Rabu, 11 Desember 2013

Memiliki Kehilangan


Wolstertoff pernah menulis bahwa hidup adalah rangkaian kehilangan. Dan memang demikianlah adanya. Kehilangan adalah masa ketika sesuatu yang pernah ada, diambil, direbut, direngkuh, dicuri, dari gengggaman tangan kita.  Kau boleh lulus sarjana psikologi atau pastoral konseling, tetapi menghadapi seseorang yang sedang mengalami masa kehilangan akan menerbitkan kesulitan-kesulitan tersendiri.


Suatu ketika komunitasku kehilangan seorang gadis muda berumur 19 tahun. Cantik. Rupawan. Masa depannya cemerlang dan gemilang. Tetapi ia direnggut oleh Sang Embuh. Pergilah ia. Kisah kasih berkemelut di sekeliling kematiannya. Kami menangis jutaan detik. Orang-orang berubah jadi zombie, mayat hidup yang berjalan dalam kepedihan dan duka. Merasa tak mengerti dan bertanya-tanya tentang keadilan pun ketidakdilan. Itulah kehilangan. Menghancurkan.


Aku pernah mengenal seseorang yang begitu mencinta sang kekasih. Lelaki gagah perkasa dewasa dan satria. Rela mengorbankan segala sesuatu demi panggilan hidup. Tetapi gara-gara itu, ia kehilangan kekasih yang telah berjalan dengannya selama 7 tahun. Sang perempuan meninggalkannya pergi ke benua biru dengan kalimat menyakitkan: kau hanya memikirkan dirimu sendiri!  Puluhan bulan kemudian mereka bernostalgia kembali, dan lelaki ini menerima pukulan2 menyakitkan tetapi penuh rindu di dadanya. Sang perempuan masih mencintainya dengan begitu dalam. Namun lelaki itu mencoba untuk berdiri walau rapuh: ia telah kehilangan wanita itu. Hubungan mereka telah berakhir. Lelaki itu kehilangan. Dan kehilangan itu merobek sukmanya begitu dalam. Butuh waktu sekian juta megasekon untuk memulihkan keramahtamahan hatinya untuk menerima perempuan yang lain. Itulah kehilangan. Melukai.


Pernah kuberkunjung dalam sebuah upacara duka. Bayi yang masih kecil dan belum beranjak untuk berjalan sudah dicuri oleh sang kehidupan. Ibunya yang tentu mengandung dengan susah derita menangis penuh ronta. Tak henti-henti air mata berderai mendedahkan pahit yang tak tersembuhkan. Itulah kehilangan. Air mata lah sahabatnya.


Kau bisa jadi sarjana matematika atau teknik kimia. Kau bisa jadi ahli geometri atau biotek. Kau boleh jadi sarjana terbaik ilmu komunikasi juga manajemen bisnis. Kau juga bisa saja ambil master dalam dua jenis ilmu yang berbeda. Kau boleh jadi filsuf handal, segala teori kau hapal. Tetapi menghadapi kehilangan, kau hanya akan jadi semut kecil yang terlindas kaki gajah. Itulah kehilangan. Kita jadi kalah karenanya.

Adakah cara untuk melawannya?

Hmmm. . perlukah melawannya?

Kehilangan adalah ketika kita merasa bahwa kita pernah memiliki sesuatu. Ah bagaimana, kalau, kehilanganlah yang kita miliki. Jadi jangan lawan kehilangan tapi milikilah kehilangan. Jadikan ia sahabat baik yang rela ada setiap waktu dalam hidupmu bermain-main denganmu. Jadikan ia kekasih yang membuatmu bertumbuh makin murni. Jadikan ia orangtua yang menegurmu untuk menjadi dewasa. Jadikan ia guru yang mengajarmu tentang arti dan makna. Jadikan ia bunga-bunga kapas dan engkaulah dandelion yang sedang tegar bertahan menjalani siklus kehidupan. Maka ia boleh terus ada, tetapi kau memilikinya, dengan cara yang berbeda.

Jika kau memilikinya. Maka kau akan berdansa bersamanya dengan gerak gelisah. Jika kau memilikinya maka kau akan menari dengan gemulai rancak keterkejutan. Jika kau memilikinya maka kau akan bernyanyi dalam suara nyaring walau serak memahitkan.  Jika kau memilikinya doa kau panjatkan walau iman seolah kabur ditelan kabut nestapa.

Aku pernah kehilangan.

Seorang ayah. Ada beberapa teman baik yang pergi karena harus menjalani hidup mereka. Pernah –orang-orang yang aku rasa sebagai sahabat tapi berkhianat. Pun eros yang harus dilepaskan karena hidup yang tak berpihak pada situasi hati. Ya. Aku juga sering kehilangan.

Kini pun aku terancam kehilangan. Seorang yang sedarah dan pribadi paling penting dalam hidupku sedang bertarung dengan virus ganas. Yang kapanpun dapat membunuh dan mengakhiri nyawanya. Ratusan juta dan obat telah diinfeksikan, entah sampai kapan sanggup menahan untukku tak kehilangan.

Tapi aku mau belajar untuk memiliki kehilangan. Karena hanya di dalam kehilangan aku akan mendapatkan. Karena hanya dengan tangan kehilangan kita bisa bebas mendekap. Karena dengan memiliki kehilanganlah aku akan belajar banyak hal.



