Senin, 13 Mei 2013

Otentik




Kisaran bulan April 2012, di tengah sebuah pergumulan, aku nge­tweet begini: “rasanya lebih baik jadi penjahat namun otentik, daripada jadi rohaniwan yang nampak baik namun munafik.”
Kalimat di atas mungkin akan mengejutkan bagi beberapa pihak, karena ditulis oleh diriku, yang adalah mahasiswa teologi. Namun, mohon cermati sesungguhnya, ide mendasar yang ingin aku sampaikan adalah soal “menjadi pribadi yang otentik.” Dan sungguh, ide tentang menjadi pribadi yang otentik ini adalah ide yang relevan, kontekstual sekaligus revolusioner di tengah zaman ini.

Kenapa demikian?

Lihatlah, kawan, kita ini hidup dalam sebuah dunia yang penuh dengan sapuan kosmetik. Puspa ragam iklan yang mendengung bak nyamuk ingin menyerap darah manusia, menawarkan berbagai macam produk yang membawa kita, manusia, untuk menjadi pribadi yang “tampil menawan, rupawan, memikat, dan sempurna.” Inilah sebuah dunia yang menghantar kita hidup di dalam relung kemunafikan.

Ya. Dunia yang meminta kita untuk menjadi sempurna. Cermati iklan yang ada: pria dengan perut six-pack, gagah sempurna dengan mobil mewah atau sepeda motor mahal; atau perempuan cantik dengan kulit putih mulus dan tubuh ramping, akan menjadi ukuran sebuah “kesempurnaan” tubuh manusia.[1] Bukankah kita larut pada tuntutan untuk menggapai hal-hal itu? Coba kau tanya apa yang diinginkan seorang anak remaja pria, pasti jawabnya: ingin sukses, punya materi dan berpacar cantik. Jawaban yang umum dan wajar bukan? Barangkali setiap kita juga akan menjawab hal yang sama bila ditanya.

Dan pada saat yang sama, dunia yang meminta kita menjadi sempurna itu adalah dunia menipu kita dalam sebuah kehidupan yang ilusif.  Dunia yang ilusif itu membuat kita berada dalam “bisnis hipokrisi.”[2] Kita ingin menjadi hebat, kita ingin menjadi kuat dan powerfull, saat itu pula kita tidak ingin terlihat lemah, rapuh dan kalah. Bagi dunia ilusif ini, orang-orang lemah dan rapuh adalah orang-orang yang gagal. Mereka yang miskin hanyalah pihak yang perlu disingkirkan. Mereka yang marginal hanya akan disisihkan. Inilah sebuah dunia yang penuh kemunafikan. Orang tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Orang harus menjadi apa yang dunia ini katakan dan inginkan.


Lalu mengapa kita perlu menjadi otentik?

Karena Alkitab sendiri yang menggagas ide anti kemunafikan itu!

Orang Farisi yang tampil sebagai rohaniwan yang perkasa, gagah dengan semua dogma, lekat dengan Taurat di jiwa dan lahiriah. Memakai ukuran dunia ilusif yang kujelaskan di bagian terhadulu, tentu mereka adalah orang-orang yang berhasil. Namun perhatikan, orang Farisi ini malah dikecam Tuhan Yesus sebagai “munafik” (bdk. Mat. 15:7, dalam pasal 23 kata ini dipakai sebanyak 6 kali). Hypocrite: hidup dalam topeng, kepalsuan, bermain sandiwara.  Mereka digambarkan “suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam lingkungan ibadat dan pada tikungan jalan raya, supaya dilihat orang.(Mat. 6:5) Jadi, inilah ciri-ciri orang munafik, yaitu mereka yang melakukan sesuatu untuk dilihat, dipandang orang lain. Tindakan itu tentu berpijak pada sebuah kacamata terhadap realitas bahwa nilai diri mereka ditentukan oleh orang lain. Orang seperti orang Farisi hidup dalam fashion show, penuh topeng sandiwara, superfisial!


Firman Tuhan menegaskan bahwa menjadi otentik adalah sebuah perintah “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah” (1Petrus 2:1). Ini berarti menaruh kemunafikan di keranjang sampah! Jelaslah bahwa kemunafikan bukanlah ide Alkitabiah, menjadi pribadi yang  otentik-lah jawabannya!


