Selasa, 19 Maret 2013

Tentang dunia yang penuh kompetisi (bagian 2)



Well, tulisanku kali ini masih melanjutkan permasalahan yang kupikirkan di tulisanku terdahulu. Malam ini, ditemani dengan lagu “His Glory Appears” by Hillsong yang syahdu, dan juga kopi Nescafe (eh, nggak promosi lhooooo :p, biasanya aku minum kopi hitam-pahit, entah kenapa hari ini aku minum kopi sachet), aku mau menuliskan beberapa pokok pemikiran.




The Art of War, pemenang dan kecepatan



Kemarin aku melihat-lihat bahan-bahan tugas perkulihan seorang  mahasiswa IBM di sebuah kampus kota Pahlawan ini, yang mengajarkan filsafat “Art of War”nya Sun Tsu dan diaplikasikan bagi dunia bisnis dan usaha. Bagiku yang punya ketertarikan tersendiri dalam ilmu manajemen, marketing dan bisnis [makanya aku baca buku soal New Wave Marketing­nya Hermawan Kertajaya], melahap hal-hal seperti itu adalah kesenangan tersendiri, sejenis mengenyangkan khazanah pengetahuanku.  Lagipula, menjadi entrepreneur adalah mimpi masa SMAku.  Membaca dan mempelajari soal-soal itu seperti bernostalgia dengan diriku di masa dahulu.

Tapi seperti biasa, apa pun yang kupelajari, ogah aku tolak mentah-mentah, perlu melalui tahap kritis. Namun sayang, bukan pada tempatnya untuk mengkritisi semua filosofi Sun Tzu di sini.  Aku hanya ingin mengungkapkan salah satu kesimpulanku setelah menonton dan membaca-baca bahan tugas-tugas kawanku itu yakni: dunia meminta, berharap dan memaksa kita untuk menjadikan dan menujukan diri kita sebagai pemenang.

Aku sitir beberapa kutipan  Sun Tzu:
“Victorious warriors win first and then go to war, while defeated warriors go to war first and then seek to win”
― Sun Tzu, The Art of War

Anda mau jadi apa? Jadi Victorius Warrior kan? Hehehe.

Lalu, kutipan yang menarik yang kedua:
“If quick, I survive. If not quick, I am lost. This is "death.”
― Sun Tzu, The Art of War
 
Well, kutipan ini memperlihatkan gagasan bahwa mereka yang mau jadi pemenang, Victorius Warrior adalah mereka yang tercepat.   

Kecepatan memberikan kita kapasitas untuk menjadi pribadi yang sanggup survive.  Ingatlah kisah-kisah komik kungfu, jurus yang mematikan adalah jurus yang tercepat! Bacalah Bleach, ada Shunpo konsep melangkah cepat disana. Kalau baca Naruto, Hokage keempat yang adalah ayah Naruto terkenal dengan jurusnya yang sanggup berpindah tempat dengan kecepatan seperti petir. Sungguh! Cepat itu penting! Cepat itu adalah awal dari kesuksesan.




Persoalannya?


Menjadi pemenang dan menjadi yang tercepat kerapkali membawa jiwa kita ke dalam gurun kegersangan dan kekeringan makna



Oke-oke saja sih menjadi yang tercepat, oke-oke saja juga menjadi pemenang.  Namun ada persoalan yang menderu begitu gaduh dalam batin manusia-manusia modern yang berusaha untuk menjadi yang tercepat dan menang. Sendjaya mengungkapkan hal ini:


“Kalau ada tiga kata yang menjadi karakteristik dunia modern, tiga kata tersebut adalah noise, hurry, dan crowd. Ketiganya begitu kental mewarnai keseharian hidup kita. Efektivitas hidup seringkali diidentikan dengan keterlibatan kita dalam muchness dan manyness.  Selama kita sibuk di kampus, di kantor, di rumah dan belasan organisasi, semakin kita menjadi efektif. Sibuk, berarti efektif, namun mesti buru-buru agar semua dapat dikerjakan. Psikolog Carl Jung pernah berkata bahwa ‘hurry is not of the devil. It is the devil.”[1]


Dalam kata lain, menjadi pemenang membuat kita berusaha untuk cepat, cepat membawa kita untuk terburu-buru, padahal hurry is the devil. Kenapa?

Karena dalam ketergesahan-gesahan kita, manusia modern, kita berusaha menjadi yang tercepat dan menang, dan akhirnya terjerumus untuk melakukan segala rutinitas tanpa makna. Kita sibuk tanpa kedalaman makna.Inilah yang menyebabkan manusia sering menjadi kering. Manusia menjadi robot dan sama seperti mesin. Bekerja, bekerja dan terus bekerja. Sampai kehilangan arti sebagai manusia.  Dunia yang kompetisi pun akhirnya mendehumanisasi kita.

Menjadi pemenang sih oke, menjadi yang tercepat sih oke. Tetapi persoalannya adalah: jangan sampai kita kehilangan arti dan makna kehidupan kita.  

