Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Februari 2014

Hati Yang Rapuh


Aku mau menceritakan tentang apa yang aku temukan ketika bersama Ringga di sebuah siang. Saat itu, aku datang ke rumah kontrakannya, untuk minta bantuan tugas akhirku.  Sebagai sarjana psikologi, aku perlu melakukan wawancara dengan beberapa narasumber yang beberapa diantaranya dikenalkan oleh Ringga.

Rumah kontrakan itu ia tempati bersama dengan beberapa temannya. Rumah sederhana di tengah kota panas ini, tetapi begitu rindang dan hijau, bahkan lebih layak disebut hutan. Kau akan temukan kandang-kandang ayam, sangkar burung di sana, juga pot-pot berisi tanaman. Ringga pernah berkata: “hanya dekat dengan alam kau akan menjadi seorang manusia.”

Tapi percakapan ini yang membuatku terkejut.

***

To love at all is to be vulnerable. Love anything, and your heart will certainly be wrung and possilbly be broken. If you want to make sure of keeping it intact, you must give your heart to no one, not even to an animal. Wrap it carefully round with hobbies and little luxuries; avoid all entanglements; lock it up safe in the casket or coffin of your selfishness. But in that casket – safe, darl,  motionless, airless – it will change. It will not be broken; it will become unbreakable, impenetrable, irredeemable. The alternative to tragedy,  or at least to the risk of tragedy, is damnation. The only place  outside of Heaven where you can perfectly safe from all the dangers and perturbations of love is Hell.” (C. S. Lewis, The Four Loves)

“Ringga, kenapa kamu masang quotes ini di ruang tamu mu?”

“Hmmm. Kenapa coba?”

“Lho, aku kan nanya, kok ditanya balik?”

“Hehehehe, ya kan kamu bisa nebak,”

“Gimana mau nebak?”

“Kan kamu orangnya punya intuisi yang sangat kuat. Ayo coba berpikir. Kenapa guru musik naruh quotes ini di ruang tamunya. Hehehehe”

“Lho, kok disuruh mikir.. Dasar orang thinking, mikir teruuus.. Kayak Reed Richards, Mr, Fantastic yang getol diem di laboratium, sampai pernikahannya sama Susan Storm diduain. Hehehehe“[1]

“Iya lah, dunia ini hancur karena orang kurang berpikir!”

“Yeh, dunia juga hancur karena orang terlalu banyak mikir dan kurang berperasaan.”

“Hahahaha. Tetapi rasa, bukan logika yang selalu membuat masalah,” jawabnya dengan gesit

“Eh, hmmm, kalau menurutku sih ya, luka itu sesuatu yang menyakiti. Jadi ada rasa sakit, entah itu fisik, entah itu emosional, sesuatu yang membuat kita nggak nyaman.”

“Wah, dipikirin juga jawabannya.”

“Leeeeh, kan kamu tanyaaaa.”

“Hehehehe, dunia kita ini dunia dimana orang itu saling melukai Rin. Sejarah kita adalah sejarah saling melukai. Sejak pra sejarah, sampai postmodern. Lihatlah sejarah, perang salib, perang dunia, perang antar agama. Kita saling melukai bukan? Sesama manusia saling melukai.  Di manapun juga: entah era sebelum kelahiran Kristus di Makedonia, suku-suku bangsa barbar saling bertempur di Normandia, dinasti Han di China, penaklukkan Aleksander Agung sampai India, bahkan Nusantara di bawah Majapahit. Ingat perang Bubat? Sejarah saling melukai di negeri ini, hanya demi Sumpah Palapa yang mustahil itu Gajahmada membuat sang putri Pasundan terbunuh. Kisah 1965 juga memperlihatkan kepada kita sejarah saling melukai. 1998 yang menghancurkan etnis Tionghoa dan melahirkan konflik berkepanjangan dan kecurigaan antar etnis juga hasil dari sejarah saling melukai. Betul nggak?”

“Hadeuh, pak guru sejarah lagi ngajar nih”

“Ya kan selain musik dan gunung, aku senang sejarah.”

“Iya deh. Trus apa hubunganya sama quotes C. S. Lewis, sastrawan sekaligus intelektual terkemuka itu?” 

Ringga ini benar-benar filosofis orangnya. Kadang-kadang aku nggak ngerti apa yang dipikirkan oleh sahabatku satu ini. Sungguh, dia ini orang yang rumit! Tetapi memang, persahabatan itu sesuatu yang selalu mengubahkan. Semakin kamu mengenal seseorang, ia akan mengubahmu. Pengenalan yang mendalam selalu memberi dampak bagi diri kita. Itulah mengapa persahabatan yang panjang dan dalam itu diperlukan di tengah dunia yang kosong dalam hubungan-hubungan tanpa makna. Gara-gara aku bersahabat dengan Ringga yang suka merenung, aku pun jadi suka merenung dan memikirkan ini dan itu dalam kehidupanku. Nanti akan kuceritakan bagaimana aku mendapati bahwa perenunganku terjadi biasanya ketika langit menangis menerjunkan air matanya ke bumi.