Lalu apa itu otentik?

KBBI memberi arti: dapat dipercaya, asli, tulen, sah. Sedangkan kamus Oxford Dictionary menjelaskan authentic sebagai    of undisputed origin or veracity; genuine. Jadi otentik adalah apa yang sesuai fakta. Apa yang ada di dalam diri kita. Bahasa sederhananya, menjadi diri sendiri, pribadi yang apa adanya sehingga tidak perlu menuntun menjadi orang yang “ada apanya.” Otentik adalah soal menerima diri kita apa adanya.


Munafik, Otentik dan Kepemimpinan Kristen

Soal kepemimpinan pun turut dipengaruhi oleh ilusi yang ditawarkan oleh dunia ini. Kalau kawan belajar tentang science of leadership,[3] ada satu periode dalam sejarah ilmu kepemimpinan, dimana seorang pemimpin itu ditentukan dari tampilan luarnya, good looking atau tidak, bersuara berat atau tidak. [memang ini penting, tapi tidak yang terutama!].  Jadi seseorang ditentukan oleh tampilan yang dipandang oleh orang lain.


Sama saja dengan kepemimpinan Kristiani, para hamba Tuhan biasanya dianggap sebagai hero, superman, messiah, malaikat dengan lingkaran bulat di atas kepala. Jemaat selalu merindukan seorang pemimpin yang hebat dan menawan. Padahal, bukankah kami ini hanyalah “only a man in the funny red sheet”? (cek lagu Superman by Five For Fighting, relevan!]


Dan akhirnya, ini membuat para pemimpin terjatuh kedalam kemunafikan: berusaha tampil hebat padahal lemah; berusaha tampil kuat, padahal rapuh; berusaha tampil suci, padahal berdosa; berusaha terlihat sehat padahal sakit.  Dunia ilusif ini membawa banyak orang –termasuk rohaniwan- terjerat dalam dosa kemunafikan.



Kepemimpinan Kristen dan kelemahannya

Yesus, menurutku adalah pribadi yang otentik. Ia tampil sesuai panggilan-Nya sebagai manusia yang lemah, di hadapan Allah, di taman Getsemani Ia sungguh rapuh. Namun pria yang lemah dan kalah ini, menjadi seseorang yang disebutkan “Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama atas segala nama” (Filipi 2:9)


Joseph Ratzinger, Paus Benediktus yang awal tahun ini melengserkan diri dari jabatan Paus, menurutku juga adalah pemimpin yang otentik. Di  usia yang sudah uzur, ia berani mengakui bahwa fisiknya sudah lemah, sehingga bisa mempengaruhi efektifitas pelayanan gereja. Sangat bertolak belakang dengan beberapa pendeta, yang sampai pada masa kepemimpinannya seharusnya berakhir, namun merasa masih kuat dan sanggup memegang tampuk kekuasaan.

Inilah yang membedakan kepemimpinan Kristiani dengan kepemimpinan non-Kristiani. Sendjaya meringkasnya dengan lugas “Karakteristik eksklusif pemimpin yang membedakannya dari pemimpin non-Kristen adalah kelemahan. . . . Dalam kelemahan pemimpin, kuasa Allah yang tidak terbatas itu dinyatakan. Karena,”only the weak shall be strong, only the humble exalted, only the empty filled; only nothing shall be something” demikianlah kalimat Marthin Luther.[4] 


Kita adalah orang-orang yang lemah dan rapuh. Mengakui kelemahan dan kerapuhan, menerima diri apa adanya tanpa berupaya menjadi terlihat sempurna di pandangan orang lain adalah langkah menjadi pribadi yang otentik. Marilah hidup di dalam kelemahan dan kerapuhan itu, namun tentu saja kita harus tetap terus menerus berupaya untuk disempurnakan dan menjadi lebih baik karena itulah panggilan kita  sebagai murid Kristus.


Inilah sebuah seruan dan sebuah ajakan, mari makin menjadi otentik dan bukan munafik. Berani mengakui segala kelemahan dan kerapuhan kita, pertama-tama di hadapan Allah, dan kemudian di antara sesama kita. Berhentilah untuk mencapai pencapaian demi pencapaian, mencoba mereguk kesempurnaan, permintaan dari dunia ilusif yang akhirnya menenggelamkan kita dalam lumpur hipokrisi. 


