Selasa, 14 Januari 2014

Tuhan sudah siapin semua

"Tuhan sudah siapin semua"

Kalau kalimat itu diucapkan oleh pendeta gendut berjas mahal dengan jam tangan rolex, ipad jenis terbaru dan iphone 5s dalam genggamannya, mungkin aku akan segera apatis, skeptis dan menolak segala ide teologis bahwa Allah Sang Pemelihara. Batinku jelas akan berontak: omong kosong! Anda bisa bilang begitu karena anda sudah punya.

"Tuhan sudah siapin semua"

Tetapi kalimat itu ditulis oleh seseorang yang sedang sakit cancer stadium akut. Seseorang yang baru saja menjalani kemoterapi yang ketigabelas selama periode kedua setelah 7 kemoterapi dan operasi pada periode pertama, bahkan masih akan menjalani kemoterapi periode ketiga tahun ini. Seseorang yang punya anak yang bersekolah di salah satu SD dengan biaya cukup lumayan dan bersuami yang juga belum punya kepastian masa depan pekerjaan. Maka batinku dengan remuk menerima kebenaran sederhana yang begitu ultim itu.

Ya, Tuhan sudah siapin semua..

Jangan pernah kuatir tentang apa pun juga. Apa yang sedang kau jumpai untuk kau kerjakan saat ini kerjakanlah.

Anehnya, saat aku menulis postingan ini, di GSG lt. 2 GKI Pregbund ada tim musik yang sedang latihan lagu: Apa yang tak pernah dilihat mata, yang tak pernah didengar telinga, yang tak ernah timbul di dalam hati, semua disediakan bagi yang mengasihi Dia. Allah sanggup melakukan segala perkara, dulu skarang dan slamanya, kuasa-Nya tidak berubah!


1 Petrus 5:7 "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya. Sebab Ia yang memelihara kamu

Aku suka banget gambar ini. Entah kenapa

Minggu, 12 Januari 2014

Untuk Para Lelaki

Aku tak mengerti, kenapa tanda lelaki adalah panah seperti ini?
Ada yang tahu sejarahnya?

Ada dua hal yang bisa jadi dimiliki seorang lelaki ketika ia menatap perempuan. Pertama, eksploitasi. Kedua, melindungi.

Yang pertama, kau hanya akan menjadikan perempuan sebagai objek untuk dikuasai dan dipermainkan.  Bisa jadi kau terobsesi pada tubuhnya. Bisa jadi kau hanya ingin memilikinya. Kadang-kadang kau permainkan perasaannya dan hatinya (kelemahan perempuan bukan?). Kau eksploitasi perempuan itu untuk memuaskan naturmu sebagai seorang lelaki: berpetualang dan menaklukkan. Bukankah kita diciptakan di luar taman Eden? Bukankah kita laki-laki, diciptakan di padang belantara di mana petarungan, kekerasan, penaklukkan adalah DNA diri kita. Maka, kita, seperti Daud ketika memandang Batsyeba, atau Amnon memandang Tamar, mengeksploitasi, menjajah, dan tentu saja, mendekstrusi natur seorang perempuan.  Dan, kebanyakan para lelaki di dunia yang sedang jatuh dalam dosa ini nampaknya demikian. Maka tak heran, 8 dari 10 perempuan mengalami pelecehan seksual. Sebagian besar sahabat-sahabatku perempuan pernah mengalami abuse dari pihak laki-laki.  Ada satu-dua orang yang begitu dalam terluka sampai mereka punya gambar diri yang hancur dan butuh pemulihan yang lama, sampai sekarang pun ada yang belum sembuh. So sad.

Yang kedua, kau akan jadikan perempuan itu sebagai subjek keindahan.  Keindahan itu tak kau hancurkan. Tetapi kau rawat, kau jaga baik-baik dari dunia yang jahanam dan dipenuhi angkara nafsu ini. Kau akan menghormati keberadaannya, melibatkannya di dalam kebutuhannya untuk terlibat dalam hidupmu, tidak berotorisasi absolut pada perasannya, kau memberinya ruang untuk menari dengan perasaan, tangisan dan kerapuhannya.  Ah, seharusnya kita demikian, jika kita demikian, maka kita seperti Yesus Sang Lelaki Sejati, melindungi hati seorang perempuan Samaria yang penuh malu dan luka.  

Lelaki jenis kedua bukanlah pengemis cinta, tetapi ia menawarkan kekuatan di dalam dirinya. Kekuatan untuk menjaga, melindungi subjek keindahan yang ia kasihi.

Setengah dekade ini setidaknya ada dua hati yang ingin kulindungi, tetapi, well, mereka memilih dilindungi yang lain. Tapi masalahnya, tentu dari perspektifku yang sering sok rasionalis padahal subjektif, mereka malah dieksploitasi. Dan, bukankah hati seorang penjaga akan remuk ketika apa yang ingin dijaganya dicolong oleh maling?

Ah, kok jadi rumit. Hahahaha.

Tetapi ingatlah ini sungguh-sungguh, camkan ini baik-baik: kepada para lelaki, hati-hati, kalau kau eksploitasi perempuan, maka engkau sungguh jahanam, bangsat, dan bajingan!! (tiba-tiba merefleksi, apakah aku juga lelaki yang demikian? Ah bisa jadi, Lord have mercy on me)

#Sambil ngopi Jepang di siang hari.  Tiba-tiba kepikiran kajian gender dan hal-hal diseputar ini.

Beberapa lama kemudian aku bercakap-cakap dengan seseorang, dan ia menyarankan ada klasifikasi ketiga: lelaki yang berada di titik netral. Lelaki dimana ia hanya mengagumi seorang perempuan tanpa berusaha melakukan apapun. Ia hanya berada di titik dimana ia memandang, melihat keindahan, dan bersyukur pada Sang Pencipta karena Tuhan menciptakan perempuan. Bukankah Ia sendiri adalah Sang Keindahan sekaligus pemilik keindahan?


Senin, 06 Januari 2014

Ringga




“Halo Ngga, lagi ngapain? Aku lagi ngantor nih. Kok bosen ya?”  Kubuka smartphone ku jam 10 pagi ini, dan melihat chat darimu, ah, chat yang sama, tiap hari seperti ini.