Ad Majorem Dei Gloriam.

12 Oktober 2013. Sebuah subuh. Pregolan Bunder 36. Tak bisa tidur sepanjang malam.


Untukmu, untuknya, untuk dia, untuk mereka yang mengajariku arti kehilangan

Minggu, 08 Desember 2013

Wanita Berbaju Biru

 

Pernahkah engkau mencoba untuk mendekat pada sebuah hati? Pernahkah engkau menetapkan langkah untuk memiliki sebongkah cinta? Aku yakin kita semua pernah merasakan pengalaman itu.

Pengalaman itu pernah menghampiri hidupku, bersama dengan langkah gemericik nan merdu namun bersemangat dari seorang gadis berbaju biru.  Si empunya wajah sempurna bening mendamaikan laksana mata air yang masih suci. Mata belok bersinar dihiasi bulu mata lentik yang selalu menerbitkan ribuan kegembiraan ketika menatapnya. Senyum dari bibir manis yang menobatkan hati yang muram. Dan sejuta pesona-pesona kerupawanan lainnya. Ah. Pengalaman itu benarlah, indah.

Aksara seluruh bumi boleh digabungkan untuk merangkai untaian kata-kata sehingga lukisan alinea dapat menggambarkan pengalaman itu. Tapi mungkin tak bisa. Kau boleh kumpulkan sejuta warna yang dapat memberi matamu apa arti keindahan. Tapi mungkin jutaan warna itu juga tak sanggup mengungkap pengalaman itu. Sungguh, siapa yang pernah bisa mengungkapnya? Victor Hugo? Les Miserables sesungguhnya hanya menangkap satu dimensi dari pengalaman itu. Shakespeare? Ah, Romeo Juliet menurutku terlalu utopis, sehingga tak menggapai realitas dari pengalaman itu.  Siapa lagi sastrawan yang mampu kau sebut? Siapapun engkau: Platonis atau Derridean. Ateis atau fundamentalis. Sufi atau orang awam. Fisikawan atau biolog. Aku yakin, tak kan pernah kau mampu mendeduksi apa sebenarnya pengalaman ini. Einstein sendiri berkata kalau gravitasi bisa diukur, tapi soal pengalaman ini, siapa yang tahu?


Orang rasional seperti Sherlock Holmes dalam kisah fiksi Sir Arthur Conan Doyle sering digambarkan tak sanggup menghadapi pengalaman ini. Tentu saja. Orang yang sanggup menyelami fisika kuantum atau biologi molekuler tak mungkin memecahkan teka-teki pengalaman ini. Kau yang hafal geometri dan logaritma juga tak akan dapat menghitungnya dalam rumus-rumus matematis. Sosiolog hanya bisa menangkap gejala-gejala sosial dari pengalaman ini.  Psikolog juga hanya mampu berteori. Filsuf? Ah, mereka hanya mampu berabstraksi.

Tetapi semua orang mengalaminya. Ini adalah fakta, bukan opini. Tak perlu argumentasi panjang, atau apologet handal untuk membuktikannya. Penggagas pacaran konservatif Kristen Joshua Harris mengalaminya. Ateis-humanis macam John Lennon juga menghayatinya. Soal pengalaman ini, Christina Perri bahkan melantunkan lagu yang begitu merdu: I will die everyday waiting for you. . . .For a thousand years.  Ribuan tahun akan dijalani, karena pengalaman ini. Cincin di jari manis biasanya menjadi pertanda puncak dari pengalaman ini. Tetapi kadang-kadang (atau sering?) pengalaman itu cukup berakhir pada pergelutan di atas ranjang. Yang pasti, semua orang mengalaminya. Tak perlu menjadi milyarder sekelas Bill Gates untuk mampu membuat software yang membawamu ke dalam pengalaman ini. Tak perlu setampan David Beckham untuk membelenggumu dalam pengalaman ini. Tak perlu. Cukup bukalah ruang dalam batinmu. Pandanglah sekelilingmu. Lekat-lekat tatap seseorang.  Tunggu waktumu.  Maka engkau akan mengalaminya.


Ah, aku kok sok memberitahu. Aku sendiri sudah lama tak mengalaminya. Aku sudah menuntaskan pendidikanku dalam ranah kajian ilmu sosiologi sampai gelar master. Kenyataannya, ketika pergi nonton bioskop beberapa hari yang lalu, aku merasa malu. Karena ada dua sejoli berkemeja putih dan bawahan biru sudah saling berpegangan tangan, dan pipi mereka tersipu-sipu merah. Aku? Tergulung dalam ombak besar yang menggelombang bernama kesepian dan kepedihan. Kadang-kadang aku berpikir liar, mungkin lebih baik mati sebagai pengkhianat asmara daripada hidup tanpa romansa.


Dan, ketika hening perasaan begitu mencekam, maka yang kulakukan adalah sederhana: mengingatmu, hai wanita berbaju biru. Disitulah ruang simulakrum yang paling ultim dan sakral bagi diriku. Sayang sejuta sayang, senyummu yang selalu mendamaikan itu terenggut oleh leukosit-leukosit di dalam aliran darahmu, yang tidak matang dan berkembang biak secara ganas di sumsung tulangmu, yang kemudian menyebar ke seluruh tubuhmu. Mereka menghancurkan metabolisme tubuhmu. Menggusur segala mimpi-mimpimu. Menyapu janji-janji yang pernah kita buat. Membuatku kehilanganmu. Kehilangan pengalaman itu.