Aku masih ingat pesan kakakku tercinta sebelum aku masuk seminari: Cuma satu Wan, jangan jadi munafik! Bertahun-tahun kemudian, ide yang sama terungkap kembali ketika aku masuk ladang praktik setahun, mentorku berkata: yang penting kamu otentik Wan! Makin hari lepas hari, gagasan otentik ini makin terlihat kebenarannya. Bagaimana dengan anda? 



#ditulis khusus untuk:
1.  1.  Moury Setiawan yang hari ini “ditahbiskan” menjadi ketua senat kampus putih. Idenya soal menjadi diri sendiri, atau menjadi otentik, menurutku adalah gagasan revolusioner di tengah segala kondisi yang ada. Selamat berjuang bro! Doaku menyertaimu.
2.  2.  Para sahabat yang bergelut untuk menjadi orang-orang otentik di tengah kondisi-kondisi hipokrisi yang begitu gaduh memenjara kita dalam hari-hari yang ilusif.



[1] Baca tulisan di blog ini dengan judul “Membangun Bangsa dengan Menjawab Problem Kejahatan Moral”
[2] Mengambil kalimat Tere Liye, Negeri Para Bedebah lupa halaman berapa.
[3] Misalnya baca Leaderhsip 3.0
[4] Kepemimpinan Kristen 61

Senin, 06 Mei 2013

Sebuah bukit kecil di Trawas


Gunung gemunung berbaris hijau, gagah perkasa dan begitu satria. Ia begitu besar, mungkin karena itulah manusia Jawa menyamakan gunung sebagai tanda Sang Mahakuasa. Tapi kali ini Sang Gagah Perkasa tertutup kabut. Halimun membekap rapat sehingga hanya gelap yang tertangkap retina mata ini. Lamat-lamat, kediaman mencekat dan aku tersudut dalam kesendirian yang aman.


"Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung, darimanakah  akan datang pertolonganku?
  Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi" 

Mazmur 121:1-2



Ada jalan terjal di depan sana, kabut pekat yang menutup gunung di dalam kehidupan ini. Namun, dengan mata iman aku memandang menembus segala kesulitan, persoalan dan pergumulan. Diam dan aman di hadirat Sang Gagah Perkasa, Penjaga Israel yang tak pernah tertidur. Dialah naunganku dan keselamatanku, di dalam Dia hatiku teduh!







4 Mei 2013, Blessing Hills, Trawas, saat personal solitude @ Men's Breaktrough Camp GKI Pregbund

Minggu, 05 Mei 2013

Opium Kemapanan



Manusia suka dengan kemapanan. Tentu kita bisa sepakat mengenai hal ini. Kemapanan sosial, ekonomi, pendidikan, dan bahkan dalam soal religius, adalah nilai-nilai yang seringkali menjadi dambaan manusia [tak terkecuali mahasiswa teologi]. Kita senang dengan relasi-relasi antar-manusia yang di dalamnya hampir tidak ada dentuman konflik, kita senang jika dompet kita berisi sehingga bisa makan lebih banyak, membuat perut menggendut, dan lemak bertambah-tambah, kita senang kalau punya gelar sarjana, orang memandang “wah” dengan status kita sebagai seorang “mahasiswa”, meskipun terlalu sering kita tak menunjukkan watak sarjana di hari-hari kita. Secara religius, tentu saja yang paling jelas, kita paling senang berbicara tentang surga, kekekalan, dunia lain di mana kita dapat melarikan diri dari realita. Ya, kemapanan itu menyenangkan.


Tetapi ada dimensi lain dari kemapanan, yang, sayangnya seringkali tak terperhatikan. Kemapanan, bagi saya, adalah pharmakon, obat, sekaligus racun. Kenapa bisa racun? Karena kemapanan bisa menjadi candu, opium! Kalau Karl Marx, filsuf Jerman, ateis, itu pernah mengatakan diktum “agama adalah candu bagi rakyat” maka saya mengatakan kemapanan adalah candu bagi kita semua.