“Aku baru bangun, sebentar lagi pergi kok. Ada apa kok kamu bosen Rin?,”balasku sekenanya, sambil kakiku bergerak ke arah dapur. Aku hendak melakukan ritual bangun tidur ku, memasak air untuk menyeduh kopi hitam.  Ya. Beberapa waktu yang lalu seorang teman datang dan menghadiahiku kopi bubuk dari Sumatra. Sangat pekat! Dan aku sebagai penantang hidup ini selalu engga meminum kopi dengan gula. Bagiku hidup ini harusnya penuh tantangan. Tantangan itu perlu memahitkan. Kehidupan yang penuh tantangan adalah kehidupan yang memahitkan bukan? 

Airin adalah manifestasi tantangan yang memahitkan itu.

“Iya nih, kerjaan banyak, dan itu-itu terus. Mana si boss nggodain terus.” Tak lewat dari 5 menit kemudian gadis itu menjawab chat ku. Ah, Airin memang gadis manis. Tubuhnya semampai, rambutnya gemilang hitam lurus berderai indah, matanya belok bulat hitam berbinar.  Kalau ia berjalan di tengah taman ia akan menghadirkan hawa kehidupan yang segera menjalar di antara tetumbuhan dan kupu-kupu. Kalau ia berlari di bibir pantai ia menyambut ombak samudera datang padanya, karena seluruh lautan ingin menari bersama sukmanya yang suci. Kecantikannya khas Nusantara. Kulitnya sawo matang tetapi eksotis. Ah! Bagiku ia adalah Sinta. 

Tapi mungkin aku bukan Ramayana. Juga bukan Rahwana. Aku cuma jelata. Memandang dari jarak yang cukup aman untuk tak dibunuh pasukan kerajaan. Memandang dewi yang katanya kecantikannya tiada sanding dan tiada banding. [Ah,  bagiku mitologi-mitologi kuno punya keserupaan yang sama: memuja keindahan. Ada Aphrodite di Yunani, Venus di Romawi,  Rieke Dyah Pitaloka di sejarah Pasundan-Majapahit, dan banyak yang lainnya. Karakteristik ini menunjukkan manusia punya kerinduan yang satu untuk memuja keindahan. Perempuan adalah keindahan itu.]


“Kamu sih, terlalu menarik,” enggan menjawab banyak, maka ku jawab sekenanya. 

Usai menikmati trinitas pagi itu, antara aku, kopi, dan kesendirian, segera aku membersihkan diri. Bekerja sebagai pengajar musik privat memberikanku keleluasaan mengatur waktu. Dan aku masih sempat mendaki gunung di akhir pekan, yang bagiku, itulah sabat dan peristirahatanku. Gunung mengingatkanku dari mana aku berasal. Gunung menyadarkanku siapa ibuku: bumi. Gunung memberikanku kekuatan untuk menghadapi masyarakat urban yang keji dalam konsumerisme mereka.

Hari ini hari Rabu.  Tidak ada jadwal mengajar. Maka pilihan yang terbaik adalah nongkrong di kedai kopi milik temanku di salah satu mall besar kota ini. Di sana bukan hanya kedai kopi tempat persinggahan eksekutif muda yang otaknya cuma menumpuk uang dan berlibur itu. Atau anak-anak muda yang hanya bisa berbicara tentang jenis i-phone terbaru, tanpa sadar mereka sedang dibodohi oleh kapitalisme.  Atau, cowok-cowok cantik yang mengaku cowok tapi mereka tak pernah tahu arti penaklukan dan kemenangan yang hakiki. Atau, para janda metropolitan yang janjian dengan selingkuhan mereka. Kedai kopi ini, diberi nama temanku Kedai Kopi Jenggot. Temanku begitu tergila-gila pada jenggot Marx hingga di berbagai sudut ia memasang foto Marx. Ya, inilah kedai kopi tempat berkumpulnya peminat sastra dan filsafat, terlebih mereka yang “kiri,” tempat berkumpulnya pembaca Doestoevsky, Tolstoy, sampai Pramoedya Ananta Toer.  


Aku bukan seorang Marxist. Aku hanya penyuka kopi. Bagiku ide-ide Marx adalah ide yang gagal total. Kedai Kopi Jengggot itu adalah salah satu simbolnya: berbicara tentang sosialisme tetapi eksis di pusat borjuasi. Ah, naif. Tapi, everything has a price. Demikianlah hidup.

Lama juga aku berefleksi di dalam kamar mandi. Keluar dari kamar mandi aku terngiang-ngiang satu kalimat yang kubaca tadi malam: Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat merasakan kesenangannya.

Kulihat handphoneku dan ada 5 missed cal dari nomer yang sama: Airin. Ada apa di siang bolong gadis ini, menelponku? Kangenkah?

Kucoba menelepon dia. 

“Ringga, tolong aku segera kamu kesini. Bosku. . . bosku. .”

“Kenapa Rin?”

“Bossku menggerayangiku. . .”

Sial! Terulang lagi kejadian itu.

“Kamu tak apa-apa?”

“Aku tadi untuk dapat lari menyelamatkan diri. Sekarang aku berada bersama-sama dengan teman-teman.”

“Aku segera kesana.”

Kututup telepon, dan segera berangkat. Tak perlu lama untuk sampai ke tempat Airin. 10 menit dengan motorku yang lincah. Sialan! Baru 2 bulan ini bekerja di tempat baru, dan Airin selalu mengalami kejadian yang sama. Kenapa para lelaki di dunia ini berhati busuk dan tak menghormati keindahan? Kenapa kesejatian selalu mereka pahami dengan penaklukan semu?

“Airin kamu tak apa-apa?”

“Ringga? Kamu ke sini?”

“Ya, kenapa ini terjadi lagi? Kamu diapakan lagi?”

“Kali ini sebelum ia membuka, aku sempat memukulnya dengan gelas dan berlari.”

“Bagus”

“Tapi, aku akan selesai di sini, tak ada saksi, aku akan dipecat.”

“Tak apa, lebih baik jadi pengangguran daripada hidup di bawah bayang-bayang kebejatan.”

“Trimakasih Ringga, kamu selalu ada, kamu sahabat terbaikku.”

“Ayo kita pergi. Daripada ada apa-apa di sini.” Bulan lalu aku hampir membunuh seseorang. Memukulkan gitar listrik yang kubawa kepada boss Airin yang, lagi-lagi mencoba memakainya sebagai objek dikuasai. Bagi seorang pendaki sepertiku, aku punya kekuatan yang cukup untuk memukul seseorang sampai terkapar. Lebih baik kejadian itu tak perlu berulang lagi.

Sesampai kami di Kedai Kopi Jenggot, segera Airin tertidur nyenyak di sofa. Di perjalanan tadi ia bercerita kalau semalam tidak tidur mengerjakan tugas kantornya. Huh, eksploitasi pekerja lagi.