“Gak ada hubungan langsung sih. Hahahaha”

“Lhoo?”

“Cuma mau bilang kalau selama hidup kita di dunia kamu pasti akan terluka.”

“Trus?”

“Ya, mari menghadapi kemungkinan-kemungkinan bahwa kita ini akan selalu terluka. Dan ingat ini, kita hanya bisa menghadapinya dengan hati yang rapuh.”

“Hati yang rapuh?”

“Yeps. Hati yang siap terluka tetapi juga siap untuk ditambal, diobati, disembuhkan. Di situlah kamu akan mengalami bahwa di dalam hubungan-hubungan kita sebagai manusia, adalah hubungan-hubungan yang layak diperjuangkan. Karena setiap kali kita terluka, selalu ada kemungkinan kita mengalami perasaan disembuhkan.”

“Jadi, selalu ada dokter, selalu ada antibiotik, selalu ada insulin untuk hati kita?”

“Ya, akan selalu ada kasih dan cinta untuk hati yang rapuh.” Ringga mengatakannya dengan tersenyum. Senyum kharismatis dari seorang sahabat yang baik. Senyum yang memberikan janji bahwa kebaikan masih ada. Senyum seseorang yang memiliki cahaya kasih di dalam sanubarinya.

Kalimat serta senyuman itu menyembuhkanku. Di hari yang sama, hari dimana bertahun-tahun yang lalu Papaku menghilang dari pandanganku. Hari di mana dunia menimbulkan luka yang sangat mendalam di dalam diriku. Usiaku masih 8 tahun waktu itu. Papa tiba-tiba tak pulang usai kerja. Kecelakaan fatal merenggut nyawanya.

Beberapa bulan sebelum hari di mana aku berkunjung ku rumah Ringga, kutinggalkan pacarku sejak SMA, karena ia ingin menikmati tubuhku. Aku begitu terluka karena ia ternyata mencintai karena aku memiliki sesuatu. Sesuatu itu ialah tubuhku. Kejadian yang masih sering terulang sampai saat ini.
It’s okay to have tears in our eyes as long as we have hope in our hearts.[2]


Ringga memberikan pengharapan bahwa masih ada kasih dan cinta di dunia ini. Kita menghadapi dunia yang saling melukai.  Bahkan orang-orang terdekat pun akan melukai kita. Air mata akan selalu ada. Tetapi selalu ada pengharapan. Pengharapan itu ada di dalam kasih dari orang-orang seperti Ringga. Orang-orang yang hatinya bercahaya. 

***

Pertemuanku dengan Ringga di siang itu mengubah perspektifku, dan aku menemukan seorang sahabat baru. Sahabat yang baik dalam suka dan duka. Selalu ada ketika ku bertanya. Kisah ku dan Ringga sangat banyak. Nanti ku curahkan satu per satu.  Hellen Keller pernah berkata: “lebih baik berjalan dalam kegelapan bersama seorang sahabat daripada sendirian di tengah terang.” Sahabat itu begitu penting di dalam dunia ini. Ia adalah harta yang tak ternilai. Adakah engkau mempunyainya?

 

#Agak nggak jelas di sebuah sore.
30 September 2013. Please “Wake me up when September end

 







[1] Fantastic Four: The Rise of Silver Surfer
[2] Ben Witeringthon III

Airin





Di mata air ada air mata. Di tengah deras hujan ada deras tangis. Itu lah mengapa ada seseorang yang berkata: “I love walking in the rain because there is no one can see me crying.” Belakangan ini langit sering menangis. Aku pun berdansa bersama hujan. Ia adalah tempat menari paling asyik. Saat dimana aku menjadi diriku sendiri. Tidak ada orang lain. Hanya aku, hujan, dan langit.


“Airin, kenapa kamu suka berhujan-hujan?” ah, Ringga memang perhatian, sahabatku yang satu ini. Pendaki gunung yang melankolis sekaligus guru musik yang misterius.

“Karena aku bisa merasakan diriku sendiri.”

“Aneh, kamu kan bisa sakit”

“Tidak. Saat hujan aku bisa semakin dekat dengannya.”