Kemapanan menjadi sebuah opium yang meninabobokan diri kita, ketika kita begitu terpaku olehnya, begitu terpikat olehnya dan bergantung di dalamnya. Kemapanan bisa membuat kita lupa akan dunia di mana kita berada. Dunia yang bobrok, yang penuh dengan tikus-tikus kantor merajalela merampok uang rakyat, yang penuh dengan kaum the have yang membanjiri jalanan dengan mobil-mobil mewah tanpa peduli kehidupan the poor. Dunia yang penuh dengan bangunan gedongan, yang dibangun, seringkali dengan amnesia terhadap sekolah dasar negeri yang bakal ambruk.


Dan bukankah hidup kita lekat dalam dada kita? Gadget di saku kiri, depan, belakang. Makan kenyang tiga kali sehari tak cukup, sering kita tambah dengan menikmati makanan di luar sana.  Atap yang tak bocor, AC yang dinyalakan di kala panas, pakaian berlemari kalau kedinginan, para sahabat dan handai taulan kalau air mata hendak tertumpah keluar. Ah, sungguh hidup kita amat mapan.


Kemapanan itu bisa menjadi opium, membuat kita terlena, dan lupa bahwa di sana ada kaum tertindas, kaum liyan, kaum yang tak dipedulikan oleh negara. Anak-anak jalanan yang sebenarnya adalah korban dari sistem yang lebih besar. Pengangguran dan kriminal yang sebenarnya korban dari sistem yang tak berpihak kepada kaum lemah. Yang kita tahu, yang sering kita trenyuh, tapi sering pula kepada mereka kita tak melakukan apa-apa. Tangan kita yang “kudus” itu enggan kudisan kalau menyentuh anak-anak jalanan yang tak pernah tertawa.


Karena itu, mawas dirilah, hati-hati dengan opium kemapanan. 


*Kutulis setahun lalu waktu aku masih berada di kampus, dan aku mempostingnya sebagai usaha untuk refleksi kritis terhadap diriku sendiri yang mulai menikmati tinggal di kota metropolitan ini. 

Rabu, 24 April 2013

Luka



Luka

Ia membuat merintih
Pedih yang memekik
Derita yang menari
Gores yang mengiris

Rasa menerbitkan hujan problema
Rasa menitikkan tangis gulana
Rasa mengoyakkan benteng kalbu
Rasa meranggas tembok-tembok sejahtera

Dan yang terluka,
Hanya bisa menunggu dalam waktu
Tidakkah Ia, dekat dengan mereka yang terluka?
Tidakkah Ia, membebat mereka yang hatinya kecewa?


Mazmur 147:3 Ia yang menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.






26 Maret 2012
Prothumia Library, Lantai 2. Usai ngobrol dengan teman sebelah meja perpustakaan-lelaki yang aku anggap adikku-, Arum Nugroho. Ditulis sebagai bagian dari university of life-ku.





Ternyata sudah setahun sejak puisi ini aku tuliskan, membacanya dan mempostingnya dalam blog ini sesungguhnya menunjukkan bahwa tulisan ini tak kehilangan relevansinya bagi saat ini. Adakah engkau terluka oleh relasi-relasi di kehidupan dunia ini, bersama dengan manusia-manusia berdosa di sekelilingmu? Datanglah pada Sang Penyembuh, tempat yang paling aman bagi jiwa. Menangislah di peluk-Nya kalau perlu, sebab hadiratNya menghiburkan. 



Senin, 25 Maret 2013

Bible Study: Lukas 9:62 “Tak perlu menoleh ke belakang”




Tadi pagi, di tengah insomnia yang parah dan akut banget, tiba-tiba ada chat masuk via whatsapp dari seorang sahabat dan bertanya “Wan, maksudnya Lukas 9:62 apa?” Dan aku terdiam, heran, sembari berpikir kenapa sering sekali anak-anak muda ini galau sampai dini hari, baca Alkitab dan kemudian bertanya hal-hal yang “mengejutkan dan tidak pernah terpikirkan seorang sarjana Alkitab.”   [Hal yang sama juga sering dilakukan oleh seorang teman yang sekarang sedang studi S-3 di Singapore, juga beberapa teman yang lain di luar kota. Well, guys, jangan berhenti untuk bertanya! :p]