Ingatan akanmu masih begitu kuat. Menghalangi batas pandangku kepada makhluk lainnya. Karena sungguh, hanya engkau, hai wanita berbaju biru, yang sanggup merontokkan diriku, lalu menumbuhkan tunas-tunas hasrat yang begitu rimbun.


Kawan, apakah engkau mengalaminya saat ini? Sungguh, syukuri dan genggamlah erat-erat. Kehilangan pengalaman itu hanya akan membuatmu menyesal.



*Pregolan Bunder 36. 16 April 2013. “Aku” di dalam tulisan ini adalah tokoh tanpa nama. :) 


Kamis, 14 November 2013

Cinta Loe Buat Kristus






Tahukah kamu, ada tiga kata yang sebenarnya paling menakutkan untuk diucapkan di muka bumi ini, apa itu? Aku cinta kamu. Ya! Tiga kata yang mengungkapkan segudang perasaan dan risalah hati kepada ia yang katanya kamu cintai ini adalah menakutkan. Menakutkan karena ia menuntut keseriusan, menakutkan karena ia menuntut komitmen, menakutkan karena ia menuntut pembuktian. Ah, benar-benar tiga kata yang tidak bisa diketik seenaknya seperti kita berkicau 140 karakter di Twitter! Masalahnya, nggak banyak anak muda yang tahu dan sadar bahwa tiga kata itu begitu serius.  Seenaknya ngomong, gue cinta elo mau nggak jadi pacar gue, tapi tidak disertai dengan kesetian, komitmen, pemberian diri, waktu, pengorbanan, kekudusan dan nilai-nilai moral-rohani lainnya. Cinta jadi cuma jadi main-main belaka, maka tak heran banyak anak muda putus nyambung dalam kisah romansa mereka. Cinta juga kehilangan dimensi "sakral", kehilangan dimensi ilahinya sehingga banyak siswi SMA sudah hamil di luar nikah gara-gara membuktikan cintanya dengan hubungan seksual. 


Bukankah demikian pula ketika kita ngomongin hal yang sama: cintamu untuk Kristus? Kita dengan mudahnya berkaraoke rohani di gereja, menyanyi dengan syahdu: Kucinta Kau lebih dari segalanya. . . .Tapi mana buktinya? Kita sering, cuma datang kepada Yesus, ketika "diputus" entah itu oleh kekasih dunia kita, entah itu oleh hal-hal yang kita harapkan kita capai namun tak kita dapatkan.  Saat-saat seperti itulah, nama Yesus menjadi penghiburan, lalu kita berkata: oh Yesus kekasih hatiku, Engkau yang terbaik, sahabat sejati bla bla bla dan sejuta gombalan rohani omong kosong yang sebenarnya hanya untuk menghibur hati kita yang begitu dingin dan egois.  Kita nggak pernah jadi kekasih Tuhan yang serius, lebih sering jadi seperti bangsa Israel dalam Alkitab: mendua hati!

Bandingkan diri kita saat ini dengan Rasul Paulus yang pernah berkata: Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan mengganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus (Filipi 3:8). Buat saya ini pengakuan cinta paling romantis di dunia ini. Segala sesuatu jadi sampah!  Sampah di sini dalam bahasa aslinya merujuk pada kotoran manusia. Demi apa? Demi Kristus yang dicintai Paulus, yang ingin dikenalnya, diperolehnya, dialaminya makin dalam dan makin dalam.  Betapa besar cinta Paulus pada Kristus, sehingga rentetan kisah akbar dapat kita temukan: Paulus rela disesah, dipenjara, dimusuhi oleh bangsanya sendiri, dipatok ular, berulangkali dilempar batu, hidup miskin, berjalan jauh, demi cintanya bagi Kristus.  Paulus adalah seorang yang romantis, serius dalam perkataannnya.  Paulus berani berkata: aku cinta Kristus, dan inilah bukti cintaku.

So, bagaimana dengan cinta loe buat Kristus? 

Kalau kita ngaku cinta sama Tuhan Yesus, mari kita hidup di hadapan Tuhan dengan serius.  Kalau kamu cinta Yesus, maka kamu semestinya memilih pergi ke gereja untuk mengucap syukur dan BBM (Bersekutu, Bersaksi, Melayani) daripada pergi ke tempat-tempat dunia ini lalu kemudian menghabiskan uang, waktu dan kesempatan dalam kesia-siaan.  Kalau kamu cinta Yesus, maka kamu punya hidup berpusat dan bergantung pada Tuhan, bukan pada kekuatan akal budi dan kapasitas diri sendiri.  Kalau kamu cinta Yesus, maka kamu punya waktu untuk bersekutu dengan Tuhan, menjaga relasi pribadi dengan Tuhan melalui doa dan membaca firman Tuhan. Kalau kamu cinta Yesus, kamu akan bijaksana dalam pembagian waktu. Kalau kamu cinta Yesus, ada jutaan hal yang bisa dan harus kamu lakukan. . . .