Dengannya. Dengan seseorang lelaki yang kukagumi sejak aku kecil. Lelaki yang aku cintai. Lelaki yang kepadanya hatiku telah memilih dan akan berpasrah. Lelaki yang menerbitkan aksara-aksara asmara yang indah layak untuk dibaca. Lelaki yang suaranya begitu gagah bak gelombang samudera, tetapi matanya begitu biru dan meneduhkan laiknya langit teduh di kala senja. Lelaki yang hilang di telan hujan.

“Oh begitu.” Ringga terdiam. Ringga tidak pernah tahu siapa dia. Ringga baru datang dalam hidupku 6 tahun belakangan ini. Ringga punya kekuatannya tersendiri. Setiap lelaki punya kekuatannya masing-masing. Dan mereka berlomba-lomba kepada kita para wanita, menawarkan kekuatan mereka masing-masing kepada kita. Karena mereka pecinta keindahan. Sayangnya sebagian lelaki adalah pengemis dan tidak pernah berusaha menawarkan kekuatannya. Sebagian yang lain menaklukkan untuk kenikmatan mereka sendiri.

“Hei, jangan diam dong, Sang Mesias, hehehe”

“Heh, Mesias?”

“Iya kamuu..”

“Kok bisa?”

“Ya iyalah, 10 menit nelpon terus datang gagah dengan motormu. Nyelametin diriku sahabatmu ini. Mesias dong. Mesias kan mereka yang berani mati demi sahabatnya?”

“Ya elah..”

“Kok ya elah?”

“Gakpapa”

“Hihihihihi.. Ayo minum teh. Sekarang kamu minum teh ya?”

“Nggak mau, aku mau bikin kopi sendiri”

“Yeee.. Teh juga punya kadar kafein untuk memutarbalikkan senyawa adenosin kok.”

“Ya, tapi beda doong rasanya.”

“Teh itu mendamaikan Ringga.”

“Ya ya ya.”

Kami selalu bertengkar soal minum teh dan kopi. Bagiku minum teh adalah upaya menghirup kedamaian. Teh menawarkan ketenangan dan kedamaian. Kopi di sisi lain menyodorkan dimensi-dimensi kegairahan, tantangan, letupan-letupan emosional, sisi di mana Ringga ada.

“Kayaknya kamu jadi nggak cerewet kalau pas lagi nge-teh?” Ringga tiba-tiba menyahut.

“Hahahahaha. Aku sama papa dan mama selalu minum teh sejak kecil. Bagi keluarga kami, minum teh itu adalah ritual sakral. Tempat di mana kami diam dari keributan dunia. Saat di mana kami ada dan saling memerhatikan satu dengan yang lain. Makanya, jadi diem deh..”

Aku ingat masa-masa itu. Masa-masa yang telah lama. Ah memang, rumah baru terasa rumah setelah kita meninggalkannya. Tetapi hidup toh harus demikian. Kita meninggalkan untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Kita melepaskan yang lama untuk menggapai pengalaman-pengalaman dan kemungkinan-kemungkinan yang baru. Tapi aku jadi kangen rumah. Papa dan Mama, juga adikku, Arista. Sebenarnya aku adalah anak angkat dari Pada dan Mama. Aku berasal dari keluarga yang mempunyai banyak anak. Aku anak yang ketujuh dari 5 kakak perempuan dan 1 kakak lelaki. Di usiaku yang baru menginjak 7 tahun papa dan mama mengadopsiku. 9 tahun kemudian mereka mengadopsi Arista. Papa dan Mama, entah kenapa tidak bisa memiliki anak. Tetapi ternyata anak bukan hanya masalah biologis. Anak adalah kepemilikan dari sebuah pemilihan. Aku merasa Papa dan Mama mencintaiku, membesarkanku dengan kasih. Mereka menerimaku apa adanya. Mereka memberiku arti tentang kedamaian, cinta dan kasih. Dan mimpiku selama aku hidup cuma satu: menawarkan kedamaian. Itulah mengapa aku suka minum teh.