Kenapa manusia tidak memahami apa arti keindahan? Kenapa manusia tidak menjaga keindahan?

Kupandang wajah Airin yang begitu teduh dalam tidurnya. Benar kata orang, perempuan menunjukkan keotentitakannya ketika ia tidur. Maka jika kau ingin tahu kecantikan seseorang pandanglah ia ketika ia tidur.  Itu adalah momen ketika perempuan, sang keindahan itu, tak dikotori oleh bayangan modernisme dan kepalsuan zaman ini. Bedak dan make up itu adalah kebohongan.

6 tahun aku mengenalmu Airin. Perasaan ini tak berubah. Aku akan selalu menjadi pelindung bagimu. Selalu ada untukmu. Meski aku tak pernah mengenggam dan memilikimu.

“Aku bersyukur selalu ada kamu Ringga, kamu sahabat terbaikku.”

Ya, kau menyebutku sahabat terbaik. Tak pernah lebih. Pernah kuutarakan ingin menggenggam hatinya, dan memenangkan dirinya. Tetapi ia menjawab, “Ringga, kamu sahabatku, entah kenapa itu tak akan berubah.” Jadi hatinya tak pernah memilihku. Lalu siapa?

Entahlah. Barangkali semesta menugaskanku hanya untuk peran ini: peran pelindung keindahan. Ya, di tengah kehidupan yang terus berputar ini, kita punya peran masing-masing. Tugas kita sebagai manusia adalah melakukan peran itu sebaik mungkin.  Kalau aku hanya ditugaskan untuk melindungi keindahan itu, maka aku akan mengabdikan diri bagi keindahan itu seumur hidupku.  Keindahan adalah milik langit dan bumi. Ia menerbitkan sejuta rasa kekaguman, juga ketakutan. 

Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat merasakan kesenangannya.

Hatiku begitu pedih, tetapi aku tersenyum memandang Airin. Orang lain tidak tahu akan kesenangan ini. Kesenangan bahwa aku tahu siapa peranku. Karena aku percaya kalimat Doestoevsky: Beauty will save the world!


To be continued. Ini adalah cerita pendek bersambung, semoga setiap minggu bisa memposting satu cerita secara rutin.

Bengawan Solo, Tunjungan Plaza. 18 September 2013

Jumat, 03 Januari 2014

Apa sih arti pulang?

Apa arti Pulang?

Tiba-tiba pertanyaan itu menggerung gelisah dalam ruang batin. Kemarin aku pulang ke Malang. Aku terheran-heran mengapa aku sangat ingin pulang. Padahal 2 minggu yang lalu, sebelum sibuk-sibuk Natal, aku juga pulang ke Malang. Seperti biasa kalau aku pulang ke Malang tujuanku jelas: rumah. Rumah emakku tinggal, dan rumah kakakku.  Aku punya rumah yang lain: rumah di taman wilis nomor sembilan[1] dan kampus di jalan bukit hermon nomor satu,[2] tetapi kalau masa liburanku hanya pendek aku sangat jarang mau kesana. Apa yang kulakukan selama di rumah? Tidur lebih banyak daripada biasanya, membaca, nonton film, ngobrol dengan orang-orang yang ada di rumah. Lalu malam ini, agak bosan mengerjakan riset yang mau aku tulis dalam bentuk paper akademik, kemudian glesat-glesot[3] nggak jelas seperti ulat yang baru diputus cinta, tiba-tiba ruang simulakrum merayap hadir dalam kecepatan cahaya dan bertanya: apa sih arti pulang?

(Playlist on: Home by Michael Bubble)

***

Aku pernah diberi kisah menarik. Waktu aku kecil keluarga kami tak punya rumah. Dan aku, lahir sebagai anak bungsu dari 10 orang bersaudara.  Hmm, sepanjang 23 tahun aku hidup di dunia setiap aku ceritakan hal ini ke semua orang, mereka pasti berkata: banyak banget! Emakku, harus aku akui, orang yang kuat hahaha. Aku dilahirkan dengan kondisi apa adanya, bahkan hampir tiada apa-apa. Rumah dengan bilik bambu dan beralaskan tanah tanpa semen. Bahkan diceritakan aku dilahirkan tanpa bantuan dukun beranak! Aku lahir mendekati tengah malam di hari Sabtu Legi, kata orang Jawa neptu (angka hari lahirku) itu dihitung besar: 15, maka kata Bapakku, dulu ketika beliau masih hidup, aku adalah anak dengan kemujuran yang paling tinggi.

Sebelum keluargaku punya rumah sendiri, maka kami harus kontrak. Kata kakak-kakakku, keluargaku waktu itu sangat sering nunggak uang kontrakan. Bapakku cuma security alias satpam dan Emakku tukang cuci di gereja.  Maka, dengan sekian anak yang harus dihidupi, memang menjadi sebuah perjuangan yang penuh tetes keringat dan banting tulang dalam arti yang paling literal.  Ada cerita bahwa genteng rumah kontrakan kami diambili karena kami nunggak uang kontrakan berbulan-bulan. Atau gosip-gosip tentang miskinnya keluarga kami dan utang yang juga banyak. Ah, situasi yang pasti sulit tentu pada waktu itu. Konon (dan kisah ini dibenarkan oleh kakakku kemarin), aku ini mau diberikan ke keluarga lain, gara-gara anaknya Bapak dan Emakku sudah terlalu banyak.


Bapakku dulu anak haji yang kecewa dengan bapaknya lalu lari dari rumahnya (itulah yang membuat aku jarang punya cerita tentang kakek-nenek, aku tak kenal!).  Beliau bertemu di jembatan merah Surabaya dengan Emakku yang berusia 16 tahun (beberapa waktu yang lalu aku menemukan akta nikah mereka yang sangat kuno bin ajaib). Emakku sendiri berasal dari keluarga yang biasa-biasa, cenderung miskin, yang tinggal di daerah kumuh Surabaya. Tak kutahu dimana mereka, bahkan saat ini aku sedang hidup di kota ini, aku tak ingat ada dimana mereka. Kami tak berhubungan sama sekali seumur aku hidup, kuduga kedua orangtuaku punya kepahitan yang amat besar kepada keluarga asal mereka.