Tapi aku selalu bersukacita ketika ada mereka yang menanyakan sesuatu tentang firman Tuhan dan aku belum bisa menjawabnya seketika itu juga, itu berarti aku harus mencari jawaban, dimana itu berarti juga aku harus bersiap untuk mendapatkan harta berharga yang begitu banyak terpendam dalam kata-kata firman Tuhan! Hehehehe


Nah, sekarang, tulisan ini bukan sebuah risalah teologis atau tafsiran teknis seorang sarjana teologi, tapi sekadar catatan studi singkat yang bermaksud menjawab pertanyaan di atas.  Aku akan membaginya dalam bagian-bagian kecil,

Konteks Perikop

Nats 9:62 ini terletak dalam kisah Yesus yang sudah mengarahkan diri ke Yerusalem, tempat penderitaan-Nya dan penganiayaan-Nya (9:51).  Lalu, percakapan yang terjadi adalah Yesus dengan murid-muridNya (ay. 57).  Kemungkinan besar, “murid-murid” di sini merujuk pada sekumpulan orang banyak yang mengikut Yesus kemanapun Ia pergi.  Topik utama yang dengan gamblang menjadi perhatian perikop 9:57-62 jelas adalah tema “Mengikut Yesus.”  Kata “ikut” diulangi tiga kali dalam setiap percakapan antara Yesus dan seseorang yang mau mengikut Dia memperlihatkan topik ini adalah topik utama! Oke, well. Apa yang dimaksud Lukas 9:62?


Dan seorang lagi berkata: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku” (ay. 61)


Rasanya kita perlu tahu terlebih dahulu soal orang ketiga yang berbicara ini. Kalau diperhatikan, formulasi dari kalimat orang ketiga ini sebenarnya sama dengan formulasi kalimat dari orang kedua yaitu: (1) Pernyataan/Ajakan untuk ikut Yesus  (2) Izin untuk melakukan sesuatu terlebih dahulu.  Lalu jawaban Yesus juga sama (3) Penolakan terhadap permintaan orang tersebut dengan mencantumkan referensi tentang “Kerajaan Allah.”

Menarik bahwa sebenarnya, “pamitan terlebih dahulu dengan keluarga” adalah sebuah hal yang wajar dalam pemikiran orang Yahudi. “Menghormati orangtua” adalah soal penting yang perlu diperhatikan oleh tiap orang Yahudi.  Bahkan, kalau kita ingat kisah Elisa yang merespons panggilan Elia dalam 1 Raja-raja 19:19-21, Elisa juga mengungkapkan ingin pulang dulu ke rumah orangtuanya sebelum pergi mengikut Elia. Tetapi, rupa-rupanya, Yesus berbeda! Panggilan memberitakan kerajaan Allah dan mengikut Dia adalah panggilan yang tidak bisa ditunda-tunda, memperlihatkan kepentingan yang sangat besar dalam situasi yang ada!




“Tetapi Yesus berkata: Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah.”

Kata “tetapi” jelas adalah sebuah pengontrasan sekaligus konfrontasi terhadap permintaan orang ketiga tersebut.  Jawaban Yesus ini adalah sebuah peringatan yang keras.  Darell Bock berkomentar: “Jesus’ reply is really a warning, since he sees a danger in the request. One may follow him initially, only to long for the old life later. Such looking back does not promote spiritual health. If one is going to follow Jesus, one needs to keep following him and not look back. Jesus’ reply here is not so much a refusal as it is a warning.” 

Mungkin kita lebih paham kalau kita juga mengingat bahwa bangsa Israel pernah menoleh ke belakang setelah mereka mengalami keluaran dari Mesir (Keluaran 16:3).  Istri Lot juga melihat ke belakang setelah keluar dari Sodom (Kejadian 19:26).  Dan “melihat ke belakang” dalam kisah-kisah itu menunjukkan ketidakpercayaan terhadap Allah sebagai pribadi yang berkuasa dan memelihara hidup mereka. “Melihat ke belakang” dalam kisah-kisah itu berarti melihat hidup lama, comfort zone, pencapaian yang telah mereka miliki!