Selain hujan dan teh aku sangat suka pada anak-anak. Doestoevsky, penulis yang amat disukai Ringga pernah menulis: The soul is healed by being with children. Selain bekerja mencari uang, aku menyempatkan hari Rabu dan Sabtuku untuk mengajar di sebuah tempat les kecil, sebuah lembaga sosial non profit memiliki pelayan anak-anak jalanan dan aku tergabung di sana. Di sinilah aku bertemu Ringga. Kenapa anak-anak jalanan? Karena di situlah aku memahami rasanya berbagi dengan mereka yang berkekurangan. Mereka yang jarang mandi dan disentuh oleh kita, orang-orang kota. Suatu ketika aku memandikan seorang anak jalanan, Tole[1] namanya. Lusuh! Kotor! Dekil! Tetapi aku menurunkan harga diriku. Aku memegangnya, menggosok tubuhnya, mengambil kotoran dari telinganya, menyabuni dan menyamponinya. Penjaga WC umum geleng-geleng melihatku, mungkin heran kenapa ada gadis cantik muda mau memandikan anak orang, anak jalanan yang kotor. Usai memandikan Tole, aku menghanduki dan memakaikannya baju. Lalu aku menghantarkannya pada Ibunya (yang katanya akan memukulinya kalau ia tidak menyetor uang, eksploitasi yang kejam kepada anak!), dan ketika kami harus berpisah aku memeluknya. Anehnya, ia tidak segera melepaskan pelukannya padaku. Ternyata sentuhan bisa berbicara lebih banyak dari kata-kata. Kita bisa mengubah sebuah jiwa dengan menyentuh. Mereka hanya bisa berbahasa kekasaran dan kekerasan. Padahal di dalam setiap jiwa merindukan kasih. Pada setiap jiwa ada ruang yang kosong yang rindu diisi oleh perhatian dan kasih sayang.

“Lho kok jadi diem?” Ringga tiba-tiba menghentakku dari lamunan.

“Eh.. hehehehe, iya nih lagi mikir.”

“Emang orang Feeling bisa Thinking?”

“Bisa laaaaaaah”

“Hahahaha.”

“Eh, ayo muter lagu.”

“Lagu apa? Gimana kalau aku main gitar?”

“Boleh dong.”

Lalu Ringga menyanyi dengan merdu. Seperti sihir ia menarikku dalam sebuah pusaran. Ia tahu selera laguku. Dan ia menyanyikan sebuah lagu yang akbar. “You may say I'm a dreamer. But I'm not the only one. I hope someday you'll join us. And the world will be as one.” Kami sama-sama pemimpi. Pemimpi akan dunia yang lebih baik. Itulah mengapa ia menjadi sahabat terbaikku. Trims Ringga. Kamu benar-benar Mesias.



22 September 2013. Pregolan Bunder 36. Kamar Pojok Yang Hening di tengah Masyarakat Urban





[1]Ini nama seorang anak jalanan yang penulis temui di Gambir. Paragraf ini based on true story.

Minggu, 08 Desember 2013

Wanita Berbaju Biru

 

Pernahkah engkau mencoba untuk mendekat pada sebuah hati? Pernahkah engkau menetapkan langkah untuk memiliki sebongkah cinta? Aku yakin kita semua pernah merasakan pengalaman itu.

Pengalaman itu pernah menghampiri hidupku, bersama dengan langkah gemericik nan merdu namun bersemangat dari seorang gadis berbaju biru.  Si empunya wajah sempurna bening mendamaikan laksana mata air yang masih suci. Mata belok bersinar dihiasi bulu mata lentik yang selalu menerbitkan ribuan kegembiraan ketika menatapnya. Senyum dari bibir manis yang menobatkan hati yang muram. Dan sejuta pesona-pesona kerupawanan lainnya. Ah. Pengalaman itu benarlah, indah.

Aksara seluruh bumi boleh digabungkan untuk merangkai untaian kata-kata sehingga lukisan alinea dapat menggambarkan pengalaman itu. Tapi mungkin tak bisa. Kau boleh kumpulkan sejuta warna yang dapat memberi matamu apa arti keindahan. Tapi mungkin jutaan warna itu juga tak sanggup mengungkap pengalaman itu. Sungguh, siapa yang pernah bisa mengungkapnya? Victor Hugo? Les Miserables sesungguhnya hanya menangkap satu dimensi dari pengalaman itu. Shakespeare? Ah, Romeo Juliet menurutku terlalu utopis, sehingga tak menggapai realitas dari pengalaman itu.  Siapa lagi sastrawan yang mampu kau sebut? Siapapun engkau: Platonis atau Derridean. Ateis atau fundamentalis. Sufi atau orang awam. Fisikawan atau biolog. Aku yakin, tak kan pernah kau mampu mendeduksi apa sebenarnya pengalaman ini. Einstein sendiri berkata kalau gravitasi bisa diukur, tapi soal pengalaman ini, siapa yang tahu?


Orang rasional seperti Sherlock Holmes dalam kisah fiksi Sir Arthur Conan Doyle sering digambarkan tak sanggup menghadapi pengalaman ini. Tentu saja. Orang yang sanggup menyelami fisika kuantum atau biologi molekuler tak mungkin memecahkan teka-teki pengalaman ini. Kau yang hafal geometri dan logaritma juga tak akan dapat menghitungnya dalam rumus-rumus matematis. Sosiolog hanya bisa menangkap gejala-gejala sosial dari pengalaman ini.  Psikolog juga hanya mampu berteori. Filsuf? Ah, mereka hanya mampu berabstraksi.