Lalu pada usiaku yang keenam perbaikan ekonomi kami mulai terlihat. Kami pindah ke lokasi Klayatan ini. Daerah ini dulunya adalah daerah pinggiran di kota Malang yang masih sangat murah pada kisaran tahun 1996 (tahun itu mall termegah yang pernah ada di kota ini adalah Ramayana dan Sarinah).  Dengan bantuan kakak-kakakku yang sudah agak mapan, maka kami membangun rumah. Kalau nggak salah ukurannya lumayan 5x15 meter bisa jadi lebih.  Aku yang masih kecil (sampai sekarang sih tubuhku kecil dan kurus, mungkin kekurangan gizi pada awal pertumbuhanku) turut membantu membangun rumah itu dengan angkat batu-bata. Sembari rumah kami dibangun pelan-pelan, kami kontrak satu tahun di dekatnya.


Rumah yang beralamat di Klayatan II/60b itu jadi dan layak ditinggali sekitaran tahun 1997 atau 1998. Aku ingat karena waktu itu aku menyaksikan kejatuhan Soeharto dari TV cembung 14 inch yang kami punyai. Juga beberapa tahun sesudahnya ketika Megawati naik tahta. Waktu itu Bapakku senang sekali! Suatu ketika aku bermain permainan militer, lalu aku menyebut-nyebut G30s PKI, dan beliau memarahiku! Aku terdiam waktu itu, baru berpuluh tahun kemudian aku tahu kenapa beliau begitu marah.[4]


Rumah dengan tiga kamar itu menjadi saksi masa pertumbuhanku. Bagaimana aku berantem dengan kakakku nomer 9 karena rebutan memindah channel pesawat televisi. Atau soal menyalakan lampu atau tidak. Atau soal makanan, yang, selalu terbatas. Sekarang kami bisa dengan bangga mengajak keluarga kami makan di restoran yang agak mahal.

Rumah itu menjadi saksi bagaimana aku bertumbuh sebagai seorang introvert. Aku jarang keluar rumah. Paling banter hanya akan main bola di sore hari atau berlatih di SSB pada minggu pagi sebelum berangkat ke gereja. Dan karena keluargaku adalah satu-satunya yang pergi ke gereja, maka di hari minggu aku juga jarang bermain dengan teman di kampung. Aktif di Karang Taruna pun aku tak pernah. Aku asyik dengan mainanku.  Zaman masih SD-SMP, aku suka bermain robot-robotan, atau dengan kreatif menggunakan benda-benda disekelingku seperti payung yang sudah rusak sebagai pistol-pistolan (kami juga jarang dibelikan mainan, mainan yang kami punya biasanya hadiah natal pemberian guru sekolah minggu). Para pahlawan di Televisi seperti Power Ranger, Satria Baja Hitam, adalah teman-temanku.  Komik seperti Dragon Ball, lalu Seri Tokoh Dunia adalah sahabat terbaikku.  Ah ini dia, yang menyenangkan sebagai anak bungsu, adalah ketika engkau menerima raport dan hasilnya bagus, maka kakak-kakakmu akan bertanya: mau dikado apa? Biasanya mereka mengajakku ke toko buku Gramedia di alun-alun kota. Pada waktu itu, Gramedia adalah tempat yang kukunjungi hanya pada waktu awal tahun pelajaran atau liburan. Tempat yang menurutku sangat menyenangkan. Dulu Gramedia tidak membungkus plastik buku-bukunya sehingga kau bisa membaca buku sampai puas tanpa membeli. Masa-masa berkunjung ke Gramedia adalah pembentukan kosmologi eskatologisku yang pertamakali: bagiku Gramedia adalah surga.

Rumah itu sungguh menjadi saksiku ketika aku suatu ketika dimarahi keras oleh emakku karena mengecewakan mereka. Aku pisuhi[5] guru bahasa daerahku di SMP dan itu membuatku mendapat nilai moral yang sangat buruk.  Tetapi juga menjadi saksi masa-masa manis: ketika aku sukses menjadi jawara catur di Kota Malang lalu bertanding di kejuaran-kejuaran daerah.

Rumah itu juga menyaksikan aku ketika aku, pada suatu pertandingan penentuan final, melakukan tindakan bodoh: mengorbankan menteri cuma-cuma dan akhirnya kalah. Sebetulnya aku mau tipu lawanku, tapi aku malah yang melakukan langkah buta. Kata teman-temanku waktu itu satu langkah yang senilai 250 ribu. Itu harga juara kami, karena kami sebagai satu grup gagal jadi juara utama dan hanya sekedar jadi juara dua gara-gara langkahku yang salah itu. Rumah menjadi saksi betapa aku tidak bisa tidur tiga malam meratapi kekalahan itu, bahkan terbangun di tengah malam dan memukul-mukul bantal tidurku.  Kesedihan yang level kesedihannya hanya bisa disamai atau dilampaui momen ketika cintaku hanya bertepuk sebelah tangan.

Rumah itu menjadi saksi bisu juga, kisaran Juni 2005, Bapakku yang sudah sakit-sakitan selama setahun lebih, dipanggil oleh Gusti pulang ke haribaan.  Emakku melolong dengan tangis yang amat keras pada malam itu. Aku yang waktu itu di rumah sendirian (karena kakakku yang nomor sembilan sudah kuliah di Surabaya), kebingungan lalu memanggil kakakku yang pertama yang tinggal di RT agak jauh dari rumah kami. Mulai hari itu rumahku sekaligus menjadi saksi masa gelap dalam hidupku. Masa aku kehilangan iman, masa aku mencari identitas, masa aku tak punya harapan dan tujuan.



Waktu SMA aku harus bekerja di toko keluarga milik kakakku. Nilai-nilaiku jeblok. Karier caturku hancur. Bayangkan saja, jam 7 pagi sampai 2 siang aku disekolah, lalu aku harus melanjutkan berdagang di pasar Gadang sekitar jam 4 sore sampai 10 malam. Sampai rumah aku kelelahan. Pernah dalam satu semester, ada sembilan mata pelajaran, dan tujuh diantaranya aku remidi, hanya dalam pelajaran agama dan penjaskes aku tidak remidi, itu pun nilainya mepet. Menyedihkan.

Di hadapan teman se SMA-ku dulu aku hanyalah pria kurus tak berpengharapan, ngantuk ketika kelas, gugup ketika presentasi, nyontek ketika ulangan harian, cuma bisa berpuisi murahan kepada cewek yang aku sukai. Setelah aku kelas tiga, maka aku melepas pekerjaan paruh waktuku di toko, baru prestasiku agak membaik.

Rumah itu juga menjadi saksi perubahan hidupku. Kisaran tahun 2007 aku mengikut camp kerohanian di sekolahku. Dan disitu aku rekomitmen ulang percaya pada Kristus, aku tahu saat itu aku lahir baru. Yohanes 3:3 menggema dalam sukmaku yang kosong dan kesepian saat itu.  Lalu aku mengambil baptisan selam di gerejaku: GPdI Hebron. Mulai saat itu aku menggumuli  panggilan hidupku sebagai seorang pelayan Tuhan penuh waktu.

