kekalahan kita, sehingga kita menemukan
kemenangan di dalam-Nya. Ajakannya
begitu lemah lembut, namun juga begitu dahsyat: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan
memberi kelegaan kepadamu.”
Maukah anda?
#Tulisan ini ditulis dalam rangka Camp Men's Breakthrough, kisaran bulan Oktober 2013
[1]Lih.
www.gutenberg.org/files/19602/19602-h/19602-h.htm#l
[2]Adam Harus Bicara (Jakarta: Kanisius, 2010) 278. Saya menyarankan untuk
para lelaki dapat membaca buku ini.
Meskipun ditulis oleh seorang Romo Gereja Katolik Roma, kita dapat
menyetujui pendapat-pendapatnya tentang lelaki di dalam buku ini.
Senin, 04 November 2013
Memiliki
Dunia ini adalah dunia dimana kita dinilai dari
sebanyak apa kita bisa memiliki. Aku rasa kamu akan setuju dengan hal itu. Waktu aku masih di kampus putih, tempatku
belajar teologi dan pelayanan pastoral, gejala ini terlihat amat sangat. Penghuni asrama pria dianggap “berhasil,
sukses, dan hebat” bukanlah dari kedalaman berpikir, atau skill kepemimpinan,
itu mungkin iya tetapi bukan yang terutama (setidaknya dari perspektifku). Penghuni asrama pria dianggap hebat dari
apakah mereka bisa memiliki. Memiliki
apa? Selain daftar yang aku ajukan yakni, khotbah bagus, sikap manis-taat
kepada otoritas, baju necis-bersih,[1] syarat yang
paling ultim adalah ini: memiliki salah satu dari penghuni asrama seberang, asrama
wanita.
Dan karena saat
itu aku adalah pria yang gagal memiliki salah satu penghuni asrama seberang,
maka terjustifikasilah diriku sebagai pria gagal total. Failed dengan spidol merah.
Kalau kamu saat ini adalah orang sepertiku, maka kamu
akan dianggap rendah, gagal, dan ini dia labeling
yang tepat: pecundang. Ada seorang sahabat dekat[2] pernah berkata:
elu si kurang effort, makanya gagal
memiliki.
Hahahaha. Ada
yang berada dalam kondisi yang sama? Acungkan tangan dan mari bertobat :p
***
Aku tak mau bermelankolik dan berkartasis di sini,
tiga paragraf di atas cuma sekadar sebuah contoh. Tetapi hidup di realita pelayanan pastoral
membuatku sadar, budaya “menilai dari apa yang dimiliki” ini mengakar rumput
sampai ke jemaat. Manusia bingung untuk memiliki. Manusia sibuk mengejar
sesuatu untuk dimiliki. Manusia gelisah kalau tak memiliki. Manusia merasa
kurang bernilai, kurang terhormat, kurang
seperti dunia kalau tidak memiliki. Entah itu uang, barang, jabatan,
kesehatan dan segala-galanya.
Kenyataan ini juga ditangkap oleh musikus favoritku
Young Iwan Fals[3]
(), yang pernah bernyanyi “Mimpi yang
terbeli” mengisahkan bagaimana orang harus melakukan tindakan kriminal
untuk membeli barang-barang supaya mereka menjadi sama dengan orang-orang di
sekeliling mereka.
Pandangan “menilai
diri dari apa yang dimiliki” ini kadang-kadang, eh, bukan, seringkali
membuat manusia berubah menjadi monster yang menakutkan dengan topeng-topeng
hipokrisi yang mereka pakai. Otentisitas disisihkan dan tak dipedulikan. Kita
takut kalau kita tak memiliki.
Lalu, apakah yang demikian salah?
Tidak salah juga sih. Karena kita perlu memiliki, tetapi kepemilikan itu perlulah
dilandasi kepada panggilan dan bukan kebutuhan.[4] Apakah yang kita usahakan untuk dimiliki
adalah bagian dari panggilan kita di dunia ini? Atau sekadar pemenuhan
kebutuhan yang berasal dari keinginan hawa nafsu memuaskan diri sendiri?
Kalau kita punya perspektif kepemilikian berdasarkan panggilan, hidup akan lebih sehat. Sehingga kalau kita nggak memiliki, maka kita tak gelisah, tak gundah, tak merasa
kurang. Karena ketika nggak memiliki,
saat itulah kita belajar mencukupkan diri dengan apa yang saat ini kita miliki.
Masalahnya, ternyata secara ontologis kita nggak
pernah punya apa-apa! Semua yang kita miliki berasal dari Sang Pemberi Yang
Satu. Maka dari itu beranikah berbangga kita ini dengan diri kita dan apa yang
saat ini seolah-olah kita miliki? Tidak
bukan?
Pada galibnya, semesta mendedahkan kasunyatan ini
kepada kita: belajar bersyukur pada apa yang saat ini kita miliki karena Ia-lah
Sang Pemberi. Tak perlu galau menduka kalau tidak memiliki. Belajarlah untuk
merasa cukup. Karena orang yang cukup
adalah orang yang memiliki. Orang miskin adalah orang yang tidak punya apa-apa,
karena itu tidak pernah merasa cukup. Orang kaya adalah orang yang memiliki,
maka itu ia akan selalu merasa cukup.
Dalam segala
hal kami menunjukkan bahwa kami pelayan Allah, yaitu: . . .sebagai orang tak
bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu (2Korintus 6: 4, 10)
Lagu dari grup Band Kutless enak nih:
"I'm Still Yours"
If You washed away my vanity
If You took away my words
If all my world was swept away
Would You be enough for me?
Would my beating heart still sing?
If I lost it all
Would my hands stay lifted
To the God who gives and takes away
If You take it all
This life You've given
Still my heart will sing to You
When my life is not what I expected
The plans I made have failed
When there's nothing left to steal me away
Will You be enough for me?
Will my broken heart still sing?
If I lost it all
Would my hands stay lifted
To the God who gives
And takes away
If You take it all
This life You've given
Still my heart
Will sing to You
Even if You take it all away
Youll never let me go
Take it all away
But I still know
That I'm Yours
I'm still Yours
Oh, I'm Yours
I'm still Yours
I'm still Yours
#Pregolan Bunder 36. Solitude Day yang
menumbuhkembangkan jiwa kujalani hari ini. Untukmu.
[1] Anehnya aku agak kurang dalam memiliki itu semua.
Apakah tulisan ini dimulai dari kebencian? Aku berdoa semoga tidak
[2] Karena ia sahabat, maka ia lebih mudah melukai. Orang-orang yang paling membuat kita terluka
adalah mereka yang paling dekat dengan kita, percayalah itu. Tetapi jangan
sampai kamu takut untuk memiliki kedekatan. Karena dalam kedekatan ada
pertumbuhan. Bacalah SoulCraft-nya Douglas
Webster, atau Relasi-nya Paul David Tripp untuk memperkaya hal ini, relasi antar
manusia ada di dalam bagian dari santifikasi.
[3] Mengapa
kutaruh kata Young? Karena Old Iwan tak lebih dari penjaja kopi yang sedang
berusaha memenuhi kebutuhan di masa tua, bukan lagi anak muda idealis
penngkritik penguasa
[4] Thanks to Pdt. Sandi Nugroho yang memaparkan hal ini
di Camp beberapa waktu yang lalu.
Langganan:
Postingan (Atom)