Tetapi semua orang mengalaminya. Ini adalah fakta, bukan opini. Tak perlu argumentasi panjang, atau apologet handal untuk membuktikannya. Penggagas pacaran konservatif Kristen Joshua Harris mengalaminya. Ateis-humanis macam John Lennon juga menghayatinya. Soal pengalaman ini, Christina Perri bahkan melantunkan lagu yang begitu merdu: I will die everyday waiting for you. . . .For a thousand years.  Ribuan tahun akan dijalani, karena pengalaman ini. Cincin di jari manis biasanya menjadi pertanda puncak dari pengalaman ini. Tetapi kadang-kadang (atau sering?) pengalaman itu cukup berakhir pada pergelutan di atas ranjang. Yang pasti, semua orang mengalaminya. Tak perlu menjadi milyarder sekelas Bill Gates untuk mampu membuat software yang membawamu ke dalam pengalaman ini. Tak perlu setampan David Beckham untuk membelenggumu dalam pengalaman ini. Tak perlu. Cukup bukalah ruang dalam batinmu. Pandanglah sekelilingmu. Lekat-lekat tatap seseorang.  Tunggu waktumu.  Maka engkau akan mengalaminya.


Ah, aku kok sok memberitahu. Aku sendiri sudah lama tak mengalaminya. Aku sudah menuntaskan pendidikanku dalam ranah kajian ilmu sosiologi sampai gelar master. Kenyataannya, ketika pergi nonton bioskop beberapa hari yang lalu, aku merasa malu. Karena ada dua sejoli berkemeja putih dan bawahan biru sudah saling berpegangan tangan, dan pipi mereka tersipu-sipu merah. Aku? Tergulung dalam ombak besar yang menggelombang bernama kesepian dan kepedihan. Kadang-kadang aku berpikir liar, mungkin lebih baik mati sebagai pengkhianat asmara daripada hidup tanpa romansa.


Dan, ketika hening perasaan begitu mencekam, maka yang kulakukan adalah sederhana: mengingatmu, hai wanita berbaju biru. Disitulah ruang simulakrum yang paling ultim dan sakral bagi diriku. Sayang sejuta sayang, senyummu yang selalu mendamaikan itu terenggut oleh leukosit-leukosit di dalam aliran darahmu, yang tidak matang dan berkembang biak secara ganas di sumsung tulangmu, yang kemudian menyebar ke seluruh tubuhmu. Mereka menghancurkan metabolisme tubuhmu. Menggusur segala mimpi-mimpimu. Menyapu janji-janji yang pernah kita buat. Membuatku kehilanganmu. Kehilangan pengalaman itu.


Ingatan akanmu masih begitu kuat. Menghalangi batas pandangku kepada makhluk lainnya. Karena sungguh, hanya engkau, hai wanita berbaju biru, yang sanggup merontokkan diriku, lalu menumbuhkan tunas-tunas hasrat yang begitu rimbun.


Kawan, apakah engkau mengalaminya saat ini? Sungguh, syukuri dan genggamlah erat-erat. Kehilangan pengalaman itu hanya akan membuatmu menyesal.



*Pregolan Bunder 36. 16 April 2013. “Aku” di dalam tulisan ini adalah tokoh tanpa nama. :) 


Selasa, 05 Februari 2013

Leiden (Penderitaan)


Jutaan detik menggelitik. Dalam kalbu, terpetik rintik-rintik butiran asmara. Butiran yang harus luruh. Bukan karena tak mampu bertahan, tapi karena tak perlu ditahan.

“Ni! Diem aja lu.” suara sahabatku menggelegar membuyarkan lamunanku.

“Hi Jos, dasar lu, ngerusak lamunan gue aje.” Sahabatku, Jose, orang timor yang berambut kriwil, berkulit hitam legam, berasal dari pelosok sana. Wajahnya boleh seram, tetapi di 
dataran Jawa ini, dia adalah orang dengan hati tulus yang pernah aku kenal. Sungguh, ia adalah sahabat terbaikku.

“Ni, entah kenapa, gue liat2, lu sering ngelamun sekarang ini. Apalagi sejak lu gak kontak2 lagi ama Maira.”

“Ah, nggak kok, gue lagi sibuk mikirin skripsi gue nih. Susah, kagak kelar-kelar! Hipotesis gue tentang Karl Jaspers, filsuf eksistensi itu, nggak ada datanya!” Aku mencoba meraih pelarian.