Gimana? beranikah kita sekarang berkata aku cinta Yesus? Kalau kita hanya berkata aku cinta Yesus tapi tak menjalani segala apa yang seharusnya kita lakukan, maka kita hanya pecundang-pecundang asmara yang hanya bisa berkata-kata tapi tak mampu membuktikan. 

Ah betapa sedihnya hidup yang demikian! 






(Himawan Teguh Pambudi)

Ditulis untuk newsletter KPR GKI Krian, November 2013


Senin, 04 November 2013

Memiliki

Dunia ini adalah dunia dimana kita dinilai dari sebanyak apa kita bisa memiliki. Aku rasa kamu akan setuju dengan hal itu.  Waktu aku masih di kampus putih, tempatku belajar teologi dan pelayanan pastoral, gejala ini terlihat amat sangat.  Penghuni asrama pria dianggap “berhasil, sukses, dan hebat” bukanlah dari kedalaman berpikir, atau skill kepemimpinan, itu mungkin iya tetapi bukan yang terutama (setidaknya dari perspektifku).  Penghuni asrama pria dianggap hebat dari apakah mereka bisa memiliki.  Memiliki apa? Selain daftar yang aku ajukan yakni, khotbah bagus, sikap manis-taat kepada otoritas, baju necis-bersih,[1] syarat yang paling ultim adalah ini: memiliki salah satu dari penghuni asrama seberang, asrama wanita. 

Dan karena saat itu aku adalah pria yang gagal memiliki salah satu penghuni asrama seberang, maka terjustifikasilah diriku sebagai pria gagal total.  Failed dengan spidol merah.

Kalau kamu saat ini adalah orang sepertiku, maka kamu akan dianggap rendah, gagal, dan ini dia labeling yang tepat: pecundang. Ada seorang sahabat dekat[2] pernah berkata: elu si kurang effort, makanya gagal memiliki.


Hahahaha.  Ada yang berada dalam kondisi yang sama? Acungkan tangan dan mari bertobat :p


***

Aku tak mau bermelankolik dan berkartasis di sini, tiga paragraf di atas cuma sekadar sebuah contoh.  Tetapi hidup di realita pelayanan pastoral membuatku sadar, budaya “menilai dari apa yang dimiliki” ini mengakar rumput sampai ke jemaat. Manusia bingung untuk memiliki. Manusia sibuk mengejar sesuatu untuk dimiliki. Manusia gelisah kalau tak memiliki. Manusia merasa kurang bernilai, kurang terhormat, kurang seperti dunia kalau tidak memiliki. Entah itu uang, barang, jabatan, kesehatan dan segala-galanya.

Kenyataan ini juga ditangkap oleh musikus favoritku Young Iwan Fals[3] (), yang pernah bernyanyi “Mimpi yang terbeli” mengisahkan bagaimana orang harus melakukan tindakan kriminal untuk membeli barang-barang supaya mereka menjadi sama dengan orang-orang di sekeliling mereka.
Pandangan “menilai diri dari apa yang dimiliki” ini kadang-kadang, eh, bukan, seringkali membuat manusia berubah menjadi monster yang menakutkan dengan topeng-topeng hipokrisi yang mereka pakai. Otentisitas disisihkan dan tak dipedulikan. Kita takut kalau kita tak memiliki.

Lalu, apakah yang demikian salah?

Tidak salah juga sih. Karena kita perlu memiliki, tetapi kepemilikan itu perlulah dilandasi kepada panggilan dan bukan kebutuhan.[4]  Apakah yang kita usahakan untuk dimiliki adalah bagian dari panggilan kita di dunia ini? Atau sekadar pemenuhan kebutuhan yang berasal dari keinginan hawa nafsu memuaskan diri sendiri? 

Kalau kita punya perspektif kepemilikian berdasarkan panggilan, hidup akan lebih sehat.  Sehingga kalau kita nggak memiliki, maka kita tak gelisah, tak gundah, tak merasa kurang. Karena ketika nggak memiliki, saat itulah kita belajar mencukupkan diri dengan apa yang saat ini kita miliki.

Masalahnya, ternyata secara ontologis kita nggak pernah punya apa-apa! Semua yang kita miliki berasal dari Sang Pemberi Yang Satu. Maka dari itu beranikah berbangga kita ini dengan diri kita dan apa yang saat ini seolah-olah kita miliki? Tidak bukan?

Pada galibnya, semesta mendedahkan kasunyatan ini kepada kita: belajar bersyukur pada apa yang saat ini kita miliki karena Ia-lah Sang Pemberi. Tak perlu galau menduka kalau tidak memiliki. Belajarlah untuk merasa  cukup. Karena orang yang cukup adalah orang yang memiliki. Orang miskin adalah orang yang tidak punya apa-apa, karena itu tidak pernah merasa cukup. Orang kaya adalah orang yang memiliki, maka itu ia akan selalu merasa cukup.

Dalam segala hal kami menunjukkan bahwa kami pelayan Allah, yaitu: . . .sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu (2Korintus 6: 4, 10)


Lagu dari grup Band Kutless enak nih:

"I'm Still Yours"


If You washed away my vanity 
If You took away my words 
If all my world was swept away 
Would You be enough for me? 
Would my beating heart still sing? 