Yang aku maksud dengan kehilangan makna adalah “hidup yang penuh dengan banyak aktivitas tapi aktivitas-aktivitas itu bukan sesuai prioritas dan kehendak Allah untuk kita kerjakan dan malah menjauhkan kita dari Tuhan dan kasih-Nya.”

Oke. Lalu dengan demikian. Apa sikap yang tepat supaya hidup ini tetap bermakna meski kita menjadi cepat dan berusaha mengejar kemenangan?


Memiliki Momen Withdrawal

Jawabannya sederhana ternyata: memiliki momen withdrawal, yaitu “withdrawal atau berdiam diri di sini berarti mengalokasikan waktu bersama Tuhan agar kita memiliki hati yang dengar-dengaran dan taat kepada-Nya.”[2]  Dalam bahasa yang lebih biasa terdengar: punya momen teduh! Punya momen quiet time, atau lectio divina.[3]  Mempunyai waktu untuk kembali kepada Sang Pencipta hidup![4]



Menariknya, ada banyak keuntungan ketika kita memiliki momen withdrawal, yakni: [5]



1.       Mendengarkan Tuhan.
Tuhan berbicara dalam kesendirian kita, dan disitulah kita dibentuk untuk semakin serupa dengan Dia. Ingatlah satu kejadian historis pemuliaan Kristus, Allah Bapa berfirman: Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. Dengarkanlah Dia! Jadi jelaslah, mendengarkan adalah perintah yang penting!

2.       Menyerahkan diri.
Dunia membentuk kita untuk cepat dan berusaha menjadi pemenang, sering konsep itu membuat kita lupa diri bahwa kesuksesan sesungguhnya berasal dari Tuhan. Berdiam diri adalah saat yang tepat untuk kita menyerahkan segala sesuatunya: keberhasilan pekerjaan, kesuksesan studi, kekuatan dalam menghadapi kehidupan ini.

3.       Mengalami perubahan yang real
Momen ini adalah momen dimana kita diubah, yaitu ketika hanya ada Tuhan dan diri kita, dan Tuhan mengubahkan kita menjadi orang yang sesuai dengan kehendakNya melalui pembacaan firman Tuhan.


Jadi jelaslah momen withdrawal ini membawa kita menuju kedalaman batiniah dan kekayaan makna sebagai seorang manusia, apalagi mereka yang di dalam Kristus!  Momen ini adalah momen di mana kita menggenggam kekuatan ekstra, dan rahmat Tuhan yang selalu baru setiap pagi (Ratapan 3:23).



Epilog

Nah, sampai aku di penghujung tulisan ini.  Aku ingin mengutip lagi Charles Ringma mempertegas kepentingan momen withdrawal:

“Kita terus mencoba berbuat lebih banyak sementara energi kita terus terkuras dan kita jadi seperti pohon yang tercabut denan akar menggapai-nggapai percuma ke angkasa. Jadi kita mengangkat tangan ke atas, berdoa memohon kasih karunia dan kemampuan khusus, padahal seharusnnya kita ditanam kembali di tanah yang subur. Tanah itu tidak dimaksudkan agar kita mengurangi kegiatan kita, tapi untuk mengubah prioritas sehingga kita meluangkan waktu untuk diam. Dan dalam ketenangan, kita menemukan kekuatan dan harapan baru.”[6]

Jadi, di tengah dunia yang penuh dengan kompetisi yang membentuk kita bermental yang tercepat dan pemenang. Mari kita memiliki hidup yang bermakna dan tidak kehilangan tujuan Allah juga kehadiran Allah, dengan memiliki momen withdrawal.  Momen kita berdiam dan ditanam kembali di tanah yang subur.  Momen kita dipeluk hangat oleh Sang Gembala Agung, momen kita pulang ke Bapa yang berlari menyambut kita, momen kita minum aliran air yang hidup dan menyegarkan sunsum tulang kita.  Sebab “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, Ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”


Ditulis secara khusus mengingat beberapa orang: 
1. Giovanni Edison, yang beberapa waktu lalu nginep kamarku dan berkata: "Aku punya kerinduan Him, supaya bisa membawa anak2 melewati salah satu pergumulan paling berat masa kini: SIBUK!."
2. Maria Setiani, yg mengizinkan ku untuk mengecap bahan-bahan kuliahnya. Juga, Melviana Aurelia yang lagi sibuk skripsi.
3. Esther Stepfanie Hermawan, Kharis Adirahsetio, David Dwi Chrisna Damping, Dessy Surya Chandra, para sahabat rohaniku yang sangat ngangenin. Mereka adalah pribadi-pribadi yang Tuhan anugerahkan dan membuatku menghayati koinonia en ta pneuma (companion in spirit).