Jadi, permintaan “pamitan dahulu” untuk farewell party dengan keluarga bisa dipahami sebagai “keinginan yang masih ada di dalam diri kita untuk tetap berada dalam kehidupan yang lama  yang kita miliki sebelum kita mengikut Yesus.” 

Padahal, jelaslah bahwa “to follow Jesus means to not look back to the way life was before one came to follow him.”  



Metafora “membajak” adalah metafora yang sangat familiar bagi orang Yahudi di Palestina, karena negeri itu adalah negeri agraris. Uniknya, tanah Palestina bukanlah tanah yang datar dan mudah untuk dibajak, tetapi tanah di sana tidaklah rata. Maka, apabila seorang pembajak menoleh ke belakang, maka ia tidak akan bisa fokus mengikuti petani yang sedang menyebar benih tanaman sesuai dengan alur atau lajur  tanah yang disediakan. 

Dapat disimpulkan: “Discipleship demands attention to the rough road before us. To look back risks being knocked off course.”   Menoleh ke belakang hanya akan membuat kita kehilangan fokus terhadap pekerjaan yang Tuhan ingin kita lakukan.



So, apa maksud dari Lukas 9:62?

1. Jangan menoleh ke belakang: jangan memberikan fokus kepada hal-hal yang dulu menjadi perhatian utama kita. Uang, karier, prestasi akademis, popularitas, segala sesuatu yang adalah comfort zone kita, karena sungguh, hal-hal itu dapat membuat kita mencoba untuk in control bagi kehidupan kita sendiri.  Soal “menoleh ke belakang” menurutku juga termasuk pola hidup dan gaya hidup lama sebelum kita mengikrarkan diri menjadi pengikut Kristus: dosa-dosa kita dan kecanduan-kecanduan kita.


2. Fokuslah pada bajakan “untuk kerajaan Allah.”: Fokuslah pada apa yang Allah inginkan dan kehendaki untuk Ia genapi melaluimu.  Setiap kita punya panggilan masing-masing dan peran masing-masing untuk kerajaan Allah. Ada karya Allah yang begitu besar yang sedang Ia kerjakan sejak kematian dan kebangkitan Yesus yang pernah terjadi dalam sejarah ribuan tahun yang lalu, yaitu transformasi dunia ini. Setiap kita yang “mengikut Dia” berarti dipanggil dalam kasih karunia-Nya untuk terlibat dalam transformasi itu! So, mari fokus membajak dalam kerajaan Allah, apa yang kita temui untuk kita kerjakan, mari kita laksanakan dengan setia, karena kita adalah “hamba-hamba yang tidak berguna, hanya melakukan apa yang harus kita lakukan” (dialihbahasakan dari Lukas 17:10).


Dietrich Boenhoeffer pernah berkata: 

“Terlalu melekat kepada keinginan-keinginan kita dapat mencegah kita untuk menjadi apa yang seharusnya dan dapat kita capai.” 

Ditegaskan pula oleh Charles Ringma:

Kita harus belajar melepaskan, sekalipun itu berarti kita harus menderita sedikit. Melepaskan yang salah dan tidak berguna akan membuat kita bebas untuk meraih peluang-peluang baru, karena tindakan itu menciptakan kekosongan yang dapat diisi dengan hal-hal yang lebih baik.” 


Sungguh, dua kalimat yang menghentakku berulang-ulang kali itu, adalah sebuah kebenaran.  Mengikut Kristus adalah soal menggenggam apa yang Tuhan Yesus ingin kita genggam, dan melepaskan apa yang Tuhan minta untuk kita lepaskan. Ya, meskipun itu sungguh-sungguh amat menyakitkan. Tapi apa yang lebih indah, daripada mengikut Yesus dan taat pada suara-Nya? 






Prayer of Confession & Commitment

(based on Matthew 16: 21-28)



Merciful God,
You call us to follow;
to turn away from our own selfish interests,
and to take up our cross and follow after You,
even if the path is difficult to see,
or is heading in a direction we would never have chosen for ourselves.
Forgive us for being so quick to question
and so hesitant to follow.
Help us to see with the eyes of faith,
rather than from our own human point of view.
Teach us to follow without fear,
knowing that You are always with us,
leading the way.
Amen.