Singkat cerita, dengan bimbingan kakakku yang nomor 5 yang juga pelayan penuh waktu, maka aku kuliah di kampus putih di Jl. Bukit Hermon No 1. Karena aku harus menginap di asrama, maka rumah pun hanya emakku yang tinggal. Akhirnya atas kesepakatan keluarga, rumah beralamat Klayatan II/60 itu dikosongkan dan disewakan sebagai tempat kos-kosan. Emakku diminta tinggal di Klayatan III/43 bersama kakakku yang keempat. Ini adalah rumah kedua yang keluarga kami bangun di daerah ini. Kau bisa lihat pemeliharaan Tuhan dalam hidup keluarga kami bukan?

Sekarang, kalau aku berkata pulang, maka aku pulang ke rumah ini. Rumah yang tidak menjadi saksi atas hidupku karena aku tak pernah tinggal di dalamnya dalam jangka waktu tahunan. Paling hanya masa liburan kuliah atau ketika aku ambil jeda dari pelayanan seperti saat ini.

***

Lalu, kembali ke pertanyaan yang tadi, apa sih arti pulang?

Aku berpikir-pikir, apa yang membuatku, sehabis kebaktian buka tahun baru 2014 di hari Rabu kemarin, ingin pulang.

Ah, pada akhirnya rumah bukan soal dimana engkau tinggal, bukan tempat, bukan gedung. Tetapi pulang adalah soal memiliki dan menggenggam kenangan. Kenangan bersama orang-orang. Kenangan pada masa kau berusaha menjadi manusia dewasa. Kenangan, bahwa ketika dunia melukaimu, masih ada mereka yang menerimamu, yaitu keluarga, bahkan semengecewakannya keluarga itu.

Kau akan tahu artinya pulang kalau kau sudah mengalami seperti aku, hidup sendirian di perantauan (agak lebay karena tempatku melayani hanya berjarak 3-4jam dari rumah ini. Barangkali yang bikin melankolis adalah frasa “hidup sendirian” hahaha maklum masih single :p).

Oke deh. Lalu apa artinya pulang?
Pulang adalah mengingat kembali siapa engkau dulu, menyadari bagaimana besar karya-Nya dan betapa megahnya lukisan-Nya dalam hidupmu. Sulaman-Nya terdiri dari benang-benang berwarna: penderitaan, kebahagian, penolakan, penerimaan, kekecewaan, kesukaan, dendam, pengampunan. Betapa bejana yang retak dan rapuh ini dibentuk-Nya pelan-pelan. Kadang bejana ini memberontak, dungu dan ricuh. Tetapi bukankah Ia adalah Allah yang kasih-Nya terus mengejar dan tak peduli pada penolakan kita? Ia yang tak akan menyerah atas hidup kita yang berharga di mata-Nya bahkan terukir di telapak tangan-Nya.  Lalu, Ia dengan penyertaan-Nya yang sempurna bersama-sama denganmu dan membentukmu, sampai saat ini, sampai di titik ini.

Nah sekarang, menutup catatan malam ini, dimanakah engkau berada sekarang? Di rumahmu? Syukurilah! Tak banyak orang bisa pulang. Di perantauan? Syukurilah! Karena kau akan bisa pulang. . . . . . .setidaknya pulang pada kenangan.



***
 
Sebagian dari keluargaku, coba tebak aku yang mana?

Matius 9:6
Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak manusia berkuasa mengampuni dosa – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu- : “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu.”

Menarik sekali, usai Tuhan Yesus menyembuhkan orang lumpuh itu, Ia tidak menyuruhnya pergi memberitakan Injil, tetapi menyuruhnya untuk pulang. Mungkin, supaya orang lumpuh itu mengingat-ingat kenangan, seperti aku malam ini, lalu menyadari betapa besarnya karya Allah dalam hidupnya.  Calvin pernah berkata hidup adalah theatrum Gloria Dei: panggung kemuliaan Allah. Aku percaya panggung itu kecil terlebih dahulu: rumah kita.


#Klayatan III/43B. 2 Januari 2014. Seharian ini merenung apa yang akan kulakukan dalam kehidupan pelayananku di 2014. Lalu aku juga memenuhi diri dengan membaca literatur psikologi remaja dari John W. Santrock dan naskah berat teolog pascamodern kesukaanku Kevin Vanhoozer, Drama of Doctrine. Tetapi, ternyata energi terbesar untuk melangkah ke dalam tahun yang akan melelahkan adalah menemukan Tuhan dan karya-Nya dalam hidupmu. Jelas, karena, pemberian terbaik yang Allah berikan dalam hidup kita adalah diri-Nya sendiri. Thank you, my sweet Jesus!








Diposting khusus untuk:
1. Zadok Elia, my brother hahaha yang hari ini waktu makan siang bersama dia membaca blog ini dan berkata: aku heran nggak ada cewek yang suka sama kamu. Pernyataan yang memberi semangat di awal tahun. :D
2. Esther Stephanie Hermawan,  my best sacred companion hahaha yang waktu kuceritakan kalimat Zadok dia menulis: idem. LOL




[1]Rumah Perkantas Malang
[2] Kampus Seminari Alkitab Asia Tenggara
[3] Tidur tapi nggak tidur, berbaring gelisah gitulah
[4] Aku tahu kisah kejamnya Orde Baru melalui novel Tapol yang diangkat jadi cerita bersambung di Koran Jawapos (lupa tahunnya), belakangan semakin tajam dengan studi pribadiku tentang filsafat Marxisme, dan pembacaan novel-novel seperti Pulang, Amba, dan biografi Anak-anak Revolusi.
[5] Kata-kata kotor, makian

Kamis, 12 Desember 2013

Refleksi dari lukisan Rembrandt “Jacob Wrestling with The Angel”: Mencari Arti Lelaki Sebagai Seorang Pemenang


Kalau anda perhatikan seksama, sampul buku ini memakai lukisan dari pelukis terkenal Belanda, Rembrandt Van Ryn, yang berjudul “Jacob Wrestling with The Angel.[1]  Lukisan itu memotret puncak atau klimaks dari perjalanan hidup seorang Yakub, tokoh Alkitab, yang dalam Camp Men’s Breakthrough kali ini menjadi cerminan setiap kita.  Refleksi ini memusat pada dua aktor yang dilukis Rembrandt: Yakub dan malaikat.