If I lost it all 
Would my hands stay lifted 
To the God who gives and takes away 

If You take it all 
This life You've given 
Still my heart will sing to You 

When my life is not what I expected 
The plans I made have failed 
When there's nothing left to steal me away 
Will You be enough for me? 
Will my broken heart still sing? 

If I lost it all 
Would my hands stay lifted 
To the God who gives 
And takes away 

If You take it all 
This life You've given 
Still my heart 
Will sing to You 

Even if You take it all away 
Youll never let me go 
Take it all away 
But I still know 

That I'm Yours 
I'm still Yours 

Oh, I'm Yours 
I'm still Yours 
I'm still Yours


#Pregolan Bunder 36. Solitude Day yang menumbuhkembangkan jiwa kujalani hari ini. Untukmu.




[1] Anehnya aku agak kurang dalam memiliki itu semua. Apakah tulisan ini dimulai dari kebencian? Aku berdoa semoga tidak
[2] Karena ia sahabat, maka ia lebih mudah melukai.  Orang-orang yang paling membuat kita terluka adalah mereka yang paling dekat dengan kita, percayalah itu. Tetapi jangan sampai kamu takut untuk memiliki kedekatan. Karena dalam kedekatan ada pertumbuhan. Bacalah SoulCraft-nya Douglas Webster, atau Relasi-nya Paul David Tripp untuk memperkaya hal ini, relasi antar manusia ada di dalam bagian dari santifikasi.
[3] Mengapa kutaruh kata Young? Karena Old Iwan tak lebih dari penjaja kopi yang sedang berusaha memenuhi kebutuhan di masa tua, bukan lagi anak muda idealis penngkritik penguasa
[4] Thanks to Pdt. Sandi Nugroho yang memaparkan hal ini di Camp beberapa waktu yang lalu.

Kamis, 24 Oktober 2013

Hal-Hal yang bikin sumpek

“Brak,”

Handphone-ku kemarin tiba-tiba terjatuh ketika dalam kondisi di charge. Hasilnya: baterai lepas dengan kondisi charger masih menempel.  Lalu dengan sigap, meski agak sedikit kaget, segera aku pasang kembali baterai handphone-ku dan casing-nya. Kulihat ia menyala seperti biasa dan tidak terjadi apa-apa, ia menunjukkan tanda-tanda eksistensinya. 

Beberapa lama kemudian, baterai mulai habis kembali, lalu aku sambungkan handphone aku dengan charger. Eh! Tidak berfungsi. Kepalaku mulai bingung.  Aku coba colok berulangkali dan tetap tidak berhasil.  Aku coba ke Note-ku, karena charger yang ini memang aslinya bawaan Note-ku. Tidak berhasil juga! Lalu aku mencoba meminjam charger teman dan memasangkannya ke handphone aku. Bisa! Sempurnalah deduksi aku: charger itu rusak. 

Berapa lama kemudian datanglah teman-teman mampir ke chamber of secrets-ku (baca: kamar pastori).  Ada seorang teman yang charger-nya compatible dengan gadget-ku. Ku tuker kabelnya dengan kabel charger-ku, dan aku temukan masalahnya ada pada kabel. Lalu aku lihat-lihat kepala konektor dari kabel itu, dan menemukan ada 1 elemen yang hilang, itulah sebabnya listrik tak tersalurkan. Nila setitik rusaklah susu sebelanga.

Tiba-tiba hati jadi bete. Maklum, charger handphone yang asli hilang waktu camp remaja beberapa bulan lalu. Kabel pinjeman seorang teman juga hilang di camp beberapa waktu yang lalu. Charger yang berfungsi ya bawaannya Note itu. Eh, sekarang juga ikutan rusak.

Ternyata hal-hal kecil dalam hidup ini bisa membuat suasana hati jadi bete, sumpek. Kalau aku sih jadi kepikiran gini: beli charger baru, repotnya harus pergi keluar untuk membeli, uang yang harus dianggarkan. Kecil sih tapi ribet dan bete.  

Aku pun berucap kepada teman-teman, “Ternyata di dunia ini ada hal-hal kecil yang buat kita bete.”

Seorang teman menanggapi, “Iya, bbm gak bertanda centang aja, bisa bikin sumpek.” Betul. Ban bocor di tengah jalan? Sumpek. Sinyal ilang? Sumpek. Apa lagi? Banyaklah. Anda bisa tambahin sendiri.

***

Malamnya aku ngikut kelas pembinaan di gereja tentang bersaksi dan memberitakan Injil. Tiba-tiba tercetus pemikiran selewat kalau hal kecil macam charger rusak bikin bete, gimana ya hati Tuhan kalau melihat manusia berdosa? Rasanya dosa bukan hal-hal kecil, tetapi itu hal-hal besar. Makanya, Allah turun ke dalam dunia ini untuk menebus kita dari belenggu dosa.

Rasanya logis kalau aku simpulkan bahwa Tuhan sumpek banget lihat ciptaan-Nya, yang Ia ciptakan dengan kerinduan memuliakan-Nya dan bersekutu dengan-Nya, menyasar dalam jalan yang salah.

Well, kalau kita tahu hati-Nya begitu sumpek melihat kita rusak dan jatuh dalam dosa, beranikah kita membuat hati Sesosok Agung yang kita kasihi sumpek dan terluka lagi?