“Dasar lu, orang filsafat, bikin judul skripsi yang mbulet-mbulet, tapi nggak ada aplikasinya buat rakyat. Kayak gue dong, calon sarjana ekonomi, yang memikirkan sistem ekonomi makro yang akan mengubah wajah Indonesia. Hahahaha.”

Aku terdiam, terhentak dengan pernyataan sahabatku itu. Memang benar, studi filsafatku terasa lebih banyak berteori daripada memikirkan hal-hal praktis buat rakyat. Tetapi kenyataan itu bukanlah hal yang membuatku gundah belakangan ini. Maira. Nama itu lebih membuat gundah gelisah lebih daripada Jaspers, filsuf Jerman kesohor itu yang menjadi judul skripsiku di jurusan filsafat yang aku tempuh.


Ya. Maira Hadisaputra. Mahasiswa semester 4 jurusan psikologi di sebuah kampus tersohor. Aku bertemu dengannya di sebuah acara bakti sosial gereja. Pertama berkenalan dengannya aku tak memiliki perasaan apa-apa. Lagipula aku tahu dia sudah memiliki seorang kekasih yang selalu menemaninya. Selama beberapa bulan ini kami berteman dan menjadi sahabat. 


Tapi rupa-rupanya persahabatan itu hendak berujung pada terganggunya sebuah hubungan. Kedekatanku dengan Maira membuatku terpojok dan melahirkanku sebagai pihak yang tertuduh mengganggu hubungannya dengan pacarnya. Maira sendiri, kepada teman-temannya, selalu bilang bahwa Geni tidak ada hubungannya dengan keretakan relasinya dengan Bayu, pacarnya. Tetapi kenyataan berbicara lain, setiap ada dia, aku tahu ada percikan-percikan yang timbul di dalam ruang kalbuku.


Namaku Geni. Artinya, api. Terdakwa penganggu hubungan Maira-Bayu. Aku adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan filsafat di sebuah sekolah teologi-filsafat di Ibukota. Lantas, bukan aku mau mengelak, aku malah mau mengaku di sini. Jujur saja, siapa tak bakal jatuh cinta pada Maira. Anak gadis kelahiran sunda-chinese. Rambut hitam tergerai lurus, mata sipit namun dengan sorot mendamaikan, kulit putih kemerah-merahan halus, bulu mata lentik, gigi seri serasi. Neng geulis kelahiran Bandung, yang secara fisik lebih mewakili ibunya yang keturunan Tionghoa itu. Penerus trah Hadisaputra yang adalah salah satu pemilik restoran chinese terkenal di kota Bandung. Turunan keluarga kaya, mapan, dan tentu, kapitalis. Dari segala sisi, fisik, ekonomi, sosial, keturunan, kecerdasan, kedewasaan, kematangan diri, jelas dia adalah gadis idaman semua lelaki.


Dan kepada Maira, yang telah dipunya, aku jatuh cinta. Rasa itu datang di bulan kesembilan pertemanan kami. Selama ini kami hanya sekadar bertemu di acara-acara sosial gereja, kadang-kadang berbicara, tetapi tak jarang kami saling mengirim sms. Frekuensi komunikasi kami makin meningkat ketika hubungannya dengan Bayu mulai terganggu. Dia telepon aku tiap hari sabtu. Pengganti dating-nya. Katanya Maira, lebih baik berwicara dengan seorang sahabat dengan taraf kebijaksanaan luar biasa daripada sepi sendiri. Ah, bodoh. Saat itu aku pelan-pelan terperosok dalam candu. Padahal, tidakkah setiap candu memiliki kenikmatannya sendiri, namun detik demi detik ia akan menggerogoti hidup kita? Pada akhirnya, candu akan menghancurkan dan menghantarkan kita pada gerbang kematian. Pun, sama halnya dengan candu asmara yang salah. Sampai akhirnya kami sering keluar bersama, berjalan-jalan bersama, dan menghabiskan waktu bersama.


Dosakah aku mencintainya? Aku tak tahu.