Pertama, sosok Yakub.  Saya rasa kita semua akan setuju jika dikatakan: kisah Yakub adalah kisah kita semua, kisah para lelaki.  Ia lahir sebagai anak bungsu dari dua bersaudara di tengah keluarga yang mengakarkan iklim favoritisme, dan melegalkan suasana kompetisi yang saling menjegal di antara saudara sedarah. Kondisi keluarga ini membesarkan Yakub menuju sosok lelaki yang manipulatif, sifat yang bergaris lurus dengan arti namanya “penipu.”  Lihatlah Yakub, dengan tipu muslihatnya ia mengambil hak kesulungan dari Esau dengan semangkok kacang merah. Ia menipu ayahnya juga untuk mendapatkan berkat, sebuah hal yang dipelopori ibunya, tetapi saya yakin ia menyetujui dan menikmatinya, demi dirinya sendiri. 

Yakub lari ke tempat Laban karena takut atas ancaman Esau, di sini ia menjadi peternak yang berhasil. Lelaki yang juga pecinta itu pun berhasil mendapatkan gadis idamannya. Ah, bukankah ini status yang sangat umum harus dan ingin dicapai oleh para lelaki? Lelaki yang menjadi pemenang adalah seorang penakluk, penguasa, pejuang dan pemilik keindahan. Ya, Yakub mendapatkan itu semua.  Tetapi benarkah ia lelaki yang menjadi pemenang?

Aksi tipu menipu Yakub tak berhenti di situ, ia kelabuhi mertuanya sehingga hartanya semakin banyak.  Strategi manipulatifnya tak berhenti, menjelang bertemu dengan Esau, ia membujuk rayu kakaknya dengan harta benda.  Namun, semua berubah ketika si lelaki yang mencoba untuk terus-menerus menjadi pemenang itu, datang ke sungai Yabok, tempat di mana ia menjadi lelaki yang kalah.

Rembrandt melukis Yakub sebagai seseorang pria yang gagah, cambang lebat dan kekar adalah tanda seorang lelaki bagi era Rembrandt.  Pakaian yang dipakai Yakub dalam lukisan Rembrandt adalah pakaian seorang gembala. Jangan membayangkan gembala sebagai pekerjaan yang mudah, santai dan menyenangkan! Gembala adalah pekerjaan yang keras: melindungi dari hewan-hewan buas, mengatur domba-domba dungu, bertarung dengan sengat mentari dan dinginnya tusukan malam.  Tentu pekerjaan seorang gembala adalah awal menjadi seorang pemimpin yang handal.  Yakub telah teruji dalam itu semua. 

Maka pertarungan Yakub dengan sosok Ilahi, seorang malaikat (yang adalah representasi dari Allah sendiri, melek, yang artinya “utusan” identik dengan sang pengutus, sehingga pergelutan dengan malaikat ini adalah pergelutan dengan Allah sendiri), adalah ujian terhadap kekuatan Yakub sebagai seorang lelaki.

Kekuatan Yakub sebagai seorang lelaki amatlah kuat, perhatikan Rembrandt melukisnya dengat akurat: kedua tangannya tak terlihat, mungkin sibuk menyerang untuk mengalahkan lawan.  Penulis Alkitab melaporkan, “Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia [Yakub] sampai fajar menyingsing.  Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya. . .” Sangat kuat, sangat ambisius, sangat lelaki?

Kedua, sosok malaikat. Lelaki lawan dari Yakub ini juga tak kalah kuat.  Menariknya Rembrandt melukis wajah malaikat sebagai seorang lelaki yang lemah lembut.  Perhatikan matanya yang memandang kepada Yakub. Itu adalah sebuah tatapan anugerah dan kasih karunia.  Tangannya kanannya memberikan pelukan, tangannya yang lain dan lututnya menyerang bagian utama pertahanan Yakub: sendi pangkal paha.  Kejadian 32:30 menjelaskan bahwa lelaki itu adalah Allah sendiri. Pihak superior itu memandang dengan mata menyorotkan kasih karunia, yang seolah-olah berkata kepada Yakub: kapan kamu berhenti untuk mencari kemenangan dengan caramu sendiri?  Kapan kamu ingat padaku Allah penguasa hidupmu? Tidakkah kamu sadar bahwa kamu hanyalah sesosok lelaki dengan berbagai kelemahan? Kapan kamu menyerah kalah?

Kemenangan Seseorang Yang Kalah
Jika kita perhatikan dengan seksama kisah di Kejadian 32, orang itu berkata kepada Yakub, “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.”  Menurut saya, kalimat ini mengundang banyak pertanyaan.  Jelas-jelas Yakub-lah yang terpukul. Yakub-lah pihak yang kalah.  Lagipula, inferioritas Yakub di depan Sang Malaikat itu begitu ketara.  Malaikat itu memberi nama baru kepada Yakub.  Pada masa itu, pemberian nama oleh seseorang kepada pihak yang lain, menunjukkan kekuasaan dan kebesaran pihak pemberi nama di atas pihak yang namanya dibaharui.  Oleh karena itu  jelas, malaikat-lah pemenangnya dan bukan Yakub.

Pada akhirnya, Yakub tampil sebagai lelaki yang kalah, tetapi ia disebut menang.  Inilah kemenangan seseorang yang kalah.

Tanpa Yakub menjadi kalah, ia takkan dapat menjadi seorang pemenang.  Tanpa Yakub mengosongkan dirinya, ia takkan bisa menerima pemberian Allah.  Tanpa Yakub menyerah (surrender) dan mengakui kelemahannya (vulnerable), ia tidak bisa menikmati anugerah dan kekuatan Allah. Tanpa Yakub melepaskan genggamannya, ia takkan punya tangan yang terbuka menerima berkat-Nya. Tanpa Yakub berhenti berusaha dengan caranya sendiri, ia takkan mencapai tujuan dan rencana-Nya.

Inilah inti menjadi seorang pemenang dari perspektif firman Tuhan: kalah di hadapan Allah, supaya kita menang di dalam kemenangan-Nya.

Epilog: Lelaki yang menjadi pemenang adalah lelaki yang spiritual

Coba anda searching di mesin pencari Mbah Google dengan kata kunci “lelaki” dan “menjadi seorang pemenang.”  Anda akan menemukan bahwa budaya dunia kita masa kini, memberikan arti lelaki yang menjadi pemenang dengan gambaran pria-pria kekar, kaya, penuh dengan kekuasaan, dan dikelilingi wanita cantik.  Dari refleksi kita pada lukisan Rembrandt dan kisah Yakub di Sungai Yabok di atas, benarkah ini artinya?  Sungguh, kita perlu menggugatnya dan mencari arti yang sejati.