*Pada sebuah pagi yang begitu sepi. Pregolan Bunder 36. 
Ditulis khusus untuk (1) Melviana Aurelia, sahabat pemuda di GKI Pregbun. (2) Juga mengingat kepada KTB Pniel: Hendra Fongaja, Anthony Chandra, dan Daniel Simanjutak. Kini kami tersebar di penjuru bangsa ini: Surabaya, Jakarta, Papua, Makassar, kiranya kita fokus membajak bagi kerajaan Allah, dan tak menoleh ke belakang.


Bacaan "Find the Source of Your Loneliness"

 



Aku beberapa kali menulis soal loneliness. Lihatlah di


https://www.facebook.com/notes/himawan-teguh-pambudi/permenungan-eksistensial-2-kesepian-perspektif-nabi-elia/242216202195

dan

https://m.facebook.com/note.php?note_id=482880822195&p=10&refid=22


Jujur saja bagiku masalah ini adalah salah satu perhatian pentingku. Kali ini, sekali lagi, aku ingin mengutip lengkap tanpa perlu berkomentar apa pun, karena tulisan ini menghentakku beberapa malam yang lalu. Seorang sahabat yang mengalami problema ini pun menanti postingan ini, well, semoga membantu.



Find the Source of Your Loneliness


Whenever you feel lonely, you must try to find the source of this feeling. You are inclined either to run away from your loneliness or to dwell in it. When you run away from it, your loneliness does not really diminish; you simply force it out of your mind temporarily. When you start dwelling in it, your feelings only become stronger; and you slip into depression.


The spiritual task is not escape your loneliness, not to let yourself drown in it, but to find the source.  This is not so easy to do, but when you can somehow identify the place from which these feelings emerge, they will lose some of their power over you. This identification is not an intellectual task; it is a task of the heart. With your heart you must search for that place without fear. 


This is an important search because it leads you to discern something good about yourself. The pain of your loneliness may be rooted in your deepest vocation. You might find that your loneliness is linked to your call to live completely for God. Thus your loneliness may be revealed to you as the other side of your unique gift. Once you can experience in your innermost being the truth of this, you may find your loneliness not only tolerable but even fruitful. What seemed primarily painful may then become a feeling that, though painful, opens for you the way to an even deeper knowledge of God's love.

Henri Nouwen, The Inner Voice of Love 50.


Sabtu, 23 Maret 2013

Bacaan: "Stay With Your Pain"











Bacaan dari Henri Nouwen hari ini begitu menghentak! Ku kutip lengkap di sini, tanpa perlu ku komentari apa pun:


Stay With Your Pain

When you experience the deep pain of loneliness, it is understandable that your thoughts go out to the person who was able to take that loneliness away, even if only for a moment. When, underneath all the praise and acclaim, you feel a huge absence that makes everything look useless, your heart wants only one thing --- to be with the person who once was able to dispel these frightful emotions. But it is the absence itself, the emptiness within you, that you have to be willing to experience, not the one who could temporarily take it away.

It is not easy to stay with your loneliness.  The temptation is not to nurse your pain or to escape into fantasies about people who will take it away. But when you can acknowledge your loneliness in a safe, contained place, you make your pain available for God's  healing.

God does not want your loneliness; God wants to touch you in a way that permanently fulfills your deepest need. It is important that you dare to stay with your pain and allow it to be there. You have to own your loneliness and thrust that it will not always be there. The pain you suffer now is meant to put you in touch with the place where you most need healing, your very heart. The person who was able to touch that place has revealed to you your pearl of great price.

It is understandable that everything you did, are doing, or plan to do seems completely meaningless compared with that pearl. That pearl is experience of being fully loved. When your experience deep loneliness, you are willing to give up everything in exchange for healing. But no human being can heal that pain. Still, people will be sent to you to mediate God's healing, and they will be able to offer you deep sense of belonging that you desire and that gives meaning to all you do.
Dare to stay with your pain, and trust in God's promise to you.
Henri Nouwen, dalam The Inner Voice of Love: A Journey Through Anguish and Freedom (Mumbai: St. Paul Press, 1996) 62-63