Follow account twitter-ku: @HimawanPambudi dan add Facebook di Himawan Teguh Pambudi


[1] Sendjaya, Jadilah Pemimpin demi Kristus (Jakarta: Literatur Perkantas, 2012) 194.
[2] Ibid. 198
[3] Soal Lectio Divina, bacalah buku Richard Foster, Sanctuary of the Soul (Surabaya: Perkantas Jatim, 2011) 64-70.
[4] Aku pernah menulis soal ini, perhatikan di https://www.facebook.com/notes/himawan-teguh-pambudi/refleksi-hidup-dengan-kopi-1-butek-isme-dan-teks-yesaya/10150333962982196
[5] Disarikan: Sendjaya, Jadilah Pemimpin 200.
[6]Charles Ringma, Dare To Journey with Henri Nouwen 11.

Kamis, 07 Maret 2013

Tentang Dunia yang Penuh dengan Kompetisi




Sudah lama tidak posting di blog, kesibukan di ladang praktik pelayanan, dan usahaku untuk berkonsentrasi penuh pada job pelayananku membuatku sangat susah untuk memiliki waktu sakralku dimana itu adalah momenku untuk menjalani sebuah aktivitas, yang bagiku, adalah sebuah momen penting: menulis! Dan pada kesempatan kali ini, aku ingin sedikit berbicara tentang dunia yang penuh dengan kompetisi.


Beberapa hari lalu aku berkumpul dan bercakap-cakap bersama dengan kawan-kawan remaja-pemuda di tempat ini. Bercengkerama penuh tawa dan canda, curhat dari hal-hal kecil, sampai soal-soal besar. Tak diduga, tak tertebak, ada sebuah momen eksistensial datang menghampiriku, momen yang dalam buku Contemplative Youth Ministry-nya Mark Yaconelli, disebut momen “noticing” (verba: memperhatikan, secara sederhana ku pahami sebagai momen di mana Allah meminta seorang pelayan-Nya untuk melihat apa yang Dia inginkan untuk diperhatikan).[1]  Momen ini terjadi ketika seorang kawan remajaku kurang lebih berkata demikian:

“Aku tuh capek dengan kuliahku. Tugasku buanyak. Dan kuliah di jurusan ini mengajarkanku untuk hidup dalam kompetisi. Kalau nggak berkompetisi maka nggak akan berhasil.”

Lalu kemudian seorang kawan lain menanggapi, kurang lebih demikian:

 “ya gitulah, kalau kuliah, bayangin ya, aku punya temen. Dueket banget. Eh, pas ngerjain sebuah tugas kelompok masa dia bilang begini: sorry ya, aku nggak bisa sama kamu sementara ini, soalnya aku mau berkelompok sama dia, supaya dapat nilai bagus. Menjengkelkan nggak sih!” 

Kemudian obrolan makin seru dengan segala ungkapan kesusahan hati tentang kampus, tentang perkuliahan, tentang dunia yang penuh dengan kompetisi.[2]  Akh! Kasihan nian mereka!

***

Tadi sore, aku mengambil jeda bagi hidupku, berhenti untuk memikirkan pelayanan, berhenti memikirkan tugas-tugasku, tetapi berhenti dan mencoba merasakan kehadiran Tuhan.  Setelah itu aku berpikir dan sadar bahwa hidupku belakangan sangat jarang untuk mempunyai waktu jeda berkualitas (dalam bahasa lain, waktu jeda ini disebut Saat Teduh, Quiet Time).  Ternyata, bukan hanya kawan-kawan yang hidup dalam dunia kampus dan kenyataan sehari-hari yang diburu serta terpengaruh dunia yang penuh dengan kompetisi! Aku juga mengalaminya, sebuah dunia yang penuh dengan kompetisi, sebuah dunia yang tak mengizinkan adanya jeda. Sebuah dunia yang meminta kita bekerja keras terus-menerus tanpa henti!


Dan inilah karakteristik dunia yang penuh dengan kompetisi.  Hidup ini seolah-olah adalah sebuah usaha untuk menggapai pencapaian demi pencapaian. Hidup ini adalah persaingan. Hidup ini adalah pertarungan. Hidup ini adalah oposisi biner [pertentangan satu kutub dengan kutub yang lain]: Kalah-menang, kaya-miskin, sukses-gagal, lulus-tidak lulus, ganteng-jelek, dan jutaan oposisi binerian lain sebagainya.  Kalau kawan punya waktu luang [ah, ini kan bahasa dunia yang kompetisi juga! Di dunia yang penuh dengan kompetisi ini, kata “sibuk” adalah kosakata yang wajar, bahkan harus selalu ada!], silahkan berjalan-jalan ke toko buku [yang tren bukunya kuanggap sebagai lambang dari perkembangan pola pikir manusia], dan engkau akan melihat berbagai jenis buku yang ditulis untuk menjadikan seorang manusia  berhasil tampil sebagai pemenang dalam dunia yang penuh dengan kompetisi ini.