Pada akhirnya, usaha menemukan dan mengerti arti yang tepat tentang “lelaki yang menjadi pemenang,” menuntut kita untuk kembali kepada kisah penciptaan lelaki pada Kejadian 1-2.  Di situ kita melihat, lelaki diciptakan dengan hembusan nafas Allah.  Itu berarti identitas lelaki yang sejati, hanya bisa kita temukan di dalam relasi kepada Allah.  Romo Deshi Rahmadani, SJ menulis:
kepada kita para lelaki, sebenarnya dipercayakan sebuah misi besar misi besar untuk menyadarkan para sesama lelaki tentang hal ini.  Untuk itu, kita sendiri perlu terlebih dahulu memeluk erat-erat identitas kita sebagai lelaki spiritual.  Menjadi lelaki sejati tidak bisa dilakukan dengan sekadar memilih musik keras, kopi kental atau rokok cerutu. Tidak pula dengan mengolah otot atau mengumbar kemarahan pada setiap orang yang memotong jalur kendaraan kita.  Jika kita mau menjadi lelaki sejati, kita harus menjadi sangat spiritual.[2]
Yakub meraih identitas lelaki sebagai pemenang, ketika ia menemukan damai (rest) di dalam Allah. Saat itulah ia meraih hakikatnya sebagai lelaki spiritual.  Jadi, lelaki sebagai seorang pemenang adalah berkenaan dengan kehidupan rohani kita.

Sampailah kita pada titik, di mana kita perlu memandang Yesus Kristus. 

Misteri inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah kisah tentang Allah yang turun dalam rupa seorang lelaki! Dan tahap-tahap kehidupan Yesus membuktikan bahwa Ia adalah seorang lelaki sejati. 
Ia adalah Putra yang secara istimewa dikasihi oleh Bapa-Nya (boy); Ia adalah lelaki yang siap bertualang menjelajah wilayah dan tantangan baru (cowboy); Ia adalah lelaki yang melihat jelas sebuah visi baru dan membiarkan tangan-Nya ikut terkotori, terluka, berlumuran darah, dalam pertempuran sebagai seorang pejuang yang berani (warrior); Ia adalah lelaki yang memiliki hati yang mengagumi keindahan manusia yang dari dalamnya terpancar daya ilahi (lover); Ia adalah lelaki yang memiliki kuasa begitu besar dan sungguh tahu bagaimana menggunakan kuasa-Nya agar semua orang yang ada di bawah kekuasaan-Nya dan yang terbuka pada-Nya mengalami peningkatan kualitas kemanusiaan (king); Ia adalah seorang lelaki yang kehadiran-Nya selalu dibutuhkan karna dari-Nya terpancar nasihat, peneguhan, peringatan, dan pelajaran berharga tentang hidup (sage).  Benar, lelaki itu adalah Yesus! Terpisah dari Yesus, kita sebagai lelaki sungguh akan dibingungkan, tak tahu lagi arah tujuan kita karena Sang Anak Domba Allah adalah juga Sang Singa dari Yehuda![3]

Saat ini di Camp Men’s Breakthrough, Lelaki Sejati yaitu Yesus Kristus itu memandang kita dengan wajah-Nya yang penuh kasih karunia, dan kasih setia Ilahi.  Ia menanti kita untuk tunduk, mengakui kekalahan kita, sehingga kita menemukan kemenangan di dalam-Nya.  Ajakannya begitu lemah lembut, namun juga begitu dahsyat: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Maukah anda?


#Tulisan ini ditulis dalam rangka Camp Men's Breakthrough, kisaran bulan Oktober 2013




[1]Lih.  www.gutenberg.org/files/19602/19602-h/19602-h.htm#l
[2]Adam Harus Bicara (Jakarta: Kanisius, 2010) 278. Saya menyarankan untuk para lelaki dapat membaca buku ini.  Meskipun ditulis oleh seorang Romo Gereja Katolik Roma, kita dapat menyetujui pendapat-pendapatnya tentang lelaki di dalam buku ini.
[3]Ibid. 281

Rabu, 11 Desember 2013

Ketika Aku Dicintai

 


Aku terpana membaca Maleakhi 1:2 “Aku mengasihi kamufirman Tuhan. Menurutku itu adalah pernyataan kasih paling romantis, serius, dan ultimate yang pernah ada di dunia ini.  

Di dalam bahasa Ibrani, ahab bukanlah perasaan emosional anak remaja yang bergetar gelisah ketika melihat lawan jenis. Ahab lebih berarti to choose, pemilihan. Berarti ketika Tuhan berkata aku mengasihi kamu, maka Allah memilih Yakub. Akibat ketika kita dicintai adalah jelas: dipilih. Yakub atau Israel, diterima dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dipilih oleh Allah dengan segala kebodohan, kepalsuan, ketidaktaatan yang ada. 

Benarlah kata Pastor Jose Carol: Love is not about chemistry, is about decision.  Amos 3:2 bahkan berkata: Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi.  Padahal ada bangsa-bangsa lain, yang jauh lebih baik, tampan, rendah hati daripada Israel, tetapi hanya Israel yang dikenal.

Ketika Allah mencintai kita, maka Allah memilih berelasi dengan kita. Bahkan menerima kita apa adanya dengan segala kerapuhan, kelemahan, kehancuran, keterlukaan, ketakutan, kekuatiran, dan keberdosaan. Bukankah ketika kita menikah, kita akan menerima pasangan kita dengan segala kelemahan dan kelebihannya?

Lebih mengejutkan lagi Allah berkata “tetapi aku membenci Esau” (Maleakhi 1:3), kata membenci di sini menunjukkan bahwa Allah tidak menganggap Esau. Ada ungkapan bilang cinta itu tak berlogika. Memang benar demikian! Allah memilih Yakub dan tak menghiraukan Esau!

Pernah nggak kamu pe-de-ka-te dengan dua orang? Kalau kamu cinta si A maka kamu pasti melepaskan si B. Tak mungkin bukan kau menggenggam keduanya? Demikianlah apa yang Allah kerjakan. Demi Yakub! Allah menyingkirkan Esau.

Ketika Allah mencintai kita, maka Allah tidak mengganggap yang lain. Ada jutaan orang berdosa di luar sana yang begitu kehilangan pengharapan. Hidup yang cuma sekali ini dibiarkan tersia-sia. Aku percaya Allah mengasihi dunia ini, Yesus mati sebagai juruselamat seluruh dunia. Tetapi relasi dengan Allah sungguh hanya untuk sebagian kecil orang, dan aku begitu bersyukur aku ada di dalamnya.