Kejadian 6:5-6  Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.

Masih adakah dosa saat ini yang kita genggam dengan penuh nikmat? Walah dalah, kita lagi bikin hati Tuhan sumpek!


#Dini hari. Pregolan Bunder 36. Sambil Ngopi kopi Papua.



Kepala konektor yang rusak dan membuat charger tak lagi bereksistensi.
Bukankah sebuah keberadaan menjadi ada ketika ia berfungsi?
:p

Kabel charger yang telah kehilangan nyawanya.
Ah, hidup memang rangkaian kehilangan demi kehilangan!

Jumat, 11 Oktober 2013

When I Was Your Man

Malam itu insomnia menjadi sahabatku kembali. Ketika alam pikir melanglang jauh ke masa lalu. Dendam dan sesal berkelindan menjadi satu, memperanakkan kegelisahan yang runtut membekap semburat rindu, juga jutaan sendu yang menyeluruh di dalam kalbu.

Masih aku ingat bau parfummu. Dan aku hafal segala kesukaanmu: boneka kelinci lucumu, piano sebagai alat musik kesukaanmu, warna biru muda cerahmu, cokelat di malam hari, toko ice cream favoritmu di sebuah jalan raya di kota Pahlawan ini. Lalu tiba-tiba kepalaku menjadi sakit. Sakit sekali. Jadi ini rasanya hati teriris.

“Aku harus meninggalkanmu. Orang yang tak pernah punya waktu untukku!” bentakmu padaku saat itu.

“Apa? Aku kerja tau. Untukmu. Untuk masa depan pernikahan kita. 24 jam!” Ku balas dengan seberondong peluru argumentasi.

Lalu kau pun menangis.

“Aku nggak perlu uangmu Van. Aku cuma perlu kamu.”

Dan kau pun tiba-tiba lari dari meja makan yang sudah ku pesan mahal ini sejak kemarin pagi oleh sekretarisku. Dan aku hanya diam memandang kau pergi. Deru nafasku memburu. Egoku membatu. Aku tak peduli padamu.

***

Masih aku ingat bau parfummu. Dan aku hafal segala kesukaanmu: boneka kelinci lucu, piano, warna biru muda, cokelat di malam hari, toko ice cream favoritmu di sebuah jalan raya di kota Pahlawan ini. Lalu tiba-tiba kepalaku menjadi sakit. Sakit sekali. Jadi ini rasanya hati teriris.

“Van, kok sudah lama nggak pergi sama Vivien?” mami menggedor renung pagiku.

“Eh iya, dia lagi sibuk kayaknya”

“Oh, mami pikir kalian lagi berantem. Vivien itu anaknya baik, nggak neko-neko. Sederhana. Dia hanya perlu perhatianmu. Mami sayang ama dia.” Sederhana. Dia hanya perlu perhatianmu. Ah, mamaku sayang, kenapa kau juga meledakkan bom di batin ku yang sedang rapuh ini?

Aku mengemudi mobilku ke kantor. Dan tiba-tiba semua menjadi berwarna biru muda. Ada sepasang muda-mudi bergoncengan sepeda motor dan mereka memakai jaket warna biru muda. Kulihat sebuah mobil, ada mama dan anaknya, dan anak itu begitu lucu, memakai jepit rambut warna biru muda. Di perhentian lampu merah aku melihat anak SD perempuan menggendong boneka kelinci di tangannya. Dan dia terlihat memiliki hidup yang begitu bahagia. Seperti kau waktu aku ungkapkan cintaku padamu pertama kali. “Aku juga sudah lama mencintaimu Van.” Katamu waktu itu.

Aku masuk kantor. Ada coklat di meja kerjaku. Dari seorang karyawan satu lantai yang dari dulu aku tau menyukaiku “selamat pagi” pesannya. Coklat yang sama dengan apa yang kau suka. Tetapi rasanya begitu berbeda. Ia hanyalah sebongkah coklat yang sama dengan sampah. Karena bukan kau sang pemberinya. Kubuang dan kusingkirkan, aku tak membutuhkan coklat darinya. Aku membutuhkanmu.

Siang ini aku sengaja melewatkan waktu makan siang di restoran ice cream favoritmu. Tak membantu sakit kepalaku. Malahan menambahkan satu milyaran perih lainnya. Tiba-tiba bahkan ada bau parfummu melintas di hidungku.  Aku masih ingat bau parfummu!

“Aku suka ice cream sama coklat lho. Tapi ada yang jauh lebih aku sukai,” kau pernah berkata.

“Apa?”

“Perhatianmu. Karena bagiku itu seperti seribu tentara yang melindungku.”

Dan restoran Zangrandi siang itu tiba-tiba menjadi surga. Karena dunia tiba-tiba berhenti ketika senyummu yang indah membekapku dalam ruang waktu bahkan dimensi yang berbeda. Gigi putihmu yang serasi. Lesung pipitmu di dua sisi. Mata belok berbinarmu dengan bulu lentik menari. Rambut hitam lurus panjangmu tergerai suci abadi. Dan bagiku kau bidadari.