Nah, dalam konteks inilah, penjelasan Henri Nouwen tentang krisis dunia pendidikan dalam bukunya, Creative Ministry sangat relevan! Aku kutip paragrafnya disini:

“Competition has become one of the most pervasive and also destructive aspect of modern education. The way students look at their fellow students and their teachers, the way they expect their grades and degrees, the way they prepare their exams and take them, the way they apply to college and graduate school, and even in which they spend their free time; all this and much more is impregnated by an all embracing sense of rivalry. You only have to walk during the last week of a semester on a college campus to pick up the mysterious A-B-C-D-and F languange that seems to be on everyone’s lips. The sadness of all this becomes clear when you see that a student is only happy with a high grade when he sure that his fellow students have lower grades. It is obvious that in a system that encourages this ongoing competition, knowledge no longer is a gift that should e share, but a property that should be defended.”[3]


Jadi, jikalau kita merujuk argumen Henri Nouwen itu, maka awal dari dunia yang penuh dengan kompetisi ini berakar pada dunia pendidikan.  Sistem pendidikan di sekolah yang menuntut murid untuk bersaing dengan murid yang lain untuk mendapatkan peringkat yang terbaik, amat punya dampak besar bagi relasi dan kehidupan kita di dunia ini.  

Charles Ringma turut mempertegas, “zaman di mana kita hidup telah menjadikan persaingan dan kerja keras sebagai kebajikan. Hanya yang seperti inilah yang akan berhasil dan produktif.”[4]


Permasalahannya ada di sini: aspek destruktif (aspek negatif yang berkecenderungan menghancurkan) dari dunia yang penuh dengan kompetisi ini amatlah jelas: relasi menjadi relasi yang penuh dengan persaingan. Mereka yang menjadi kawan dan sahabat adalah mereka yang menguntungkan karier dan hasil diri kita. Pada akhirnya, relasi dalam dunia yang penuh dengan kompetisi ini jelas menimbulkan kesakitan hati, kepahitan, kekecewaan, luka, dendam dan berbagai hal negatif lainnya.  Pun amat jelas, eperti yang kuungkapkan pada awal tulisan ini dunia yang kompetitif ini menghasilkan generasi atau anak-anak muda yang berkecenderungan kuat untuk depresi serta stress berlebihan.  Tidakkah ada banyak anak muda yang putus harap karena tidak mampu menggapai dan menggenggam apa yang ingin dicapainya? Bunuh diri karena putus cinta? Bunuh diri karena tidak bisa lulus dari sekolah atau kuliah? Minder karena tidak bisa tampil sejajar dengan anak-anak sebayannya?

Tepatlah kalimat Nouwen: "Dalam dunia yang penuh dengan persaingan ini, bahkan mereka yang sangat dekat, seperti teman sekelas, satu tim. . .rekan kerja di kantor, bisa dikuasai ketakutan dan menjadi tidak ramah satu dengan yang lainnya."


Problem lebih lanjut yang kuperhatikan, aspek dekstruktif ini turut mempengaruhi paradigma orang Kristen dalam masalah kerohanian.  Kerohanian juga menjadi sesuatu yang perlu dikompetisikan. Makanya, susunan kurikulum pemuridan biasanya berdasarkan grade yang harus dicapai, diselesaikan. Apabila seseorang telah melewati grade tertentu, maka ia kan menjadi the holy man dengan lingkaran putih di atas kepalanya. Padahal benarkah demikian? Nyata-nyatanya toh tidak. 

Pada akhirnya, dapat kusimpulkan, dunia yang penuh dengan kompetisi ini jelaslah dunia yang membahayakan. 

Meskipun demikian, emang, kita perlu berpikir secara seimbang, ada aspek-aspek konstruktif yang hadir dalam dunia kompetisi ini.  Bayangkan jika kita tidak menginginkan keberhasilan dan kesuksesan, maka tidak akan ada kemajuan dalam diri kita.  Bayangkan jika kita tidak berkompetisi, maka tidak akan ada perkembangan bagi kehidupan manusia. Lagipula di dalam beberapa bagian Alkitab juga ada rujukan-rujukan bahwa kompetisi itu memang absah adanya (misalnya Paulus dalam metafora pelari dalam perlombaan, dan juga beberapa kali ia menulis tentang bagaimana ia bekerja keras).

Tetapi memperhatikan aspek-aspek dekstrutif itu, anak-anak muda Kristen perlu melihat Alkitab, dan menghayati sebuah meta-narasi kehidupan yang 180 derajat berbeda dengan dunia, sehingga mereka tahu bagaimana untuk hidup dalam dunia yang penuh dengan kompetisi ini.  Sehingga, relasi yang timbul dalam dunia yang penuh kompetisi ini tidaklah relasi yang melahirkan luka dan kekecewaan serta depresi, tetapi relasi atau hubungan antar manusia menjadi relasi yang menyembuhkan dan memulihkan.

***
 
Jadi bagaimana anak muda Kristen hidup dalam dunia yang penuh dengan kompetisi ini?[5]
Dalam Kolose 3:23 Paulus berkata:

Apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Jelas. Lugas. Ringkas.