“Ni, aku nggak tahu ya, kalau ada kamu, rasanya ada damai, nyaman.” Sepenggal kalimat Maira yang pernah meletupkan kembang api di dalam relungku. Saat itu kami duduk di pinggir taman, memandang langit malam tiada bintang. Ia pegang tanganku, dan, aku sambut pegangan itu. Hangat. Sekaligus dingin. Hangat karena lubuk ini begitu merindu untuk merekahnya bunga-bunga cinta. Dingin, karena akal gundah menatap sebuah kesalahan yang sedang terjadi.  Tanpa sadar, malam itu aku memulai pelanggaran. Pelanggaran sebuah batas dalam hubungan. Sesungguhnya, manusia harus berpikir rasional, setiap hubungan memiliki batasan-batasannya sendiri. Teman, orangtua, persahabatan, pacaran, suami-istri, keluarga, partner kerja. Semua kita, berhak punya batasan-batasan. Batasan adalah bagian kehidupan yang tidak boleh dimasuki, atau dilangkahi oleh orang lain. Ada tempat di mana hidup kita, tidak diganggu oleh keberadaan orang lain. Pertengkaran, perselisihan, pertikaian, cek-cok, pembunuhan, kesakitan hati, dendam, dimulai dari batasan-batasan dalam sebuah hubungan yang dilangkahi. Bila pagar batasan hubungan yang dilanggar atau dilompati akan membuat tuan rumah, marah, tak lagi ramah.


“Emang nggak papa ya gue pergi ama elu, bahkan sampe pegangan begini. Bayu gimana?”

“Gakpapa, kan kita jelas.”


Jelas? Darimananya? seruku lirih dalam hati.


“Kita kan sahabatan Genii. Plis deh. Semua orang juga tahu! Hehe. Bayu sekarang lagi sibuk ngurus kerjaan. Dia lebih mentingin gaweannya daripada pacarnya yang butuh dia. Sekarang, ada kamu...”


Jadi gue siapa? Sahabat?

Usai perjalanan di malam itu, aku membicarakan hal ini dengan Jose. Nuraniku gaduh. Ada yang tak benar disana.


“Lu gila apa!” damprat Jose.


“Lu, mau main jadi orang ketiga? Ngancurin hubungan orang? Biadab lu. Bajingan! Katanya orang yang berpikir, tapi lu nggak adil sama pikiran dan tindakan lu sendiri. Sadar Ni, sadar! Maira itu punya orang. Ingat, mereka bentar lagi juga tunangan, bakal kawin tahu nggak? Sarjana kere macam lu mana bisa diterima keluarganya?”


“Tapi gue sayang dia Jos? Si Bayu juga gak terlalu peduli ama Maira? Masa pacaran tapi nggak pernah kontak? Nggak pernah pergi berdua?”


“Justru itu! Lu masuk ke dalam lubang yang seharusnya diisi oleh Bayu. Kalau lu bener temen, harusnya lu kasih tahu Bayu n ngedukung mereka. Bukan tambah ngancurin. Secara ontologis, hubungan kalian salah!”


Secara ontologis? [Ontos: asal, hakikat. Logos: ilmu]. Jadi, secara hakikat asmaraku salah? Dasar Jose. Bahkan ia memojokkanku dengan istilah filsafat.


Kalimat itu benar-benar menohokku. Aku, sarjana filsafat, harusnya berpikir jernih dengan memakai logika dan berpikir rasional. Tetapi kepada Maira, aku terpojok dengan perasaanku. Benar memang, perasaan, bukan rasio, yang sering membawa masalah. Orang korupsi karena rasa bernama nafsu. Orang membunuh karena rasa bernama dendam. Orang berusaha meraih sukses karena rasa bernama ambisi. Orang menangis karena rasa bernama sedih. Ya, rasa. Berjuta kali, rasa menghancurkan umat manusia. Bukankah ia yang membuat hantu bernama Hitler itu lekat dengan rasa angkuh atas rasnya dan lantas, memprakarsai Holocaust? Tidakkah rasa haus akan kekuasaan yang membawa rezim otoriter semacam Soeharto, yang tega mengambil nyawa orang tidak berdosa begitu banyak? Rasa, seringkali ia meremukkan manusia dalam rintihan-rintihan memedihkan, ratapan-ratapan yang menyayat sukma.


“Mai, kita nggak bisa deket terus deh.” Aku pun ambil waktu berbicara dengan Maira di satu penghujung petang.

“Hah, kenapa? Kita kan sahabatan?”

“Orang lihat aku ini semacam racun buat kamu dan Bayu. Nggak boleh ada.”

“Kok kamu ndegerin suara orang sih? Whatever lah, temen-temenmu dan temen-temenku bilang apa. Kita sahabat ya sahabat. Nggak ada apa-apa kok di antara kita.”

“Lalu gimana dengan Bayu”

“Ya, dia…… marah sih. Kemarin bilang kalau aku ini susah dipercayai lagi.”

“Tuh kan. Kita harus atur jarak Mai. Malah kalau bisa mungkin aku harus memutuskan hubunganku denganmu.”

“Ah, bodo! Ngapain. Udah lah, selow aja deh.”

“Gak bisa Mai. Semakin kita deket. Semakin hubunganmu dengan Bayu aku hancurin.”