Kini semuanya telah menjadi masa lalu.
***

Masih aku ingat bau parfummu. Dan aku hafal segala kesukaanmu: boneka kelinci, segala sesuatu tentang Jazz, warna biru muda, cokelat di malam hari, toko ice cream favoritmu di sebuah jalan raya di kota Pahlawan ini. Lalu tiba-tiba kepalaku menjadi sakit. Sakit sekali. Jadi ini rasanya hati teriris.
Malam itu aku melintasi jembatan Suramadu. Tak ada alasan untuk menyeberangi jembatan ini di tengah malam. Aku bahkan mengemudi tanpa tujuan. Seperti hidup yang rasanya tiada arah sejak kau menghilang beberapa bulan yang lalu. Tiba-tiba tengah malam itu, jalanan yang sepi makin membuat hati begitu merintih. Radio memutar lagu ini, yang menyesakkan, sangat menyesakkan.


Same bed, but it feels just a little bit bigger now
Our song on the radio, but it don't sound the same
When our friends talk about you all that it does is just tear me down
Cause my heart breaks a little when I hear your name
And it all just sound like uh, uh, uh

Hmmm too young, too dumb to realize
That I should have bought you flowers and held your hand
Should have gave you all my hours when I had the chance
Take you to every party cause all you wanted to do was dance
Now my baby is dancing, but she's dancing with another man.

My pride, my ego, my needs and my selfish ways
Caused a good strong woman like you to walk out my life
Now I never, never get to clean up the mess I made
And it haunts me every time I close my eyes
It all just sounds like uh, uh, uh, uh

Too young, too dumb to realize
That I should have bought you flowers and held your hand
Should have gave all my hours when I had the chance
Take you to every party cause all you wanted to do was dance
Now my baby is dancing, but she's dancing with another man.

Although it hurts I'll be the first to say that I was wrong
Oh, I know I'm probably much too late
To try and apologize for my mistakes
But I just want you to know
I hope he buys you flowers, I hope he holds your hand
Give you all his hours when he has the chance
Take you to every party cause I remember how much you loved to dance
Do all the things I should have done when I was your man!
Do all the things I should have done when I was your man!
[Bruno Mars, When I Was Your Man]

Tadi siang, entah itu kau apa bukan. Tapi aku cukup yakin aku melihatmu di sana dengan seseorang. Kalian bercanda mesra. Aku tak sanggup keluar dari pintu depan restoran siang itu. Zangrandi berubah menjadi neraka. Aku diam menelisik keluar melalui pintu yang lain. Kututup wajah dengan jaketku. Melihatmu sepintas dan semakin keruh sakitku.

Ya. Jose Ortega seorang filsuf Prancis bersabda "Falling in love initially is no more than this, attention abnormally fastened upon another person." Aku tahu aku telah gagal memberikan perhatianku. Memberikan diriku. Memberikan seutuhnya hidupku untukmu Vien. Dan penyesalan selalu datang terlambat. Semoga, lelaki itu memberikannya padamu.

Masih aku ingat bau parfummu. Dan aku hafal segala kesukaanmu: boneka kelinci, segala sesuatu tentang Jazz, warna biru muda, cokelat di malam hari, toko ice cream favoritmu di sebuah jalan raya di kota Pahlawan ini. Lalu tiba-tiba kepalaku menjadi sakit. Sakit sekali. Jadi ini rasanya hati teriris.



*21 Februari 2013. Habis tidur siang. Pregolan Bunder 36. Habis dengerin lagu Bruno Mars yang baru aku tau dari twit @stephaniezen.  Zangrandi dan Suramadu adalah tempat2 yang ditunjukkan Ivan temanku beberapa malam yang lalu. Hahaha. Ditulis untuk semua yang sedang merasa jatuh cinta. Berikanlah perhatian dan dirimu seutuhnya pada dia yang kau cintai. Kalau tidak, engkau menyesal.



http://www.youtube.com/watch?v=jJT0Suanqhg

Hujan Deras




Hujan. Air mata yang runtuh dari langit yang menangis. Bukan. Uap yang berubah senyawa menjadi air karena panas di atas atmosfer, lalu turun ke bumi, untuk menjalani siklus perubahannya kembali. Ia merupa kesegaran: bagi mereka yang sedang kekeringan dan sedang berputus asa melihat tanah terpecah-pecah, hujan sehari adalah pemuas dahaga, sekaligus pemekik harapan. Namun pendulum yang lain tentu akan menggugat: hujan adalah durga yang menghadirkan kehancuran, banjir badang yang merusakkan tanaman. Rumah-rumah pinggir kali longsor dikikis aliran air yang membengkak dari salurannya. Ternyata hujan melahirkan dua sisi kejadian, yang suka mau pun yang duka. Yang bahagia mau pun yang terluka. Semua tergantung siapa kita. Semua tergantung di mana kita.


Coba ubah dirimu menjadi hujan. Bayangkan kau adalah air yang turun dari atas langit. Jangan jadi hujan gerimis, tetapi jadilah hujan deras yang turun dengan kecepatan tinggi. Sebab gerimis hanyalah hujan yang malu-malu, laiknya pria yang tak pernah sanggup mengungkap kata cinta, malu-malu agar dirinya bereksistensi. Gerimis tidak akan mendedahkan apa-apa. Tetapi hujan deras adalah ia, lelaki yang berani. Berani menatap dua janin kejadian [entah yang mana] yang akan dikeluarkannya: suka mau pun duka.