Dalam dunia yang penuh dengan kompetisi ini, mari kita melakukan segala apa yang kita perbuat untuk Tuhan. Itu berarti, motivasi  ketika menjalani kehidupan kompetitif ini adalah untuk kemuliaan nama Tuhan, bukan meraih kemuliaan diri kita sendiri. Tujuan akhir dari kompetisi yang kita jalani adalah Tuhan yang berkenan bagi kita, bukan kesukaan kita sendiri. Cara menjalani kehidupan pun, adalah cara Tuhan, bukan cara-cara dunia ini.  

Kurangkumkan di sini, motivasi, tujuan akhir, dan cara menjalani kehidupan kita adalah di mulai, diperuntukkan, dan dilakukan bersama Tuhan. Pemikiran Kristus, tindakan Kristus, dan nilai-nilai Kristus, itulah yang kita genggam!
 
Oleh karena itu, kalau dunia yang penuh dengan kompetisi ini bersifat menghancurkan, maka orang Kristen harus tampil berbeda.  Orang Kristen harus hidup mengasihi sesamanya manusia seperti diri mereka sendiri (Mat. 22:39). Itu berarti, mereka yang tidak sanggup untuk bertarung, mereka yang lemah, mereka yang kalah, harus di tolong oleh kita (Mat. 25:40). Jadi "sesama," tidaklah dipandang sebagai pesaing atau objek yang harus dihancurkan, melainkan dipandang sebagai kawan sekerja untuk menuju sesuatu yang lebih baik di depan sana.   


Oleh karena itu, bagi anak muda Kristen yang hidup di dunia yang penuh kompetisi ini, persaingan diubah menjadi kerja sama, individualisme diubah menjadi kebersama-samaan. Kompetisi bukan alat untuk mendehumanisasi manusia, lalu mendegradasikan moralitas dan nilai hidup, tetapi, kompetisi menjadi alat untuk manusia kembali kepada keutuhan dan nilai-nilai kebajikan. Anak-anak muda Kristen harus punya nilai-nilai kasih, membantu, dan mentransformasikan hidup orang lain.


Jikalau anak-anak muda Kristen memiliki dan menghayati paradigma hidup demikian, maka aku percaya, hidup secara pribadi akan jauh dari depresi. Dan dunia ini akan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali bersama.


Nah, bagaimana pendapatmu?  Apa tindakanmu?





*Ditulis khusus untuk: Giovanni Edison, Melviana Aurelia, Maria Setiani, kawan-kawan baru yang Tuhan izinkan untuk hinggap dalam kehidupanku di kota Pahlawan ini.

Follow me at: @HimawanPambudi dan Facebook: Himawan Teguh Pambudi

[1]Lih. Contemplative Youth Ministry: Practicing the Presence of Jesus (Youth Specialties: Grand Rapids, 2006) 177
[2] Kamus Mirriam-Webster memberikan arti competition demikian : the act or process of competing : rivalry: as
a : the effort of two or more parties acting independently to secure the business of a third party by offering the most favorable terms. b : active demand by two or more organisms or kinds of organisms for some environmental resource in short supply 2. : a contest between rivals; [diambil dari http://www.merriam-webster.com/dictionary/competition; diakses 7 Maret 2013].

[3]Creative Ministry (Double Day: Image Books, 1971) 6.
[4]“Daya Saing” Dare to Journey with Henri Nouwen (Bandung: Pionir Jaya, 2010) 264.
[5]Aku kurang cukup waktu untuk menggali seluruh Alkitab, karena ada hal lain yang harus aku capai [ah! Hidupku juga berkompetisi! J], untuk lebih lengkap bisa melihat: Bob Luginbill, “Should Christian have competitive attitude?” dalam http://ichthys.com/mail-competition.htm; diakses 7 Maret 2013].

Selasa, 05 Februari 2013

Leiden (Penderitaan)


Jutaan detik menggelitik. Dalam kalbu, terpetik rintik-rintik butiran asmara. Butiran yang harus luruh. Bukan karena tak mampu bertahan, tapi karena tak perlu ditahan.

“Ni! Diem aja lu.” suara sahabatku menggelegar membuyarkan lamunanku.

“Hi Jos, dasar lu, ngerusak lamunan gue aje.” Sahabatku, Jose, orang timor yang berambut kriwil, berkulit hitam legam, berasal dari pelosok sana. Wajahnya boleh seram, tetapi di 
dataran Jawa ini, dia adalah orang dengan hati tulus yang pernah aku kenal. Sungguh, ia adalah sahabat terbaikku.

“Ni, entah kenapa, gue liat2, lu sering ngelamun sekarang ini. Apalagi sejak lu gak kontak2 lagi ama Maira.”

“Ah, nggak kok, gue lagi sibuk mikirin skripsi gue nih. Susah, kagak kelar-kelar! Hipotesis gue tentang Karl Jaspers, filsuf eksistensi itu, nggak ada datanya!” Aku mencoba meraih pelarian.