Dikasihi Tuhan itu berarti masuk dalam relasi dengan Tuhan.
Memercayakan diri kita pada-Nya, itulah keintiman.


Makasih Tuhan karena mencintaiku. Memilihku dengan segala kekuranganku. Memilih berelasi denganku meskipun aku sering tidak setia dan mendua.

Aku mau makin mengasihi-Mu. Aku mau jadi pacar-Mu yang makin hari makin tahu isi hati-Mu. Menggandeng tangan-Mu dengan erat. Meluangkan waktu untuk berbicara dan mendengarkan suara-Mu. Menyenangkan-Mu dengan pemberianku, karyaku, ucapanku, dan laku tandukku. Amin.

\
Salib Kristus adalah tanda paling ultim kasih Allah yang memilih kita


*Dalam masa persiapan khotbah 22 Desember, Kebaktian gabungan KPR GKI Pregbund: ucapan syukur atas terlaksananya Youth Festival, dengan tema Ketika Aku Dicintai

Memiliki Kehilangan


Wolstertoff pernah menulis bahwa hidup adalah rangkaian kehilangan. Dan memang demikianlah adanya. Kehilangan adalah masa ketika sesuatu yang pernah ada, diambil, direbut, direngkuh, dicuri, dari gengggaman tangan kita.  Kau boleh lulus sarjana psikologi atau pastoral konseling, tetapi menghadapi seseorang yang sedang mengalami masa kehilangan akan menerbitkan kesulitan-kesulitan tersendiri.


Suatu ketika komunitasku kehilangan seorang gadis muda berumur 19 tahun. Cantik. Rupawan. Masa depannya cemerlang dan gemilang. Tetapi ia direnggut oleh Sang Embuh. Pergilah ia. Kisah kasih berkemelut di sekeliling kematiannya. Kami menangis jutaan detik. Orang-orang berubah jadi zombie, mayat hidup yang berjalan dalam kepedihan dan duka. Merasa tak mengerti dan bertanya-tanya tentang keadilan pun ketidakdilan. Itulah kehilangan. Menghancurkan.


Aku pernah mengenal seseorang yang begitu mencinta sang kekasih. Lelaki gagah perkasa dewasa dan satria. Rela mengorbankan segala sesuatu demi panggilan hidup. Tetapi gara-gara itu, ia kehilangan kekasih yang telah berjalan dengannya selama 7 tahun. Sang perempuan meninggalkannya pergi ke benua biru dengan kalimat menyakitkan: kau hanya memikirkan dirimu sendiri!  Puluhan bulan kemudian mereka bernostalgia kembali, dan lelaki ini menerima pukulan2 menyakitkan tetapi penuh rindu di dadanya. Sang perempuan masih mencintainya dengan begitu dalam. Namun lelaki itu mencoba untuk berdiri walau rapuh: ia telah kehilangan wanita itu. Hubungan mereka telah berakhir. Lelaki itu kehilangan. Dan kehilangan itu merobek sukmanya begitu dalam. Butuh waktu sekian juta megasekon untuk memulihkan keramahtamahan hatinya untuk menerima perempuan yang lain. Itulah kehilangan. Melukai.


Pernah kuberkunjung dalam sebuah upacara duka. Bayi yang masih kecil dan belum beranjak untuk berjalan sudah dicuri oleh sang kehidupan. Ibunya yang tentu mengandung dengan susah derita menangis penuh ronta. Tak henti-henti air mata berderai mendedahkan pahit yang tak tersembuhkan. Itulah kehilangan. Air mata lah sahabatnya.


Kau bisa jadi sarjana matematika atau teknik kimia. Kau bisa jadi ahli geometri atau biotek. Kau boleh jadi sarjana terbaik ilmu komunikasi juga manajemen bisnis. Kau juga bisa saja ambil master dalam dua jenis ilmu yang berbeda. Kau boleh jadi filsuf handal, segala teori kau hapal. Tetapi menghadapi kehilangan, kau hanya akan jadi semut kecil yang terlindas kaki gajah. Itulah kehilangan. Kita jadi kalah karenanya.

Adakah cara untuk melawannya?

Hmmm. . perlukah melawannya?

Kehilangan adalah ketika kita merasa bahwa kita pernah memiliki sesuatu. Ah bagaimana, kalau, kehilanganlah yang kita miliki. Jadi jangan lawan kehilangan tapi milikilah kehilangan. Jadikan ia sahabat baik yang rela ada setiap waktu dalam hidupmu bermain-main denganmu. Jadikan ia kekasih yang membuatmu bertumbuh makin murni. Jadikan ia orangtua yang menegurmu untuk menjadi dewasa. Jadikan ia guru yang mengajarmu tentang arti dan makna. Jadikan ia bunga-bunga kapas dan engkaulah dandelion yang sedang tegar bertahan menjalani siklus kehidupan. Maka ia boleh terus ada, tetapi kau memilikinya, dengan cara yang berbeda.

Jika kau memilikinya. Maka kau akan berdansa bersamanya dengan gerak gelisah. Jika kau memilikinya maka kau akan menari dengan gemulai rancak keterkejutan. Jika kau memilikinya maka kau akan bernyanyi dalam suara nyaring walau serak memahitkan.  Jika kau memilikinya doa kau panjatkan walau iman seolah kabur ditelan kabut nestapa.

Aku pernah kehilangan.

Seorang ayah. Ada beberapa teman baik yang pergi karena harus menjalani hidup mereka. Pernah –orang-orang yang aku rasa sebagai sahabat tapi berkhianat. Pun eros yang harus dilepaskan karena hidup yang tak berpihak pada situasi hati. Ya. Aku juga sering kehilangan.

Kini pun aku terancam kehilangan. Seorang yang sedarah dan pribadi paling penting dalam hidupku sedang bertarung dengan virus ganas. Yang kapanpun dapat membunuh dan mengakhiri nyawanya. Ratusan juta dan obat telah diinfeksikan, entah sampai kapan sanggup menahan untukku tak kehilangan.

Tapi aku mau belajar untuk memiliki kehilangan. Karena hanya di dalam kehilangan aku akan mendapatkan. Karena hanya dengan tangan kehilangan kita bisa bebas mendekap. Karena dengan memiliki kehilanganlah aku akan belajar banyak hal.



Ad Majorem Dei Gloriam.

12 Oktober 2013. Sebuah subuh. Pregolan Bunder 36. Tak bisa tidur sepanjang malam.


Untukmu, untuknya, untuk dia, untuk mereka yang mengajariku arti kehilangan