Mainkan imajimu: bayangkan kau melahirkan janin yang pertama. Kau adalah hujan deras yang memanen suka. Para petani dan penggarap sawah, yang selama ini lontang-lantung menanti air turun sehingga tanah kembali gembur, merekalah yang pertamakali berteriak memuja kehadiranmu. Ibu-ibu dan anak-anak desa yang sekian minggu tak mandi karena kekurangan air, barangkali mereka akan menari dan berdansa bersamamu. Oh, tidakkah gembira ria sukmamu? Tidakkah kebahagiaan kita adalah ketika kita menghadirkan kebahagiaan dalam diri orang lain?

Lanjutkan imajimu! Kau adalah lelaki yang berani: menyatakan rasa yang telah lama tergurat dalam rongga-rongga hatimu. Yang sesak karena tak segera keluar. Yang resah karena terus menerus dibekap. Lalu kau membebaskan rasa itu. Dan kau adalah lelaki yang berani, dan menatap janin kesukaan: wanita yang kau cintai adalah tanah kering yang jutaan detik telah menunggu sikap satriamu, ia adalah padang gersang yang menanti dialiri aliran kasih sayang yang disalurkan oleh lebatnya perhatian, keamanan, dan perlindungan. Janin kebahagiaan pun menjadi milikmu: kau bernyanyi dengan melodi-melodi asmara yang memuncak dalam keheningan sakral. Indah tergerai senyum rindangmu. Akhiri imajimu: Kau adalah lelaki yang mengatakan cinta, dan bersambut dalam gayung pengantinmu.  Kau adalah hujan deras yang memeluk, menggendong, menumbuhkan janin kebahagiaan.


Tapi tunggu dulu. Hidup harus rasionalistis dan realistis. Tak semua kejadian seperti yang kita inginkan. Mainkan imajimu: bayangkan kau melahirkan jenis janin yang kedua. Kau adalah hujan deras yang memetik duka. Mereka yang rumahnya di pinggiran kali, yang sebenarnya toh juga bukan tanah milik mereka, tergusur karena banjir yang membesar gara-gara sungai yang tak sanggup menahan arus yang lebat. Lalu mereka pun berseru kecewa: “Hujan deras! Kenapa kau ungkapkan dirimu di saat kami seperti ini?” Kau akan menjadi pihak yang bersalah di mata mereka. Mereka yang kaya pun juga barangkali tak mau kalah: mereka yang mobilnya tak bisa berjalan, karena kehadiranmu membuat jalan-jalan macet dan tergenang oleh air. Mereka yang tinggal di rumah-rumah mewah, tetapi keberadaanmu membuat rumah mereka terbenam air kotor dan terdekap lumpur. Tentulah sedih hatimu! Kau yang mengecewakan sekaligus dikecewakan.


Lanjutkan imajimu! Kau adalah lelaki yang berani: mengungkap cerita tentang rasa yang terpendam lama dalam rumah hatimu. Yang sekian megasekon kau tahan untuk pergi keluar. Yang kau kunci rapat-rapat agar ia tak menyakiti lingkungannya. Lalu kau mengizinkan cerita itu beredar. Namun sayang, kau melahirkan janin kedukaan. Ia adalah wanita yang menolakmu. Ia adalah wanita yang tak berani menerima kehadiranmu. Barangkali ia takut hidupnya tergerus oleh kedigdayaanmu sebagai pria. Atau ia terlalu lemah akibat luka-luka selama ini ia alami, sehingga tak berani membuka ruang tempat tinggal bagi hatimu. Atau jelas ia tak menyukaimu seperti kamu menyukainya: Ia laksana orang-orang kaya yang tinggal dalam istana-istana kompleks perumahan mewah, angkuh enggan disentuh oleh air lumpur kotor seperti dirimu. Kau terluka. Kau mengecewakan baginya, sekaligus kau dikecewakan oleh kenyataan itu. Akhirnya kau hanya bisa menangis di tengah sepi bersama janin duka itu. Hujan deras pun berakhir dalam ratapan pedih tak tertahankan.


Ah. Imajinasi yang berlebihan. Analogi yang tak begitu tepat juga. Tetapi hujan deras sore ini mengajarkanku untuk lebih berani. Menurunkan asmara ke tempat yang seharusnya: bumi, hati seorang wanita. Tentu dengan konsekuensi yang harus aku tanggung. Apapun itu.



#Habis hujan deras di Malang. 14.00-15.30, Senin, 17 Desember 2012
Klayatan III/43.
Himawan T. P.



Semburat rasa, adalah ketika aksara tiada.
Lalu kita, mencoba untuk mengkarsa nada.
Ketika bagaskara mendedahkan tangis air mata.
Kita mencoba berjingkat untuk berdansa.
Karena tarian adalah satu cara agar kita mengada.

Lalu kita berderai tawa sekaligus canda.
Dalam ruang-ruang pijak yang begitu ramai dalam hening yang sama.
Kita, aku dan kamu, yang tak pernah satu tapi selalu bersama.
Dalam keberbedaaan merayakan unitas yang satu.

Cukuplah sudah kegundahan-kegundahan ini. 
Matikan surya. Diamkan jiwa.
Sang Embuh itu menyeruak masuk dalam tanda-tanda sunyi tak terdengar, namun Ia begitu terasa.