“Dasar lu, orang filsafat, bikin judul skripsi yang mbulet-mbulet, tapi nggak ada aplikasinya buat rakyat. Kayak gue dong, calon sarjana ekonomi, yang memikirkan sistem ekonomi makro yang akan mengubah wajah Indonesia. Hahahaha.”

Aku terdiam, terhentak dengan pernyataan sahabatku itu. Memang benar, studi filsafatku terasa lebih banyak berteori daripada memikirkan hal-hal praktis buat rakyat. Tetapi kenyataan itu bukanlah hal yang membuatku gundah belakangan ini. Maira. Nama itu lebih membuat gundah gelisah lebih daripada Jaspers, filsuf Jerman kesohor itu yang menjadi judul skripsiku di jurusan filsafat yang aku tempuh.


Ya. Maira Hadisaputra. Mahasiswa semester 4 jurusan psikologi di sebuah kampus tersohor. Aku bertemu dengannya di sebuah acara bakti sosial gereja. Pertama berkenalan dengannya aku tak memiliki perasaan apa-apa. Lagipula aku tahu dia sudah memiliki seorang kekasih yang selalu menemaninya. Selama beberapa bulan ini kami berteman dan menjadi sahabat. 


Tapi rupa-rupanya persahabatan itu hendak berujung pada terganggunya sebuah hubungan. Kedekatanku dengan Maira membuatku terpojok dan melahirkanku sebagai pihak yang tertuduh mengganggu hubungannya dengan pacarnya. Maira sendiri, kepada teman-temannya, selalu bilang bahwa Geni tidak ada hubungannya dengan keretakan relasinya dengan Bayu, pacarnya. Tetapi kenyataan berbicara lain, setiap ada dia, aku tahu ada percikan-percikan yang timbul di dalam ruang kalbuku.


Namaku Geni. Artinya, api. Terdakwa penganggu hubungan Maira-Bayu. Aku adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan filsafat di sebuah sekolah teologi-filsafat di Ibukota. Lantas, bukan aku mau mengelak, aku malah mau mengaku di sini. Jujur saja, siapa tak bakal jatuh cinta pada Maira. Anak gadis kelahiran sunda-chinese. Rambut hitam tergerai lurus, mata sipit namun dengan sorot mendamaikan, kulit putih kemerah-merahan halus, bulu mata lentik, gigi seri serasi. Neng geulis kelahiran Bandung, yang secara fisik lebih mewakili ibunya yang keturunan Tionghoa itu. Penerus trah Hadisaputra yang adalah salah satu pemilik restoran chinese terkenal di kota Bandung. Turunan keluarga kaya, mapan, dan tentu, kapitalis. Dari segala sisi, fisik, ekonomi, sosial, keturunan, kecerdasan, kedewasaan, kematangan diri, jelas dia adalah gadis idaman semua lelaki.


Dan kepada Maira, yang telah dipunya, aku jatuh cinta. Rasa itu datang di bulan kesembilan pertemanan kami. Selama ini kami hanya sekadar bertemu di acara-acara sosial gereja, kadang-kadang berbicara, tetapi tak jarang kami saling mengirim sms. Frekuensi komunikasi kami makin meningkat ketika hubungannya dengan Bayu mulai terganggu. Dia telepon aku tiap hari sabtu. Pengganti dating-nya. Katanya Maira, lebih baik berwicara dengan seorang sahabat dengan taraf kebijaksanaan luar biasa daripada sepi sendiri. Ah, bodoh. Saat itu aku pelan-pelan terperosok dalam candu. Padahal, tidakkah setiap candu memiliki kenikmatannya sendiri, namun detik demi detik ia akan menggerogoti hidup kita? Pada akhirnya, candu akan menghancurkan dan menghantarkan kita pada gerbang kematian. Pun, sama halnya dengan candu asmara yang salah. Sampai akhirnya kami sering keluar bersama, berjalan-jalan bersama, dan menghabiskan waktu bersama.


Dosakah aku mencintainya? Aku tak tahu.


“Ni, aku nggak tahu ya, kalau ada kamu, rasanya ada damai, nyaman.” Sepenggal kalimat Maira yang pernah meletupkan kembang api di dalam relungku. Saat itu kami duduk di pinggir taman, memandang langit malam tiada bintang. Ia pegang tanganku, dan, aku sambut pegangan itu. Hangat. Sekaligus dingin. Hangat karena lubuk ini begitu merindu untuk merekahnya bunga-bunga cinta. Dingin, karena akal gundah menatap sebuah kesalahan yang sedang terjadi.  Tanpa sadar, malam itu aku memulai pelanggaran. Pelanggaran sebuah batas dalam hubungan. Sesungguhnya, manusia harus berpikir rasional, setiap hubungan memiliki batasan-batasannya sendiri. Teman, orangtua, persahabatan, pacaran, suami-istri, keluarga, partner kerja. Semua kita, berhak punya batasan-batasan. Batasan adalah bagian kehidupan yang tidak boleh dimasuki, atau dilangkahi oleh orang lain. Ada tempat di mana hidup kita, tidak diganggu oleh keberadaan orang lain. Pertengkaran, perselisihan, pertikaian, cek-cok, pembunuhan, kesakitan hati, dendam, dimulai dari batasan-batasan dalam sebuah hubungan yang dilangkahi. Bila pagar batasan hubungan yang dilanggar atau dilompati akan membuat tuan rumah, marah, tak lagi ramah.