“Kenapa kamu berpikir kamu hancurin hubunganku?”

“Aku sayang kamu Mai! Aku jatuh cinta ama kamu! Nggak nyadar?”

Maira terdiam, membisu menatapku dengan lekat. “Ni, kamu serius?”

“Ya. Karena itu kita nggak bisa deket. Aku harus membunuh rasa itu. Menguburnya dalam-dalam. Meski aku tahu, akan sangat perih, sakit dan penuh derita.” Aku menghujam Maira dengan kalimatku itu, yang rasanya, sekeras batu kali dilempar ke dahi.

Malam itu, kami mengakhiri pertemuan kami tanpa menuntaskan keputusan. Maira terdiam, lalu menangis. “Maaf ya Ni. Aku memberikan perasaan itu padamu.”

“Jangan minta maaf. Aku yang salah.” Dan kami pun, dimulai malam itu, dengan tanpa kata, memutuskan untuk bersama-sama saling menjauh.

Tapi kenapa aku yang mengaku bahwa aku yang salah? Apakah karena konsepsi bahwa asmara selalu milik dua orang individu dan bukan tiga? Tidakkah Kitab Suci tak hanya mencatat kisah Yakub-Rahel? Tetapi juga Daud-Betsyeba, yang malah nanti melahirkan keturunan Yesus? Bodoh. Mengaku salah  tanpa alasan itu bodoh.

Sudah dua bulan ini aku dan Maira menjauh. Sakit tak tertahankan memekik di tengah dadaku. Kadang-kadang di malam hari aku duduk sendirian dan menangis. Rasa, bukan rasio, yang selalu membawa pedih. Kadang-kadang Mai sms atau menelpon, sungguh aku ingin membalas atau mengangkatnya, tetapi aku menahan diriku. Aku ganti nomorku dan pindah tempat kos. Agar bayangan Maira tak mengangguku lagi. Saat itulah aku tahu artinya kehilangan. Ketika sesuatu yang ingin kita dekap erat, genggam lekat, dipaksa untuk dilepaskan dari hidup kita. Aku, benar-benar, kehilangan.


Di saat-saat kehilangan seperti inilah, aku mengerti apa itu arti dari penderitaan. Bagi hatiku yang pahit dan remuk, kehilangan Maira adalah penderitaan terbesar yang pernah aku alami dalam hidup ini. Penderitaan, Leiden kata filsuf Karl Jaspers. Semua bentuk penderitaan, entah itu penyakit fisik, ketegangan, keputusasaan, perbudakan, kelaparan, kemiskinan, juga, kehilangan ia yang kita ingin miliki, memiliki sifat desktruktif, juga konstruktif bagi manusia (Dasein)-keberadaan di dalam dunia-. Penderitaan itu dekstruktif, menghancurkan, karena ia menggerogoti manusia sedikit demi sedikit. Tetapi ia bisa konstruktif bagi seorang manusia, kalau ia punya ketabahan hati untuk menerima, menanggung penderitaan dan bertumbuh melalui penderitaan tersebut.


Sekarang, di saat seperti inilah aku harus memilih, apakah aku hendak mati dalam penderitaan akan bayangan Maira? Atau aku memilih untuk bertumbuh, menerima akan keadaan ini, dan aku tanggung sakit tak tertahankan ini, sebagai jalan untuk sesuatu yang lebih baik di depan sana.


Sungguh, jembatan cinta ku telah roboh karena ia terlalu terlarang untuk dibangun. Leiden pun muncul dalam perjalanan hidup ini. Leiden yang menyayat luka.


Luka. Ia membuat merintih. Pedih yang memekik. Derita yang menari. Gores yang mengiris. Penderitaan yang terbuncah karena rasa. Rasa menerbitkan hujan problema. Rasa menitikkan tangis gulana. Rasa mengoyakkan benteng kalbu. Rasa meranggas tembok-tembok sejahtera. Dan yang terluka, hanya bisa menunggu dalam waktu. Tetapi manusia perlu sadar, tidakkah ada Sosok yang dekat dengan mereka yang terluka? Tidakkah ada Sosok yang siap membebat mereka yang hatinya kecewa? Sosok ultim, Tuhan Sang Empunya kehidupan ini? Sesungguhnya, justru dalam penderitaan ini, di tengah usaha melepaskan dan meninggalkan cinta terlarang terhadap Maira, barangkali aku akan menemukan hakikat hidup itu sendiri. Sang Pencipta?

*2 Juni 2012. Jl. Gedong 5. Mangga Besar 1. Jakarta Pusat. Sebuah usaha untuk membumikan sebuah gagasan teologis yang "dahsyat."