“Emang nggak papa ya gue pergi ama elu, bahkan sampe pegangan begini. Bayu gimana?”

“Gakpapa, kan kita jelas.”


Jelas? Darimananya? seruku lirih dalam hati.


“Kita kan sahabatan Genii. Plis deh. Semua orang juga tahu! Hehe. Bayu sekarang lagi sibuk ngurus kerjaan. Dia lebih mentingin gaweannya daripada pacarnya yang butuh dia. Sekarang, ada kamu...”


Jadi gue siapa? Sahabat?

Usai perjalanan di malam itu, aku membicarakan hal ini dengan Jose. Nuraniku gaduh. Ada yang tak benar disana.


“Lu gila apa!” damprat Jose.


“Lu, mau main jadi orang ketiga? Ngancurin hubungan orang? Biadab lu. Bajingan! Katanya orang yang berpikir, tapi lu nggak adil sama pikiran dan tindakan lu sendiri. Sadar Ni, sadar! Maira itu punya orang. Ingat, mereka bentar lagi juga tunangan, bakal kawin tahu nggak? Sarjana kere macam lu mana bisa diterima keluarganya?”


“Tapi gue sayang dia Jos? Si Bayu juga gak terlalu peduli ama Maira? Masa pacaran tapi nggak pernah kontak? Nggak pernah pergi berdua?”


“Justru itu! Lu masuk ke dalam lubang yang seharusnya diisi oleh Bayu. Kalau lu bener temen, harusnya lu kasih tahu Bayu n ngedukung mereka. Bukan tambah ngancurin. Secara ontologis, hubungan kalian salah!”


Secara ontologis? [Ontos: asal, hakikat. Logos: ilmu]. Jadi, secara hakikat asmaraku salah? Dasar Jose. Bahkan ia memojokkanku dengan istilah filsafat.


Kalimat itu benar-benar menohokku. Aku, sarjana filsafat, harusnya berpikir jernih dengan memakai logika dan berpikir rasional. Tetapi kepada Maira, aku terpojok dengan perasaanku. Benar memang, perasaan, bukan rasio, yang sering membawa masalah. Orang korupsi karena rasa bernama nafsu. Orang membunuh karena rasa bernama dendam. Orang berusaha meraih sukses karena rasa bernama ambisi. Orang menangis karena rasa bernama sedih. Ya, rasa. Berjuta kali, rasa menghancurkan umat manusia. Bukankah ia yang membuat hantu bernama Hitler itu lekat dengan rasa angkuh atas rasnya dan lantas, memprakarsai Holocaust? Tidakkah rasa haus akan kekuasaan yang membawa rezim otoriter semacam Soeharto, yang tega mengambil nyawa orang tidak berdosa begitu banyak? Rasa, seringkali ia meremukkan manusia dalam rintihan-rintihan memedihkan, ratapan-ratapan yang menyayat sukma.


“Mai, kita nggak bisa deket terus deh.” Aku pun ambil waktu berbicara dengan Maira di satu penghujung petang.

“Hah, kenapa? Kita kan sahabatan?”

“Orang lihat aku ini semacam racun buat kamu dan Bayu. Nggak boleh ada.”

“Kok kamu ndegerin suara orang sih? Whatever lah, temen-temenmu dan temen-temenku bilang apa. Kita sahabat ya sahabat. Nggak ada apa-apa kok di antara kita.”

“Lalu gimana dengan Bayu”

“Ya, dia…… marah sih. Kemarin bilang kalau aku ini susah dipercayai lagi.”

“Tuh kan. Kita harus atur jarak Mai. Malah kalau bisa mungkin aku harus memutuskan hubunganku denganmu.”

“Ah, bodo! Ngapain. Udah lah, selow aja deh.”

“Gak bisa Mai. Semakin kita deket. Semakin hubunganmu dengan Bayu aku hancurin.”

“Kenapa kamu berpikir kamu hancurin hubunganku?”

“Aku sayang kamu Mai! Aku jatuh cinta ama kamu! Nggak nyadar?”

Maira terdiam, membisu menatapku dengan lekat. “Ni, kamu serius?”

“Ya. Karena itu kita nggak bisa deket. Aku harus membunuh rasa itu. Menguburnya dalam-dalam. Meski aku tahu, akan sangat perih, sakit dan penuh derita.” Aku menghujam Maira dengan kalimatku itu, yang rasanya, sekeras batu kali dilempar ke dahi.

Malam itu, kami mengakhiri pertemuan kami tanpa menuntaskan keputusan. Maira terdiam, lalu menangis. “Maaf ya Ni. Aku memberikan perasaan itu padamu.”

“Jangan minta maaf. Aku yang salah.” Dan kami pun, dimulai malam itu, dengan tanpa kata, memutuskan untuk bersama-sama saling menjauh.

Tapi kenapa aku yang mengaku bahwa aku yang salah? Apakah karena konsepsi bahwa asmara selalu milik dua orang individu dan bukan tiga? Tidakkah Kitab Suci tak hanya mencatat kisah Yakub-Rahel? Tetapi juga Daud-Betsyeba, yang malah nanti melahirkan keturunan Yesus? Bodoh. Mengaku salah  tanpa alasan itu bodoh.

Sudah dua bulan ini aku dan Maira menjauh. Sakit tak tertahankan memekik di tengah dadaku. Kadang-kadang di malam hari aku duduk sendirian dan menangis. Rasa, bukan rasio, yang selalu membawa pedih. Kadang-kadang Mai sms atau menelpon, sungguh aku ingin membalas atau mengangkatnya, tetapi aku menahan diriku. Aku ganti nomorku dan pindah tempat kos. Agar bayangan Maira tak mengangguku lagi. Saat itulah aku tahu artinya kehilangan. Ketika sesuatu yang ingin kita dekap erat, genggam lekat, dipaksa untuk dilepaskan dari hidup kita. Aku, benar-benar, kehilangan.


Di saat-saat kehilangan seperti inilah, aku mengerti apa itu arti dari penderitaan. Bagi hatiku yang pahit dan remuk, kehilangan Maira adalah penderitaan terbesar yang pernah aku alami dalam hidup ini. Penderitaan, Leiden kata filsuf Karl Jaspers. Semua bentuk penderitaan, entah itu penyakit fisik, ketegangan, keputusasaan, perbudakan, kelaparan, kemiskinan, juga, kehilangan ia yang kita ingin miliki, memiliki sifat desktruktif, juga konstruktif bagi manusia (Dasein)-keberadaan di dalam dunia-. Penderitaan itu dekstruktif, menghancurkan, karena ia menggerogoti manusia sedikit demi sedikit. Tetapi ia bisa konstruktif bagi seorang manusia, kalau ia punya ketabahan hati untuk menerima, menanggung penderitaan dan bertumbuh melalui penderitaan tersebut.


Sekarang, di saat seperti inilah aku harus memilih, apakah aku hendak mati dalam penderitaan akan bayangan Maira? Atau aku memilih untuk bertumbuh, menerima akan keadaan ini, dan aku tanggung sakit tak tertahankan ini, sebagai jalan untuk sesuatu yang lebih baik di depan sana.


Sungguh, jembatan cinta ku telah roboh karena ia terlalu terlarang untuk dibangun. Leiden pun muncul dalam perjalanan hidup ini. Leiden yang menyayat luka.


Luka. Ia membuat merintih. Pedih yang memekik. Derita yang menari. Gores yang mengiris. Penderitaan yang terbuncah karena rasa. Rasa menerbitkan hujan problema. Rasa menitikkan tangis gulana. Rasa mengoyakkan benteng kalbu. Rasa meranggas tembok-tembok sejahtera. Dan yang terluka, hanya bisa menunggu dalam waktu. Tetapi manusia perlu sadar, tidakkah ada Sosok yang dekat dengan mereka yang terluka? Tidakkah ada Sosok yang siap membebat mereka yang hatinya kecewa? Sosok ultim, Tuhan Sang Empunya kehidupan ini? Sesungguhnya, justru dalam penderitaan ini, di tengah usaha melepaskan dan meninggalkan cinta terlarang terhadap Maira, barangkali aku akan menemukan hakikat hidup itu sendiri. Sang Pencipta?

*2 Juni 2012. Jl. Gedong 5. Mangga Besar 1. Jakarta Pusat. Sebuah usaha untuk membumikan sebuah gagasan teologis yang "dahsyat."

Jumat, 25 Januari 2013

Prayer

"Prayer, therefore, is far from sweet and easy. Being the expression of our greatest love, it does not keep pain away from us. Instead, it makes us suffer more since our love for God is a love for a suffering God and our entering into God's intimacy is an entering into the intimacy where all of human suffering is embraced in divine compassion. To the degree that our prayer has become the prayer of our heart we will love more and suffer more, we will see more light, and more darkness, more grace and more sin, more of God and more of humanity. To the degree that we have descended into our heart and reached out to God from there, solitude can speak to solitude, deep to deep, and heart to heart. It is there where love and pain are found together."


[Henri Nouwen, Reaching Out 150]

Kamis, 24 Januari 2013

Satu dari tragedi besar

"One of the greatest tragedy of our culture is that millions of young people spend many hours, days, weeks and years listening to lectures, reading books, and writing papers with a constantly increasing resistance"

Henry Nouwen, Reaching Out: The T5hree Movements of The Spiritual Life (Double Day: Image, 1975) 84